Kenapa harus menulis?

Standard

 Sumber tulisan :

kenapa-harus-menulis

>~ikatlah ilmu dengan menulis<~

Selalu saja kata-kata tersebut ampuh untuk mendongkrak agar aku semangat lagi untuk menulis. Sebenarnya bukan perkara perlu atau tidak perlu namun sesungguhnya menulis adalah sesuatu yang wajib dilakukan. Bagaimana tidak, seperti kutipan diatas ~ikatlah ilmu dengan menulis~ sesungguhnya ilmu akan hilang dan terbang diterpa angin jika tidak ada pengikatnya. Ilmu itu ibarat balon udara. balon sebagai ilmu, udara hidrogen sebagai waktu dan benang sebagai tulisan untuk mengikat balon udara tersebut. Tampak jelas bahwa tanpa adanya benang sebagai pengikat, balon tersebut pastilah akan terbang. Begitu juga dengan ilmu akan tertiup angin waktu jika tanpa ada pengikatnya yakni tulisan.

Seorang yang punya banyak ilmu, wawasan serta ide dan gagasan yang cemerlang dan gila hanya akan dikenal pada jamannya. Ilmu, wawasan serta ide tersebut hanya akan bermanfaat ketika dia sosialisasikan dan bagikan kepada orang lain saat itu juga. Namun tak menutup kemungkinan, bahkan bisa dipastikan ilmu, serta ide-idenya tersebut akan menguap selewat waktu berlalu. Orang-orang besar jaman dahulu seperti, imam bukhari, imam safi’ie, serta para ulama besar lainnya. Atau tengoklah para orang besar di indonesia seperti buya hamka, taufik ismail, soe hok gie, dll. Ataupun para ilmuwan seperti einstein, newton dan lainnya. Pun demikian selalu menulis dan menulis untuk mengikat ilmu-ilmunya tersebut. hingga walaupun tahun telah berlalu dan abad pun telah berganti. Bahkan beliau-beliau telah wafat berabad-abad lamanya tetap dapat kita cium harum namanya juga dapat kita berenang, selami dan reguk dalamnya lautan ilmu didalam kitab-kitabnya. Begitulah pentingnya ilmu untuk diikat dengan tulisan, ilmu tanpa diikat hanya akan menjadi sejarah yang hilang ditelan gelombang waktu bagai debu diterpa angin, terbang dan menghilang.berbeda jika kita ikat ilmu dengan tulisan. Ilmu tersebut akan tetap mengabadi. Karena hal itu jugalah maka selanjutnya dapat aku katakan bahwa dengan menulis akan dapat:

1.~ memperpanjang umur

Bukan hanya dengan silaturahmi saja yang dapat memperpanjang umur namun juga dapat dengan menulis. Kita lihat seandainya orang-orang besar, ilmuwan dsb tidak menulis dan menuangkan isi otaknya maka masihkah kita akan tetap mengenal mereka?? Tentu tidak bukan. Jelas sekali bahwa yang saya maksud dalam memperpanjang umur disini bukan dalam arti yang sebenarnya. Namun lebih pada bagaimana kita tetap akan dikenal jauh melewati dimensi waktu yang ada bahkan walaupun seandanya tubuh kita telah hancur dalam dinginnya tanah. Kita tetap akan dikenal lewat tulisan-tulisan kita, tentang ilmu, ide-ide serta gagasan kita yang akan mengabadi lewat goresan tangan yakni tulisan. Walaupun kita telah meninggal namun kita masih dapat menginspirasi dan berbagi ilmu dengan orang lain lewat tulisan yang selanjutnya pula dapat kukatakan bahwa dengan menulis adalah

2. ~sebagai ladang pahala

Ada 3 hal yang dapat menolong kita sebagai pahala yang tetap mengalir walau kita telah tiada yakni doa anak sholeh, amal jariyah serta ilmu yang bermanfaat. Begitulah kira-kira inti sabda Nabi SAW. Diantara ketiga hal tersebut salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Inti point dari hal ini adalah bagaimana ilmu yang kita punya dapat diamalkan serta disampaikan pada kepada orang lain sehingga orang tersebut akan melakukan hal yang sama yakni mengamalkan ilmu tersebut serta menyampaikan dan menyebarkannya (atau istilah lainnya mendakwahkan) kepada orang lain. Hingga tersebarlah ilmu tersebut. disinilah letak pahala yang akan kita dapatkan, bahkan jika kita sudah tiada, ilmu yang pernah kita sampaikan juga disampaikan dan diamalkan oleh orang lain begitu seterusnya maka insyaAllah pahala untuk kitapun akan terus mengalir.

Sesungguhnya berdakwah (menyampaikan) itu tidak hanya lewat lisan namun juga lewat tulisan. Karena bisa dikatakan memang manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Sekarang diberitau mungkin besok ilmu tersebut sudah menguap dan lupa. Berbeda jika kita menuliskannya maka ketika kita lupa, besok-besok masih dapat dibaca lagi dan lagi. Begitupun berdakwah lewat tulisan itu pun sangat penting dirasa karena ilmu yang telah diikat akan dapat mengabadi serta dapat dibaca siapa saja dan kapan saja. Sehingga pahala itu akan tetap mengalir walaupun kita telah tiada. insyaAllah.

3, ~berwawasan dan menambah ilmu

::Penulis yang baik merupakan pembaca yang baik::

ketika semakin banyak kita menggores pena untuk menulis maka bisa dipastikan bahwa hal tersebut berbanding lurus dengan kemampuan membaca kita. Semakin banyak menulis maka semakin banyak pula yang kita baca. Membaca merupakan tabungan serta nutrisi otak sebagai bekal dan inspirasi untuk tulisan-tulisan kita. Dan ketika semakin banyak yang kita baca maka bertambah pula wawasan dan ilmu yang didapat serta hal itu dapat mengasah kekritisan dan ketajaman berfikir sehingga memudahkan kita untuk menulis terutama tulisan yang bukan sekedar tulisan.

4. ~mengembalikan kemuliaan islam

Satu ungkapan yang selalu kuingat dan sangat menginspirasi menurutku : islam pernah menjadi bangsa yang besar dan menjadi terdepan tak lain adalah karena diwarnai oleh 2 warna yakni merah dan hitam. Merah oleh darah para syuhada serta hitam tinta para ulama. Dengan tinta hitam para ulama inilah yang selanjutnya menghasilkan banyak kitab untuk kemajuan dan tersebarnya ilmu. Sehingga pada saat itu banyak sekali mencetak para ulama serta para ilmuwan muslim. Yang selanjutnya lewat merekalah peradaban emas kegemilangan islam lahir dan berkembang pesat, ilmu dan teknologi yang berkembang pesat yang bahkan di Eropa masih menjadi bangsa yang belum berkembang. Bangsa islam berkembang pesat tak hanya dalam bidang ekonomi, perluasan wilayah, sosial, kekuatan politik dunia namun juga dalam bidang ilmu teknologi dan sains serta kesehatan, begitulah seharusnya, dengan menulispun kita dapat berkontribusi untuk mengembalikan kemuliaan islam yang pada saat ini terpuruk menjadi bangsa super power seperti dahulu. Wallahu alam bishowab.

6 responses »

  1. like this mb shinta, memang benar…
    itu kan pesannya ‘Ali bin Abi Thalib ra, salah satu shahabat yg dijamin masuk surga, dan juga tdk diragukan kecerdasan serta kredibilitasnya sbg orang yg berilmu_hingga Rasul saw pun mengatakan bhw jika Rasul saw adalah sebuah kota ilmu, maka ‘Ali ra adalah pintunya…subhanallaah…
    tak berlebihan kiranya jika dinyatakan oleh Syaikh Taqiyuddin dlm Kitab Takattul bhw betapa pentingnya pembinaan itu dg tatsqif, bukan ta’lim_krn sejatinya proses halqoh telah mencakup semua itu, di mana seorang pelajar akan membaca, menuli, memahami sekaligus dpt memberi solusi permasalahan umat_subhanallaah…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s