Keluarga,Teladan Pertama Anak

Standard

Oleh : Lathifah Musa

Fathimah, balita kecil usia 2,5 tahun menggendong boneka pandanya. Sembari menggoyang-goyang si Panda seolah meninabobokannya, sesekali ia mengecup kepala bonekanya. Tampak betapa sayangnya ia pada boneka itu. Tak jauh darinya, ibunda Fathimah juga sedang menggendong bayinya, adik Fathimah yang berusia 4 bulan. Ternyata apa yang dilakukan Fathimah persis meniru ibundanya.

Dengan mengamati dan meniru, Fathimah telah belajar mencurahkan kasih sayang dari sang bunda. Tak heran, walaupun masih balita, naluri keibuannya mulai bertunas. Tidak semua anak perempuan balita seperti Fathimah. Ada yang suka mencopoti tangan dan kaki bonekanya. Ada yang menggendongnya sekedar menggantung di leher, sehingga leher boneka tercekik. Ada lagi yang gemar melempar bonekanya ke luar melalui jendela kamar. Sebagai manusia dewasa, barangkali kita hanya mengatakan: “Ah biasa, perilaku anak-anak”. Tanpa kita menyadari, bahwa sesungguhnya balita-balita kecil itu sedang tumbuh, berkembang dan juga belajar.

Anak belajar dengan melihat, mendengar, mengamati kemudian meniru. Jangan dikira, makhluk kecil mungil itu tidak peduli pada lingkung-annya. Sesungguhnya mereka memiliki daya rekam yang luar biasa. Tanpa kita sadar, mereka bisa menjadi peniru-peniru ulung. Tak heran ketika kita meminta Mikko (3,5 th) untuk menyanyi, dengan fasihnya ia melantunkan “Mbah Dukun”-nya Alam, dengan lenggak-lenggoknya yang tak kalah dengan aslinya. Atau Rara (3 th) yang masih cedal menyanyi lagu “cucakrowo”. Kontan membuat jengah dan merah telinga orang dewasa, karena baitnya yang cukup “ngeres” dan “saru”.

Tapi siapa yang bisa disalahkan? Balita-balita ini sudah terbiasa dengan lantunan lagu-lagu itu di rumahnya. Bahkan orang tua mereka sendiri sering melagukannya. Lebih parah lagi mereka justru tertawa, bertepuk dan bersorak melihat balitanya yang mungil bisa menirukannya dengan lancar dan fasih.

Sumber Informasi Pertama

Keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh anak. Ibu dan ayah adalah manusia-manusia dewasa kepada siapa anak belajar kata-kata yang pertama. Khususnya kepada Ibu, anak belajar kasih sayang. Kepada ayah, anak belajar tanggung jawab dan kepemimpinan. Bagaimana sikap ibu dan ayah kepada anak, sikap ayah kepada ibu dan sebaliknya ibu kepada ayah, adalah pola interaksi yang pertama dipelajari anak.

Dengan telinga dan matanya, anak belajar menyerap fakta dan informasi. Semakin banyak yang terekam, itulah yang paling mudah ditirunya. Bagaikan kertas putih bersih, orang tuanya yang akan memberinya coretan dan warna yang pertama.

Betapapun sederhananya pola pendidikan dalam sebuah keluarga, tetap-lah sangat berpengaruh pada pembentukan kepribadian anak. Keluarga merupakan awal bagi pertumbuhan pola pikir dan perasaan anak. Di dalam Islam, sistem pendidikan dalam keluarga menjadi penentu masa depan anak. Apakah anak akan menjadi shaleh, baik, santun, penyayang atau kurang ajar, kasar, bengis, semuanya tergantung pada tangan-tangan pertama yang mendidiknya, yakni orang tuanya.

Dalam sebuah hadits, menurut kesaksian Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah (mentauhidkan Allah), kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau seorang Nasrani atau seorang Majusi.” (HR. Muslim).
Hadits ini menunjukkan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Yang dimaksud adalah anak-anak yang baru dilahirkan memiliki fitrah yang bersih dan suci, yaitu beriman kepada Allah SWT. Orang tua memiliki peran dalam mengarahkan fitrah anak. Apakah akan tetap bersih, murni dan bersinar? Ataukah cahayanya akan memudar, bahkan hilang.

Ibu Pendidik Utama

Pendidik yang paling berkompeten dalam keluarga tentunya adalah orang tua (ayah dan ibu). Secara khusus, dalam sebuah keluarga, ibu adalah sosok yang memiliki peran yang sangat besar dan penting dalam proses tumbuh kembang anak. Kepada ibu, anak pertama kali berinteraksi. Ibulah yang paling dekat dengan anaknya. Dalam kandungan ibu, anak mendapatkan kasih sayang sehingga ia dapat tumbuh dan berkembang selama kurang lebih 9 bulan, bukan waktu yang singkat. Kesadaran, kerelaan, ketelatenan dan pengorbanan seorang ibu pada masa ini sangat diperlukan. Keikhlasan seorang ibu menjalani peran ini sangat menentukan lestarinya generasi manusia.

Sangatlah tepat kiranya bila Islam menempatkan “peran ibu” sebagai tugas pokok kaum perempuan. Untuk menjamin pelaksanaan ini, Islam menetapkan beberapa hukum khusus bagi perempuan, baik berupa hak ataupun kewajiban. Dengan pengaturan ini, ada jaminan bagi proses tumbuh kembang anak, sehingga menjadi manusia dewasa yang terarah.

Kemuliaan dan keagungan peran ini tergambar dalam sabda Nabi SAW: “Surga berada di bawah telapak kaki ibu” (THR Ahmad). Hadits ini mengambarkan betapa saleh dan tidaknya seorang anak tergantung bagaimana sang ibu mendidiknya. Kalau ibu memberikan pendidikan dasar yang baik, maka kemungkinan besar anak akan tumbuh menjadi manusia yang shaleh. Sebaliknya bila ibu sampai keliru dalam mendidiknya, maka bisa jadi dia tumbuh dewasa jauh dari arahan Islam.

Figur Ibu

Pentingnya figur seorang ibu atau orang tua yang baik, menunjukkan pentingnya sebuah keluarga sebagai lembaga pendidikan. Untuk itu ayah sebagai kepala keluarga berperan besar dalam mewujudkan figur ibu yang baik di lingkungan keluarganya.

Sejak awal, seorang calon ayah dianjurkan memilih calon ibu bagi anak-anaknya dari kalangan perempuan yang penyayang. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Hendaknya kamu menikahi perempuan yang subur dan penyayang, sebab denganmu umatku menjadi lebih banyak daripada umat para nabi yang lain di Hari Kiamat.” (THR. Ahmad dan Abu Hakim).

Seorang ibu yang penyayang tidak akan pernah rela untuk menelantarkan anaknya yang masih kecil demi karir. Ibu yang penyayang juga tidak akan mengorbankan hak anaknya mendapatkan ASI (Air Susu Ibu). Ibu yang penyayang ini tidak akan mengorbankan hak anaknya mendapatkan pengasuhan dan pendidikan yang terbaik.
Ketika seorang anak usia TK kecil ditanya oleh gurunya, “Apakah kamu punya kaset lagu untuk menari?” Ia menjawab:”Di rumah ada kaset lagu Goyang Dombret”. Sang guru terperanjat,”Itu bukan lagu yang bagus.” Tak kalah cepat si anak menukas: “Ibuku suka lagu itu, katanya itu lagu bagus.” Bisa dibayangkan betapa mengejutkan bila ternyata anak-anak kecil itu pun bisa mengatakan “goyang ngebor si Inul juga bagus”.

Kenyataannya tak sedikit orang tua yang tidak peduli sama sekali dengan perkembangan pola pikir dan kejiwaan anaknya. Keluarga yang seharusnya menjadi pelindung tumbuh kembang anak, justru menjadi tempat yang merusaknya. Padahal ibarat radar, anak akan menangkap setiap obyek yang ada di sekitarnya. Perilaku orang tua adalah hal yang pertama ditangkapnya.

Bagi seorang anak, ibu memiliki kesan pertama yang begitu besar. Untuk itu seorang ibu memang harus berperilaku dan berkepribadian tinggi. Supaya kesan pertama yang tertangkap anak adalah kesan yang baik. Kesan yang baik ini akan menjadi landasan yang kokoh bagi perkembangan kepribadian anak. Kekuatan figur ibu ini akan membuat anak mampu menyaring, apa yang boleh diambil dan apa yang tidak boleh dari lingkungannya. Anak akan menjadikan apa yang diterimanya dari sang ibu sebagai standar nilai. Anak akan lebih percaya kepada ibunya daripada orang lain, apalagi terhadap orang-orang yang kepribadiannya berlawanan dengan sang ibu. Dengan begitu anak akan menjadi milik ibunya. Ia tidak akan patuh begitu saja pada figur-figur di layar kaca yang gaya hidup dan perilakunya berlawanan dengan Islam.

Keteladanan

Karena anak banyak belajar dari contoh-contoh yang ada, maka anak membutuhkan figur-figur yang dapat dilihatnya secara langsung. Akal seorang anak belum sempurna untuk melakukan sebuah proses berpikir. Ia belum mampu menerjemahkan nilai-nilai kehidupan yang diajarkan kepadanya. Tepatlah kiranya seorang pakar ilmu pendidikan yang mengatakan bahwa keteladanan adalah media pendidikan yang paling efektif dan berpengaruh dalam menyampaikan tata nilai kehidupan. Dan karena keluarga adalah tempat pertama kali anak belajar hidup dan mengerti nilai-nilai kehidupan, maka orang tualah yang harus menjadi figur pertama keteladanan anak.

 Sumber : Majalah Female Readers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s