Jepang Krisis Demografi?

Standard

Oleh : Meinilwita Yulia  (Kyoto, Jepang)

Mataku tak berkedip dari slide yang ditampilkan oleh Yasuyuki Shintani san, wakil dari Energy Solutions Development Center, Panasonic corporation. Tiap Selasa memang ada kuliah yang disampaikan oleh orang perusahaan yang sengaja diundang oleh Agricultural Process Engineering Laboratory. Tema yang disampaikan cukup menarik, yaitu tentang Energy Solutions Ideas. Di saat sang sensei (panggilan untuk dosen) dengan semangat bicara tentang Renewable Energy, pikiranku malah melayang jauh ke nenek-nenek yang sering kujumpai di dekat apatoku.

Sebetulnya dari awal aku sudah mencoba menyimak materi kuliah, tapi di saat sensei menyampaikan bahwa Energy demand in developing economies are increasing at double rate than that of developed economies, aku langsung kaget. Bukan keinginan untuk mencari sumber energi alternatif yang membuatku tersentak, atau tugas yang pasti menyusul yang membuat nadiku berdenyut lebih cepat, tapi justru penjelasan sensei yang mengungkapkan bahwa populasi yang cenderung meningkat di negara berkembang menjadikan kebutuhan energinya pun meningkat, salah satunya adalah Indonesia. Sensei dengan raut muka serius juga berujar bahwa populasi rakyat Jepang malah menurun. Di saat itulah aku mulai tak bisa konsentrasi. “Bagaimana bisa?, apakah orang Jepang tak suka menikah? Apakah mereka tak suka punya anak?”, rentetan pertanyaan muncul di benakku.

Berdasarkan analisa dan laporan pemerintah Jepang, penduduk Jepang diperkirakan akan turun menjadi sepertiga dari jumlah sekarang selama satu abad mendatang, dengan jumlah wanita rata-rata hidup sampai usia 90 tahun dalam waktu 50 tahun. Populasi penduduk diperkirakan akan turun dari jumlah sekarang 127.7 juta jiwa menjadi 86.7 juta menjelang tahun 2060 dan turun lagi menjadi 42.9 juta menjelang 2110 “jika kondisi tetap tak berubah,” tegas kementerian kesejahteraan dan kesehatan dalam laporan tadi. Gempa dan tsunami tahun lalu di Jepang timur laut yang menyebabkan lebih dari 19000 orang tewas atau hilang, telah menggangu masa harapan hidup rata-rata, dan angka itu diperkirakan terus mengalami penurunan.

Masa harapan hidup Jepang, salah satu tertinggi di dunia, diperkirakan akan naik dari 86.39 tahun pada 2010 menjadi 90.93 tahun pada 2060 buat wanita dan buat pria dari 79.64 menjadi 84.19 tahun. Populasi Jepang telah mengalami penurunan karena banyak anak muda menangguhkan berumahtangga, karena rumahtangga dianggap sebagai menggangu gaya hidup dan karir. Pertumbuhan ekonomi yang lamban juga mendorong anak muda mengurungkan niat punya anak.( http://www.analisadaily.com).

Fakta itu terkait erat dengan pengalaman lain yang pernah kualami. Waktu itu beberapa hari menjelang kodomo no hi (hari anak), dua orang wnita paruh baya datang ke apatoku. Mereka bermaksud mengundang aku dan anak-anak untuk memeriahkan hari anak tersebut. Tanpa pikir panjang langsung kusetujui ajakan mereka. Aku sudah membayangkan anak-anak akan senang bermain dengan teman-teman sebaya mereka. Di sisi lain aku pun bermaksud bersosialisasi dengan ibu-ibu Jepang yang lain.

Anak-anakku pun tak sabar menghadiri acara kodomo no hi tersebut. Tak terasa waktu yang dinanti anak-anak pun tiba. Mereka berangkat dengan penuh semangat. Tak kusangka ternyata yang hadir di acara itu hanyalah wanita-wanita paruh baya, nenek-nenek dan kakek-kakek, tak seorang pun anak-anak yang datang, kecuali ketiga anakku. Dengan kecewa anakku memintaku agar segera pulang, tak sabar dengan acara yang membosankanitu. “Kemana ya anak-anak Jepangnya? Kenapa yang datang cuma anakku?”, aku sempat tertegun sejenak.

Ketika tahun lalu aku tinggal di apato yang lama, tetangga-tetanggaku pun cuma nenek-nenek yang sudah bungkuk, tak punya anak dan cucu. Sempat aku berbincang dengan salah seorang nenek tua di samping apato, katanya dia sekarang sudah sakit-sakitan, tak ada anak yang merawatnya, mungkin lebih baik dia meninggal saja. Nenek itu bercerita penuh duka di raut mukanya yang keriput, matanya pun terlihat berkaca-kaca. “Anak nenek kemana?”, tanyaku penuh selidik. Dia pun melanjutkan ceritanya bahwa dia tak punya anak dan suaminya pun sudah lama meninggal dunia.

Tak bisa dipungkiri bahwa memiliki anak bagi orang Jepang memang merupakan beban yang sangat berat. Aku sering ditanya sama orang Jepang, apakah aku tidak lelah punya anak tiga? Bagi mereka memang anak dapat mengganggu aktivitas dan karir, ditambah lagi dengan beban ekonomi untuk membiayai hidup dan sekolah anak-anak yang berat. Banyak sekali pertimbangan yang mereka lakukan sebelum memiliki anak, sehingga akhirnya wanita Jepang banyak yang enggan punya anak. Kalaupun punya anak, paling banyak dua atau tiga orang, itupun sudah sangat merepotkan mereka.

Hal ini bertolak belakang dengan mertuaku yang merasa bahagia dengan selusin anak dan orang tuaku yang sangat menikmati membesarkan tujuh orang anak. Wanita Jepang yang punya anak sering berujar taiheng des nee (berat ya) atau kaji ga isogashi des (pekerjaan rumah tangga itu sibuk). Aku selalu bergumam dalam hati, wajar saja kalau jadi ibu lelah dan sibuk, tapi jika kubayangkan pahalanya yang setinggi gunung, rasa lelahku sirna seketika.

Sebagian orang Jepang memang menganggap anak hanya sebagai batu sandungan yang dapat menyita waktu dan pikiran. Kalau punya anak, mereka tidak bias bebas jalan-jalan, bersenang-senang, dan menikmati hidup. Dalam pandangan mereka hidup ini memang hanya untuk bersenang senang semata. Semua yang menyenangkan diambil dan dilakukan. Tolak ukur perbuatan mereka hanyalah materi dan kesenangan hidup duniawi saja. Mereka tak punya tujuan hidup yang jelas. Sehingga wajar jika angka bunuh diri pun terbilang tinggi di Jepang. Ketika mereka merasa gagal, malu, atau ditinggal orang yang mereka sayangi, mereka mudah putus asa dan akhirnya bunuh diri.

Jepang adalah salah satu negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia. Pada 2009, lebih dari 30.000 orang bunuh diri. Alasan untuk bunuh diri di Jepang antara lain karena pengangguran, tekanan sosial dan depresi. 70% dari pelaku bunuh diri adalah pria. Bunuh diri adalah penyebab kematian pertama untuk umur dibawah 30 tahun. Lompat di depan kereta menjadi cara populer untuk bunuh diri di Jepang. Biaya kerusakan dan kecelakaan kereta ditanggung keluarga korban. Hotline bunuh diri di jepang mulai menerima lebih dari 1.300 laporan per minggu. (http://terselubung.blogspot.jp)

Harusnyalah orang Jepang tidak perlu khawatir dengan penurunan populasi andai saja mereka memahami anak sebagai asset yang paling berharga sebagaimana Islam memandangnya. Anak-anak ibaratnya adalah perhiasan dunia dan titipan dari Allah SWT. Anak-anak akan berbuah syurga jika sebagai orang tua kita mampu mendidiknya menjadi anak yang sholeh.

Anak akan menjadi potensi yang sangat besar bagi orang tuanya untuk meraih syurga dan pahala yang berlipat ganda, mulai dari pahala melahirkan, menyusui, merawat, mendidik, dan menafkahinya. Jika kelak menjadi anak yang sholeh, maka doa-doanya merupakan amal jariyah yang pahalanya tak kan pernah putus mengalir kepada kita walaupun kita telah tiada. Berbahagialah dan bersyukurlah kepada Allah SWT sebagai orang tua karena tak semua orang berkesempatan untuk memiliki anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s