Tanggapan Tulisan “Hipokrisi Gerakan Dakwah Hizbut Tahrir Indonesia”

Standard

Oleh : Riyan Zahaf

Sumber tulisan “Hipokrisi Gerakan Dakwah Hizbut Tahrir Indonesia”:

http://www.facebook.com/profile.php?id=1022918172#!/notes/sigit-kamseno/hipokrisi-gerakan-dakwah-hizbut-tahrir-indonesia/475746413110

 ===================================================================================

Dengan membaca beberapa pandangan, comment dan posting tulisan yang terkait dari sebagian kaum muslimin, Penulis memandang perlu memberikan sedikit tanggapan. Apa yang penulis sampaikan adalah terlepas dari keputusan HT secara resmi, namun hanya atas nama pribadi penulis saja.

I) Menempatkan Istilah

Sebagian kaum muslimin dengan secara mudah menuduh inkonsistensi, atau hipokrit terhadap apa yang diambil oleh HT terhadap masalah ini. Mungkin, ada baiknya kita memahami bagaimana pandangan syara’ tentang kedua istilah ini, agar kita dapat menempatkannya sebagaimana yang Islam telah menetapkannya yang merupakan standar yang jernih, yang tidak bergantung pada perubahan masa, waktu dan tempat.

a) Kata InKonsistensi

Penulis, memandang bahwa “Inkonsistensi” adalah padanan dari kata “tidak istiqomah”. Hal ini berarti, sifat yang dimiliki oleh kata “Inkonsistensi” adalah sifat yang bertentangan dengan sifat “Istiqomah”.

Di dalam Syarh Hadist Arbain an-Nawawi, dikemukakan:

————–

Dari Abu Amr atau Abu Amrah Sufyan bin Abdillah rodhiallohu Anhu, aku berkata: wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ajarkanlah kepadaku dalam (agama) islam ini ucapan (yang mencakup semua perkara islam sehingga) aku tidak (perlu lagi) bertanya tentang hal itu kepada orang lain selain engkau, (maka) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ucapkanlah: Aku beriman kepada Allah? kemudian beristiqomahlah dalam ucapan itu?(HR. Muslim, no. hadits: 38)

Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam “Berimanlah kepada Allah Subhana wa Ta’ala dan Istiqomahlah” maksudnya sebagaimana telah diperintahkan dan dilarang. Adapun kata al-Istiqomah artinya berkomitmen di dalan kebaikan dengan melakukan seluruh kewajiban dan meninggalkan seluruh larangan. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan

kepadamu dan (juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”[QS:11.112]

————–

Dengan demikian, di dalam konteks syara’ dan urusan dakwah, jika seseorang atau gerakan Islam dikatakan inkonsistensi, berarti dia menyatakan bahwa seseorang atau gerakan Islam tersebut telah melanggar ketetapan Allah dan Rasul-Nya, bukan aturan manusia (hukum positiv).

Adakah, dalam hal pendaftaran administrasi ini di dalamnya HT menyetujui yang mungkar?? Yang penulis ketahui adalah tidak ada.

b) Kata Hipokrit (munafik)

Di dalam Sunnah, dikemukakan tanda-tanda orang munafik, yaitu:

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga, yaitu bila berbicara dusta, bila berjanji tidak ditepati, dan bila diamanati dia berkhianat.”(HR. Muslim)

Terlebih lagi, karakter munafik yang lain adalah ber-“tahakkum illa ath-thaghut” (berhukum kepada thaghut) yang ditentang oleh Syara’, melalui ayat-Nya:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah

beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.[QS:4.60]

“Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.”[QS:4.61]

Berbeda dengan orang beriman, orang Munafik senantiasa menolak untuk mengikuti Aturan Allah dan Rasul-Nya. Di dalam terjemahan Tafsir Imam ibnu katsir rahimahullah diungkapkan:

——————

“Menurut pendapat yang lain, ayat ini diturunkan berkenaan dengan sejumlah orang munafik dari kalangan orang-orang yang hanya lahiriahnya saja Islam, lalu mereka bermaksud mencari keputusan perkara kepada para hakim Jahiliah. Dan menurut pendapat yang lainnya, ayat ini diturunkan bukan karena penyebab tersebut.

Pada kesimpulannya makna ayat lebih umum daripada semuanya itu, yang garis besarnya mengatakan celaan terhadap orang yang menyimpang dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, lalu ia menyerahkan keputusan perkaranya kepada selain Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, yaitu kepada kebatilan. Hal inilah yang dimaksud dengan istilah

thagut dalam ayat ini.

[Terjemahan Tafsir Imam Ibnu Katsir rahimahullah]

——————

Alhamdulillah, secara resmi, tidak ada para syabab yang terlibat kedalam sistem thaghut, tidak ada yang menjadi tentaranya, dan tetap sungguh-sungguh mendakwahi diri, keluarga, masyarakat dan penguasa untuk hijrah meninggalkan sistem thaghut kepada sistem Islam, khilafah al rasyidah ala al minhajun-nubuwwah. Mudah-mudahan, dengan cara seperti ini, HT akan bersih dari ciri dan sifat kemunafikkan.

II) Seputar Pendaftaran Administrasi

Berbagai isu yang berkembang seputar pendaftaran administrasi ini, kurang disikapi secara adil oleh kaum muslimin yang berbeda harokah dengan HT. Semestinya, mereka tidak hanya menyebar-luaskan surat Izin tersebut tanpa menyampaikan klarifikasi langsung dari syabab HT, atau mengetahui apa yang tercantum di dalam keputusan resmi HTI. Semestinya, jika mereka berbuat adil, maka mereka harusnya menanyakan kepada perwakilan HT secara resmi, sebelum langsung menjustifikasi bahwa HT telah meminta perlindungan kepada thaghut.

Yang penulis ketahui, bahwa persyaratan administrasi ini tidaklah strictly limited to organisasi yang menta’ati penuh pancasila dan UUD 45. Di dalamnya, tidak ada persyaratan yang secara pasti bertentangan dengan syara’ sekalipun UU Ormas telah ada. Hal ini, berbeda dengan masa rezim Suharto yang memaksakan semua ormas dan orsospol harus mengadopsi asas Tunggal untuk bisa diakui secara resmi oleh Pemerintah. Karena itu, atas Izin Allah Subhana wa Ta’ala, surat itu bisa keluar dimana saat mendapatkannya, HT tidak harus menyimpangkan atau mengkompromikan mabda dan thariqoh yang telah digariskan oleh pendahulunya. Hal itu dibuktikan sebagai berikut:

a) Penjelasan dari Ustadz

Alhamdulillah, kami mendapatkan penjelasan bahwa para syabab tidak diperkenankan memberi penjelasan lain, termasuk saat menjelaskan kepada penguasa tentang HT, diluar dari apa yang dibahas di dalam kitab Ta’arif HT. Jadi, HT tidak menutup-nutup atau berbohong atau ber-Taqiyyah mengenai apa dan bagaimana HT, dan apa yang diperjuangkan oleh HT, yaitu :

—————-

Mukaddimah

Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik yang berlandaskan Islam. Politik merupakan kegiatannya dan Islam adalah mabda (ideologi)-nya. Hizbut Tahrir melakukan aktivitas politiknya di tengah-tengah umat dan bekerja sama dengan mereka. Aktivitas politik Hizbut Tahrir ini dimaksudkan untuk menjadikan Islam sebagai agenda utama permasalahan umat serta membimbing mereka untuk mendirikan kembali sistem khilafah dan menegakkan hukum berdasarkan wahyu yang telah diturunkan Allah ke dalam realitas kehidupan ini……

Tujuan Hizbut Tahrir

Hizbut Tahrir memiliki dua tujuan: (1) melangsungkan kehidupan Islam; (2) mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Tujuan ini berarti mengajak umat Islam agar kembali hidup secara Islami di dâr al-Islam dan di dalam lingkungan masyarakat Islam. Tujuan ini berarti pula menjadikan seluruh aktivitas kehidupan diatur sesuai dengan hukum-hukum syariat serta menjadikan seluruh pandangan hidup dilandaskan pada standar halal dan haram di bawah naungan dawlah Islam. Dawlah ini adalah dawlah-khilâfah yang dipimpin oleh seorang khalifah yang diangkat dan dibaiat oleh umat Islam untuk didengar dan ditaati. Khalifah yang telah diangkat berkewajiban untuk menjalankan pemerintahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya serta mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

[Ta’rif HT]

—————-

b)Pengakuan DEPDAGRI Akan Apa yag Di Perjuangkan HT

Alhamdulillah, penulis mengetahui bahwa HT benar-benar mengutarakan dengan sesungguhnya fikrah dan thariqoh yang didakwahkannya, tanpa sedikitpun merasa ragu dan takut untuk menyampaikan. Hal ini sejalan dengan apa yang difirmankan Allah Subhana wa ta’ala di dalam:

… وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

…dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.

[QS:2.42]

Al Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan:

—————-

Sedangkan mengenai firman-Nya:

( وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ )

“dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.”

Muhammad bin ishak meriwayatkan dari Muhammad bin Abu Muhammad, dari ‘Ikrimah atau Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu, ia mengatakan: “Artinya, janganlah kalian menyembunyikan pengetahuan yang kalian miliki mengenai kebenaran Rasul-Ku dan juga apa yang dibawanya, sedangkan kalian mendapatkannya tertulis dalam Kitab-kitab yang berada di tangan kalian.” Boleh juga, ayat tersebut berarti: “Sedangkan kalian mengetahui bahwa dalam tindakan menyembunyikan pengetahuan tersebut mengandung bahaya yang sangat besar bagi manusia, yaitu tersesatnya mereka dari petunjuk yang dapat menjerumuskan mereka ke Neraka jika mereka benar-benar mengikuti kebathilan yang kalian perlihatkan kepada mereka, yang dicampuradukkan dengan kebenaran dengan tujuan agar kalian dapat dengan mudah menyebarluaskannya ke tengah-tengah mereka. Al-Kitman artinya menyembunyikan, lawan kata menjelaskan dan menerangkan.”

[Terjemahan Tafsir Imam Ibnu Katsir Juz I]

——————

Alhamdulillah, HT di dalam pernyataan resminya tidak mengandung ungkapan politis yang menutupi hal yang sesungguhnya, seperti dengan ara berbohong, atau ber-Taqiyyah. Larangan untuk ber-Taqiyyah itu merupakan perkara yang muhtabanat.

——————

“Karena itu, mengemban dakwah Islam membutuhkan sikap terus terang dan keberanian, kekuatan dan pemikiran. Menentang setiap perkara yang bertentangan dengan ide maupun metode. Menghadapinya dengan cara menjelaskan kepalsuannya, tanpa melihat lagi hasil dan kondisi yang ada.

Mengemban dakwah Islam harus meletakkan kedaulatan secara mutlak hanya untuk mabda Islam, tanpa mempertimbangkan apakah hal itu sesuai dengan keinginan masyarakat umum atau justru bertentangan; apakah sesuai dengan adat istiadat ataukah bertolak belakang; apakah mabda itu diterima masyarakat, ditolak atau malah dimusuhi. Seorang pengemban dakwah tidak akan mencari muka dan berbasa-basi di depan masyarakat; bermuka dua atau bersikap toleran terhadap penguasa. Seorang pengemban

dakwah tidak akan mempedulikan kebiasaan dan adat istiadat masyarakat. Dia tidak akan memperhitungkan apakah dakwahnya diterima masyarakat ataukah ditolak. Dia akan tetap berpegang teguh pada prinsip mabda Islam saja, dan akan menyuarakan mabda itu saja, tanpa menghitung-hitung nilai lainnya. Tidak boleh mengatakan kepada orang-orang yang ber-mabda lain: ‘’Pegang teguhlah prinsip kalian’’, tetapi hendaknya mereka diajak -tanpa paksaan- untuk memeluk mabda Islam.”

[Nidzham al-islam, an-Nabhani rahimahullah]

——————

Dengan demikian praktek taqiyah dalam Darul Islam (negeri Islam) secara mutlak diharamkan. Negeri dimana kaum muslimin tidak tunduk secara langsung terhadap pemerintahan kufur yang diktator, serta kaum muslimin tidak dalam keadaan kalah, maka bertaqiyah adalah haram bagi kaum muslimin. Disamping itu tidak dihalalkan bagi seorang muslim menampakkan perkara yang bertolak belakang dengan apa yang ada dalam hatinya.

Adapun menampakkan rasa suka kepada penguasa, karena takut terhadap ancamannya, padahal penguasa tersebut jelas-jelas berbuat dhalim dan menerapkan sistem hukum kufur, maka perbuatan seperti ini diharamkan. Demikian pula menampakkan rasa suka kepada seorang muslim yang pandangannya bertentangan dengan anda, sementara anda menyimpan kebencian kepadanya adalah perbuatan yang juga diharamkan. Berpura-pura tidak terikat dengan sistem hukum Islam atau tidak mendukungnya di hadapan penguasa kafir, atau yang fasik dan dzalim, tidak diperbolehkan. Semua itu merupakan kemunafikan, yang diharamkan oleh syara’ bagi kaum Muslimin.

[Hadist Ash-Shiyyam, Hizbut-Tahrir]

——————

Hal diatas dibuktikan dengan penjelasan mereka (DepDagri) terhadap tujuan dakwah HT, yaitu:

“Melanjutkan kehidupan Islam dengan Menegakkan Syari’at Islam sehingga terwujud Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dalam naungan Ke-Khilafahan Islam”.

Lihat:

http://www.depdagri.go.id/media/documents/2010/03/10/f/i/file.pdf

Mudah-mudahan, Allah Subhana wa Ta’ala Menjadikan HT tetap Istiqomah, dan dijaga kejernihan Fikrah dan Thariqohnya, tetap berpegang pada Islam yang bersumber pada Al qur’an, As-Sunnah Ash-shahihah, Ijma’ Shahabat dan qiyash Syar’i, aamiien.

c)Tidak Mengikuti Aturan dan Perintah yang Mengandung kemaksiatan

Imam Ahmad rahimahullah mengatakan, telah menceritakan kepada kami AbdurRahman, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Ibnu Hurayyis, dari Imran ibnu Husain, dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa salam yang telah bersabda:

لاطا عة في معصيةاللّه

“Tidak ada keta’atan di dalam bermaksiyat kepada Allah (Subhana wa Ta’ala)..”

Sekalipun kita memandang bahwa perbuatan kemungkaran menetapkan dan melanggar Hukum Allah dilakukan oleh Penguasa dan bawahannya, tetapi tidak berarti kita harus memerangi mereka. Karena, sebagian besar dari mereka adalah Muslim yang mungkin tidak tahu, atau terpaksa melakukan kemungkaran tersebut, dan memang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mencontohkan dakwah yang tidak menggunakan kekerasan. Dakwah yang baik dan menghargai status mereka tetap perlu untuk dikedepankan, tanpa menta’ati perintah mereka yang mengandung kemungkaran. Sebagai contoh, HT membantu Polisi dalam hal ketertiban lalu lintas saat aksi mashiroh, dan menyampaikan pemberitahuan tertulis kepada Polisi sebelum aksi. Tetapi, disisi lain, HT tidak menta’ati mereka (aparat dan penguasa) yang mencegah HT untuk aksi protes terhadap kedatangan Obama:

—————

“Terbukti, aparat keamanan untuk menyenangkan Obama , menghadang aksi tiada henti Hizbut Tahrir Indonesia menolak Obama di UI kemarin (10/11). Padahal yang dilakukan Hizbut Tahrir hanyalah menyuarakan suara ‘al haq’ bahwa Obama adalah muhariban fi’lan, presiden negara penjajah AS yang harus ditolak.

Aparat keamanan dengan dalih menjalankan tugas negara, menghadang langkah massa HTI. Massa yang bergerak dari arah Stasiun Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, dihadang ratusan aparat Brimob yang bertameng di kawasan Gardu, sekitar Universitas Pancasila. Untungnya sebagian massa berhasil menembus barikade polisi yang berhasil mendekati kampus UI.

Di kawasan Gardu, polisi tidak bisa memberikan argumentasi apapun kecuali menyatakan “Tidak boleh”. Sempat terjadi adu argumentasi. Polisi berdalih ini demi menjaga keamanan negara. Dijawab oleh salah satu korlap HTI: “Bagaimana menjaga keamanan negara kalau Obama yang akan merampok Indonesia dibiarkan berkeliaran dan justru dilindungi? Apakah Anda tidak tahu sebentar lagi Natuna akan diambil? Apakah Anda tidak merasakan penderitaan yang kita alami dengan dirampoknya kekayaan alam kita oleh mereka?” Komandan polisi itu diam. Dia akhirnya bilang, “Sudahlah…”

Lihat:

http://www.mediaumat.com/news-dalam-negeri/2060-omong-kosong-demokrasi-aksi-hti-tolak-obama-dihadang-.html

—————

InsyaAllah, ini semua menunjukkan bahwa dengan berbagai syarat terdaftarnya secara administrasi tersebut tidak menjadikan HT mengurangi dakwahnya, atau takut menyerukan secara terang-terangan, atau mengkompromikan mabda, fikrah dan thariqohnya. HT tidak mengkhawatirkan  bahwa status terdaftarnya secara resmi dicabut oleh penguasa hanya karena menyampaikan dakwahnya secara berani dan terang-terangan. Karena, baik HTI atau HT di negeri-negeri lainnya telah bersiap diri untuk mengemban amanah dakwah ini, sekalipun harus menghadapi kezhaliman tirani dari penguasa, insyaAllah. Semoga, Allah Subhana wa Ta’ala Menolong orang yang Menolong agama-Nya dan mengasihi mereka semuanya, Aamiieen.

III) Kepada siapakah kritik tersebut ditujukan??

Sesungguhnya, tidak hanya HT yang dibiarkan bebas di NKRI, tetapi juga ada Partai Nasionalis Sekuler, ada LSM asing, ada organisasi yang jelas-jelas menginjak-injak ajaran Islam yang dipandang Qathi’ seperti halnya JIL (jaringan Iblis Liberal). Sudah seharusnya, Penguasa Muslim tidak membiarkan berdirinya partai atau golongan yang bertentangan dengan Islam. Dan, sudah seharusnya, kaum muslimin tidak terlibat dengan JIL, dan berkoalisi dengan partai yang menjadikan orang JIL (Ulil Abshar Abdalla) mendapat jabatan yang strategis.

————-

Mendirikan partai-partai politik dalam Negara Khilafah adalah fardhu kifayah. Dan wajib atas partai-partai itu berdiri di atas asas Islam Secara terang-terangan (legal), bukan secara sembunyi-sembunyi (illegal). Juga wajib melaksanakan aktivitas-aktivitas politik dan pemikiran, bukan aktivitas-aktivitas fisik, karena Allah Subhana wa Ta’ala berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.[QS:3.104]

Ini adalah sifat-sifat yang dimuat pada ayat diatas, yaitu dakwah kepada Islam, memerintah dengan perkara yang halal dan mencegah dan perkara haram. Semuanya merupakan unsur-unsur utama sebuah partai dalam Islam. Maka haram atas kaum muslimin membentuk partai di atas asas selain Islam, dan haram atas Negara Islam mentolelir berdirinya kelompok-kelompok partai di atas asas selain Islam seperti sekularisme, patriotisme, nasionalisme atau yang lain-lain karena semuanya sangat berlawanan dengani Islam. Karena semuanya bertentangan dengan tujuan syar’i didirikan Negara Islam yaitu mengemban Islam dan memelihara aqidah Islam, serta menyelisihi nash- nash syara’ yang telah mengharamkan atas kaum muslimin berdakwah kepada selain Islam.

[Mafahim islamiyyah, Bab METODE SYAR’I UNTUK MELANJUTKAN KEHIDUPAN ISLAM, Dr. Muhammad Husain Abdullah]

————-

JIL seringkali menyebarkan pernyataan bahwa Islam dan Ideologi trans-nasional Islam adalah ancaman bagi bangsa Indonesia, tetapi mereka menerima sumbangan dari pihak Asing (bertentangan dengan UU Ormas yang ada). Merekalah, orang-orang JIL itu yang seharusnya disebut Munafik (berkarakter Hipokrit), bukan kepada HT yang jelas-jelas (insyaAllah) memperjuangkan tegaknya syari’ah dan Khilafah.

Wallaahu a’lam bi-ash-showwab.

Catatan:

maaf, keterbatasan waktu dan ilmu Penulis, semua kitab diatas adalah kitab terjemahan. Silahkan merujuk sumber asli-nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s