Syarah Kitab Ad-Dausiyyah tentang Azab Kubur

Standard

Oleh : Riyan Zahaf

Ada sebuah permasalahan yang terkait dengan penjelasan Imam an-Nabhany -rahimahullah- di dalam kitab Ad-Dausiyyah:

فعن أبي هريرة قال ؛ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ؛ [ إذا فرغ احدكم من التشهد الأخير فليتعوذ من اربع ، من عذاب جهنم ومن عذاب القبر ومن فتنة المحيا وفتنة الممات ومن شر فتنة المسيح الدجال ] ، وعن عائشة رضي الله عنها ؛ أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يدعو في الصلاة ” اللهم اني أعوذ بك من عذاب القبر وأعوذ بك من فتنة المسيح الدجال .

Hadist dari Abu Hurairah -radhiyallaahu ‘anhu- bahwa:

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa salam- berkata:

Apabila telah selesai tashyahud akhir, meminta perlindungan terhadap 4 hal, yaitu dari azab neraka, azab kubur, fitnah hidup dan fitnah mati, dan kejahatan fitnah al-masih dajjal”

 

Dan hadist dari a’isyah -radhiyallaahu ‘anha- bahwa:

Sesungguhnya Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa salam- adalah berdoa pada saat (sebelum) salam:

Allaahumma ‘audzubika min ‘azaabil qubur wa ‘audzubika min fitnatil masiihud dajjal..

. . فهذان الحديثان خبرا آحاد وفيهما طلب فعل أي طلب القيام بهذا الدعاء بعد الفراغ من التشهد فيندب الدعاء ، وما جاء فيهما يجوز تصديقه ولكن الذي يحرم هو الجزم به ) انتهى الكلام

Maka kedua hadist itu adalah khobar ahad, dan didalamnya terdapat tuntutan untuk melaksanakan do’a setelah tasyahud, maka disunnahkan berdo’a. Dan apa2 yang datang dari khabar tersebut dibenarkan tetapi dilarang membenarkan secara tegas/pasti

http://hti-hti.blogspot.com/2008/02/kesalahan-hizbut-tahrir-hadits-ahad.html

Kemudian, berdasarkan kalimat di dalam kitab Ad-Dausiyyah ini, memunculkan pertanyaan, “Apakah HT mengingkari Siksa kubur??

——————————————————

Jawaban:

Saat ini, sebenarnya sudah sangat pembahasan panjang lebar mengenai pertanyaan diatas. Penulis, hanya menyampaikan kembali dengan mengkaitkannya pada penjelasan kitab muhtabanat dan Ulama2 HT.

1. Memahami dan Menyepakati Beberapa Istilah Penting.

Maksud istilah disini, adalah istilah Iman dan tashdiq.

Kebanyakan kalangan Ulama, memahami bahwa Iman itu adalah:

———-

“Tasdiqul bil qolbi, Ikrar bil-lisan, wal amalu bil jawarih”

Iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkannya dengan perbuatan.

[Syarah Shahih Muslim juz I, Kitabul Iman, Hal 208]

———-

Adapun jika kata iman itu dipergunakan secara mutlak, maka iman menurut syariat tidak mungkin ada kecuali yang diwujukan mealui keyakinan, ucapan, dan amal perbuatan.

Demikian itulah pendapat yang menjadi pegangan mayoriras ulama. Bahkan telah menyatakan secara ijma’ (sepakat) Imam asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Ubaidah, dan lain-lainnya: “annal Iimaana Qowlu wal amalu yaziidu wa Yanqush”

Sesungguhnya, Iman adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah atau berkurang.

[Imam Ibnu Katsir, al-Quran al-‘Adhim, juz I,Hal 264]

———-

Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah : bahwasanya iman itu perkataan, perbuatan

[Prinsip-prinsip Aqidah Ahlus-Sunnah wal Jama’ah’, Syaikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan]

———-

Jika, ada pendapat lain, yang “agak berbeda” jangan terburu-buru menuduh Jahmiyyah, atau Mu’tazilah. Karena, juga dianut oleh Ulama ahlus-Sunnah. Yaitu:

———-

Berkata Abu Ja’far Ar-Razii, dari ‘Ala bin Musayab bin Rafii, dari Abi Ishaq, dari Abi Ahwasi, dari Abdullah, berkata: Imaan adalah Tashdiq (pembenaran).

[Imam Ibnu Katsir, al-Quran al-‘Adhim, juz I,Hal 263]

———-

Dan berkata Ali bin Abi Talhah dan selainnya, dari Ibnu Abbas -radhiyallaahu anhu- < Yu’minuun > berarti membenarkan

[Imam Ibnu Katsir, al-Quran al-‘Adhim, juz I,Hal 264]

———-

Dan berkata Syaikh Imaam Abu Ummaru bin Sholaah -rahimahullah- perkataan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam:

(“Dan Iman adalah beriman kepada Allah, dan Malaikat, dan Kitab, dan Rasul, dan Hari Akhir, dan beriman dengan Qadar baik dan buruk;..[HR. Muslim]”

Berkata, ini adalah penjelasan Ushul tentang Iman, dan merupakan Pembenaran secara bathin”

[Syarah Shahih Muslim juz I, Kitabul Iman, Hal 209]

———-

والإيمان هو التصديق بما جاء به من عند الله تعالى والإقرار به.

فأما الأعمال فهي تتزايد في نفسها، والإيمان لا يزيد ولا ينقص.

Dan iman adalah membenarkan apa-apa yang datang dari Allah Ta’ala dan meng-ikrarkannya. Adapun Amal ini, bertambah didalam dirinya. Dan iman, tidak bertambah atau berkurang.

[Al Aqoidi an-Nasafiyah, Hal 4]

———-

Dari definisi “Iman” ini, berarti bersifat umum meliputi seluruh “Tashdiq / pembenaran”, baik pembenaran pasti/tegas (jazm) maupun pembenaran yang bukan pembenaran pasti. Adapun, maksud pembenaran yang bersifat pasti/tegas (jazm) adalah:

a. pembenaran yang diperoleh dari dalil yang qathi’ (pasti), yaitu Al qur’an dan Hadist Mutawwatir.

———-

Seorang Muslim wajib meyakini segala sesuatu yang telah terbukti dengan akal (yang diperbolehkan oleh syara’) atau yang datang dari sumber berita yang yakin dan pasti (qath’i), yaitu apapun yang telah ditetapkan oleh Al-Quran dan hadits qath’i -yaitu hadits mutawatir-.

[An-Nabhani -rahimahullah-, Nizham al-Islam, hal 13]

———-

b. pembenaran yang tidak mungkin ada ikhtilaf, dimana, mengingkari atau berselisih sedikit atau sebagian besarnya dapat menjatuhkan kepada kekufuran.

———-

Karena itu penolakan seseorang terhadap hukum-hukum syara’ secara keseluruhan, atau hukum-hukum qath’i secara rinci, dapat menyebabkan kekafiran, baik hukum-hukum itu berkaitan dengan ibadat, muamalah, ‘uqubat (sanksi), ataupun math’umat (yang berkaitan dengan makanan).

[An-Nabhani -rahimahullah-, Nizham al-Islam, hal 14]

———-

Dengan demikian, terhadap seluruh permasalahan agama yang didukung oleh dalil-dalil ahad yang shahih, ketika ada perkataan syaikh kami (Imam An-Nabhani -rahimahullah-):

Dan apa2 yang datang dari khabar tersebut dibenarkan tetapi dilarang membenarkan secara tegas/pasti“,

Semestinya dapat difahami bahwa:

1) Syaikh An-Nabhani memerintahkan Tashdiq terhadap dalil-dalil ahad yang shahih, bukan memerintahkan mengingkari atau menolak sebagian kecil atau keseluruhannya.

2) membenarkan, dengan tidak membenarkan secara pasti, masih di dalam kerangka pembenaran atau percaya.

2. Memahami Dilalah (penunjukkan) Kedua Hadist (riwayat Abu Hurairah -radhiyallaahu anhu- dan A’isyah -radhiyallaahu anha-) Tersebut.

Kedua hadist tersebut, konteksnya adalah diserukan kepada orang beriman untuk menghindari azab kubur. Padahal, Ulama juga berselisih, apakah kalangan orang mukmin akan mendapat azab kubur sebagaimana orang kafir, atau tidak. Ini, artinya, ketetapan azab kubur akan dikenakan kepada setiap muslim, adalah ketetapan yang belum pasti, karena ada ikhtilaf di dalamnya.

Imam Ibnu katsir -rahimahullah- di dalam tafsirnya ketika menjelaskan surah al ghafir (Surah al mu’min) ayat 46:

———-

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”.”

Dikatakan oleh ayat ini bahwa ayat ini menjelaskan azab kepada orang-orang kafir di alam barzakh, dan itu tidak mengungkapkan dengan sendirinya bahwa orang-orang yang beriman akan disiksa di dalam kubur atas dosa-dosanya. Hal ini dinyatakan oleh hadist dari Imam Ahmad rahimahullah dari A’isyah radhiyallaahu ‘anha dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa salam ketika A’isyah radhiyallaahu anha saat wanita Yahudi bersama A’isyah radhiyallaahu ‘anha, dan wanita yahudi itu mengatakan, ” Aku diberitahu bahwa engkau akan di uji di dalam kubur”. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam khawatir dan mengatakan”

«إِنَّمَا يُفْتَنُ يَهُود»

<sesungguhnya hanya=”” orang=”” yahudi=”” yang=”” diuji=””> A’isyah radhiyallaahu anha berkata, “Setelah itu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam berkata:</sesungguhnya>

«أَلَا إِنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي الْقُبُور»

<sesungguhnya engkau=”” akan=”” diuji=”” di=”” dalam=”” kubur=””>. A’isyah radhiyallaahu anha berkata, “Setelah itu, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam meminta perlindungan dari Allah Subhana wa Ta’ala dari azab Kubur”</sesungguhnya>

———-

Dengan demikian, seorang yang beriman belum tentu di azab di dalam kuburnya, bergantung pada kedudukan amalan dan hati, dan taubatnya di dunia. Apakah dia termasuk mu’min, orang munafik, dan orang kafir, memiliki peristiwa yang berbeda-beda di dalam kubur. Hal ini, juga selaras dengan hadist shahih riwayat imam Al Bukhari:

(Sesungguhnya) manusia apabila diletakkan di dalam kuburnya, setelah teman-temannya berpaling dan pergi darinya sehingga ia mendengar ketukan bunyi sandal mereka, lalu datanglah dua orang malaikat. Kemudian mereka mendudukkannya dan bertanya kepadanya, ‘Apakah yang kamu katakan dahulu ketika di dunia tentang orang ini, Muhammad?’ Adapun orang yang beriman menjawab, ‘Aku bersaksi bahwa beliau adalah hamba dan utusan Allah.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah tempat dudukmu di neraka, Allah telah menggantikannya untukmu dengan tempat duduk di surga.’ Lalu ia melihat keduanya (surga dan neraka). (Qatadah berkata, ‘Dan diterangkan kepada kami bahwa orang itu dilapangkan di dalam kuburnya.’)

Adapun orang kafir atau munafik maka ditanyakan kepadanya, ‘Apa yang engkau katakan mengenai Muhammad ini?’ Ia menjawab, ‘Aku tidak tahu. Aku dulu mengatakan apa yang dikatakan oleh orang-orang.’ Maka, dikatakan kepadanya, ‘Kamu tidak tahu dan tidak mau membaca.’ Kemudian ia dipukul dengan palu dari besi di antara kedua telinganya. Lalu, ia berteriak sekeras-kerasnya yang didengar oleh apa yang didekatnya selain jin dan manusia.”

[HR. Bukhari dari anas bin Malik]

Sedangkan Imam An-Nasafi -rahimahullah- berpendapat, bahwa azab kubur hanya untuk sebagian orang-orang beriman

———-

وعذاب القبر للكافرين ولبعض عصاة المؤمنين،

Dan Azab kubur adalah bagi orang kafir, dan bagi sebagian orang mukmin yang berdosa.

[Al Aqoidi an-Nasafiyah, Hal 3]

———-

3. Memahami Ikhtilaf di dalam urusan Azab kubur, yaitu belum sampai pada Derajat Kafir.

Dikarenakan Iman itu terkait hanya pada perkara yang dibenarkan secara pasti, maka dalil-dalil-nya pun harus bersifat Qathi’ (pasti). Hal ini berarti, mengingkari atau menyelisihi yang Qathi’, adalah perkara bertentangan dengan keimanan alias “kekafiran”.

Akan tetapi, pendapat Ulama yang mu’tabar menjelaskan bahwa perselisihan di dalam urusan azab kubur ini, tidak menjatuhkannya kepada kekufuran. Sehingga, mengingkari azab kubur hanya sampai pada derajat fasiq, atau ahlul-bid’ah, bukan Kafir-murtad (keluar dari Islam). Hal ini menandakan bahwa perkara azab kubur bukan perkara yang qathi’.

———-

لم يتعرض المصنف فى التر جمة لكون عذاب القبر يقع على الروح

فقط أو عليها و على الجسد وفيه خلاف شهير عند المتكلمين

وكأنه تركه لأن الأدلة التى يرضاها ليست قاطعة فى أحد الأمرين فلم يتقلد الحكم فى ذلك

Pengarang (Bukhari) tidak mengingkari penjelasan mengenai adzab kubur yang menimpa atas ruh saja, atau atas ruh dan jasad. Dalam masalah ini terjadi perbedaan pendapat yang sangat masyhur di kalangan para ‘ulama mutakalimin. Masalah ini seakan-akan telah ditinggalkan. Sebab, dalalah (penunjukan) yang diterima tidak qath’iy (pasti) secara ahad dari Umar -radhiyallaahu ‘anhu-. Walhasil, tidak satu hukum saja yang bisa diambil dalam masalah ini.

[Fathul Bari, Juz III, Kitab “Fi Jana’iz”, Sub-Bab “Maa Ja’a fi Azabil Quburiy”, Hal 275]

———-

Penjelasan Imam Ibnu hajar -rahimahullah- ini mungkin sering tidak dinukil secara adil oleh pihak-pihak yang menuduh HT mengingkari azab kubur. Jadi, status orang yang mengingkari azab kubur, bukanlah kafir-murtad, tetapi termasuk ahlul bid’ah, dan HT insyaAllah tidak termasuk bagian firqah yang mengingkari azab kubur, berdasarkan penegasan dari Ulama HT sendiri yang dibahas dibagian akhir dari tulisan ini.

———-

خلافاً لمن نفاه مطلقاً من الحوارج وبعض المعتزلة كضراربن عمرو وبشر الميسى

Dan cukuplah dengan adanya perbedaan pendapat dalam masalah ini, yakni orang (yang berpendapat) menafikan secara mutlak ‘adzab kubur, sebagaimana orang-orang Khawarij dan sebagian ‘ulama Mu’tazilah semisal, Kadar bin ‘Amru, Basyar al-Marisiy; dan orang yang sepemahaman dengan dengan mereka“.

[Fathul Bari, Juz III, Kitab “Fi Jana’iz”, Sub-Bab “Maa Ja’a fi Azabil Quburiy”, Hal 275]

———-

4. Pandangan Ulama HT tentang Azab Kubur

———-

Khabar ahad hanya menunjukkan dzan. Orang yang mengingkarinya tidak dianggap kafir, (Khabar ahad) juga tidak boleh didustakan, karena jika hal itu didustakan maka membuka (peluang) seluruh hukum-hukum syara’ yang diambil dari dalil-dalil yang bersifat dzanni didustakan . Dan tidak ada seorang muslim pun yang berkata demikian.

[Shakshiyyah Islammiyah Juz I, Bab Khabar Ahad Tidak bisa Menjadi Hujjah di dalam Perkara Aqidah]

———-

Jika dalam penelitian hadits ternyata terbukti bahwa riwayat-riwayat yang berbicara tentang siksa kubur adalah ahad, maka ia tidak bisa digunakan hujjah dalam masalah keimanan. Dengan kata lain, ia tidak boleh diyakini, akan tetapi cukup dibenarkan saja. Jika penelitian hadits membuktikan bahwa riwayat-riwayat yang berbicara tentang siksa kubur adalah mutawatir, maka ia mutlak untuk diimani dan diyakini.

Sumber:Ust. A. Said ‘Aqil Humam ‘Abdurrahman, KOREKSI ILMIAH ATAS BUKU WAMY

———-

Ust Drs. Hafidz Abdurrahman, MA. mengutip ucapan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah yang menyatakan, bahwa sifat orang Mukmin yang disebut Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah:

“…Dia meyakini bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang. Dia meyakini bahwa jihad tetap berlanjut sejak Allah mengutus Muhammad saw. hingga sisa generasi terakhir yang memerangi Dajjal, saat tak akan ada yang bisa mencelakakan mereka kezaliman orang yang zalim. Dia menyatakan, bahwa jual-beli halal hingga Hari Kiamat sesuai dengan hukum Kitab dan Sunnah. Dia shalat jenazah dengan empat takbir dan mengurus umat Islam dengan baik. Dia tidak melakukan perlawanan terhadap mereka dengan pedang Anda. Jangan berperang karena fitnah. Diamlah di rumah Allah. DIA MEMPERCAYAI AZAB KUBUR;..”

http://hizbut-tahrir.or.id/2007/04/01/siapakah-ahlus-sunnah/

———-

Pada halaman 54, Lutfi A Tamimi mengatakan, “Hizb at-Tahrir melarang anggotanya percaya kepada siksa kubur dan munculnya Dajjal”. Pernyataan ini merupakan kedustaan sekian kali yang dilakukan oleh Lutfiy A Tamimi. Pasalnya, tidak ada satu pun kitab, ta’mim, maupun nasyrah yang menyatakan hal itu.

Sumber:Ust. Syamsuddin Ramadhan

http://syariahpublications.com/2010/05/12/membongkar-kebohongan-majalah-sabili/

———-

5. Kesimpulan

Jadi, khabar ahad yang shahih, bukan untuk diyakini secara tegas/pasti, tetapi wajib dibenarkan. Dan maksud “Mengharamkan membenarkan secara pasti”, maksudnya adalah tetap membenarkannya dengan tidak menempatkannya sebagai perkara yang Qathi’.

Allaahu a’lam bi-ash-showwab

Catatan: Ini adalah pendapat pribadi penulis, bukan pendapat HT

Mohon maaf, jika ada kekeliruan dan kesalahan dalam mengutip atau menterjemahkan, karena saya hanyalah seorang pemula di dalam agama ini. Silahkan memberikan kritik atau saran. Segala puji bagi Allah Subhana wa Ta’ala, dan semoga ustadz, guru dan musyrif saya tetap dilimpahkan keberkahan atas ilmunya, aamiien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s