Menyikapi Anggota DPR yang Mengutip Injil

Standard

Oleh : Riyan Zahaf

Segala puji bagi Allah Subhana wa ta’ala, dan shalawat kepada Nabi Shallalaahu ‘alaihi wa salam.

I. Pengantar

Ditengah-tengah kebangkitan Islam di seluruh dunia Islam dan meningkatnya arus dukungan ditegakkannya syari’ah dan khilafah, ternyata masih ada orang atau partai tertentu yang berharap mengalir dukungan dari orang-orang diluar Islam bahkan dengan mengutip injil. Adalah sangat lazim, jika partai yang masih dikenal Islam mengutip dalil-dalil dalam upaya menyampaikan suara umat di DPR, tetapi adalah perkara diluar kebiasaan jika mengutip dalil di luar Islam. Bahkan, dengan izin Allah Subhana wa Ta’ala, yang bersangkutan ternyata mengakuinya sebagai perkara diluar kebiasaan:

——————-

Usai rapat, Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar juga sempat menyebut luar biasa pandangan FPKS ini kepada Nasir. Namun, Nasir hanya merespon sambil tersenyum kecil. “Ini bukan luar biasa, pak. Tapi, di luar kebiasaaan,” pungkasnya sambil bersalaman dengan Patrialis.

http://hukumonline.com/berita/baca/lt4d93bc123307a/ketika-pks-mengutip-injil-matius

——————-

 

Aksi “berani” disambut tertawa dan senyuman oleh orang-orang di DPR, karena mereka melihat perkara yang asing (gharib), yang tidak pernah dilakukan oleh partai Islam manapun. Namun, sayangnya, perkara gharib ini bukanlah perkara yang dilakukan oleh generasi ghuraba yang dimaksud di dalam hadist shahih ini:

——————-

“Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut.

[H.R Muslim dari Abû Hurairah]

——————-

Karena, perkara gharib yang dilakukan oleh generasi ghuraba adalah menghidupkan sunnah-sunnah nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam, bukan menghidupkan sunnah agama lain, sebagaimana yang dimaksud hadist hasan dibawah ini (lihat kitab Nafshiyah Islamiyyah):

——————-

Sesungguhnya agama (ini) akan terhimpun dan berkumpul menuju Hijaz layaknya terhimpun dan terkumpulnya ular menuju liangnya, dan sungguh (demi Allah) agama (ini) akan ditahan (untuk pergi) dari Hijaz sebagaimana (ditahannya) panji (yang merupakan tempat kembali di mana kaum Muslim kembali padanya ) dari puncak gunung. Sesungguhnya agama ini muncul pertama kali dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing. Maka berbahagialah orang-orang yang terasing. Yaitu orang-orang yang memperbaiki sunahku yang telah dirusak oleh manusia setelahku.”

(Diriwayatkan oleh Umar bin Auf bin Zaid bin Milhah al-Mazani radhiyallaahu ‘anhu, Abû Issa berkata, “Hadits ini hasan”)

——————-

Menurut hemat Penulis pembahasan fatwa seorang Ulama yang ada, belum secara komprehensif, karena pada awalnya dibangun dari pertanyaan sederhana “Bagaimana tentang seorang muslim yang mengutip ayat Injil” kemudian dibagian akhirnya justeru membahas fakta berbeda, yaitu fakta anggota DPR yang mengutip injil. Metode pembahasan seperti ini, (menurut pendapat Ulama yang diadopsi penulis) belum secara sistematik mengikuti sistematika Istimbath hukum yang baik. Sistematika Istimbath yang baik, adalah:

1)diawali dengan meneliti fakta (Tahqiq al Manath atau Fahmul Waqi’) dengan jernih,

2)kemudian menjelaskan dalil syara’ dan beragam pendapat Ulama yang terkait [fahmu hukmullaahi], dan

3)kemudian menerapkan hukum tersebut terhadap masalah yang sedang dihadapi.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh an-Nabhani rahimahullah di dalam kitab Mafahim HT (2003):

——————-

Hendaknya pada saat menggali hukum-hukum dan mentabaninya senantiasa memperhatikan pemahaman terhadap fakta dan faqih terhadap fakta tersebut. Juga harus memahami wajibnya memecahkan fakta persoalan itu berdasarkan dalil syara’, yaitu memahami hukum Allah yang telah ditetapkan terhadap masalah yang sedang dihadapi; kemudian hukum tersebut diterapkan terhadap fakta yang ada.” [Mafahim HT, an-Nabhani rahimahullah]

——————-

Jadi, penulis tidak meragukan atau membantah dalil dan pendapat Ulama yang diambil oleh Ulama tersebut, tetapi lebih kepada bagaimana menempatkannya sesuai fakta yang ada. Apalagi, saat ini baru tersedia naskah resmi dari anggota DPR yang bersangkutan, bukan hanya dari sumber berita sekunder dari koran-koran atau media cetak lagi[Allaahu a’lam bi-ash-showwab]

II. Meneliti Fakta [Tahqiq al Manath atau Fahmul Waqi’]

Berikut ini, penulis ungkapkan kalimat yang kontroversial tersebut:

——————-

“Sejalan dengan hal ini, Nabi Muhamad (Shallallaahu ‘alaihi wa salam) pernah bersabda:“Dihapuskan ketentuan hukum dari tiga orang, dari orang yang tidur sampai ia bangun, dan dari orang gila sampai ia sembuh, serta dari anak kecil sampai ia dewasa”. Selain itu, dalam pandangan kristen, perlakuan terhadap anak-anak menjadi cerminan kesetiaan umat kristiani terhadap Tuhan, sebagaimana terdapat dalam Dalam Matius (18:5).

Lihat:

http://www.islamedia.web.id/2011/04/isi-pidato-utuh-pandangan-fpks-tentang.html

——————-

Pandangan Mini Fraksi PKS Tentang Rancangan Undang-Undang (RUU) Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak ini disampaikan di DPR dimaksudkan untuk menekankan pentingnya kewajiban memperlakukan anak dengan baik yang diadopsi oleh agama kafir (kristen) sekalipun. Tetapi, permasalahannya adalah perkara padangan tentang RUU di dalam rangka terkait penetapan hukum (tasyri’) yang membutuhkan hujjah (dalil), karena tugas anggota DPR adalah membuat dan menetapkan hukum, bukan dalam kerangka menafsirkan apalagi membantah kelemahan injil. Hal ini SAMA SEKALI TIDAK SAMA dengan fakta Ulama mengutip injil di dalam perkara isralliyat atau menyampaikan bantahan tentang Injil.

Lebih lanjut, ayat injil matius yang dimaksud adalah:

——————-

5. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”

Sumber: http://alkitab.otak.info/

——————-

Bagi kaum Muslim yang belum meneliti Injil, pasti sangat mudah menerjemahkan maksud kata “Aku” diatas. Karena, mereka memahami bahwa kebanyakan kata “Aku” yang ditunjukkan dalam bentuk keagungan dan kegagahan, pasti bermakna Allah Subhana wa Ta’ala semata, terkecuali perkataan Fir’aun yang diabadikan Qur’an:

فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الأعْلَى

(Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”.[QS: 79 (An-Nazi’at).24]

Tetapi, pada kenyataannya, tafsir yang benar tentang kata “aku” diatas dapat difahami melalui beberapa ayat sebelumnya di chapter yang sama, yaitu:

——————-

Injil Matius 18:1-4

1. Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?”

2. Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka

3. Lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”

4. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.

Sumber: http://alkitab.otak.info/

——————-

Dengan menghubungkan ayat 1 dan ayat 5 apalagi kedua ayat ini yang masih dalam konteks pembicaraan yang sama, maka maksud kata “aku” diatas adalah “Yesus”, yang dianggap Tuhan oleh Nasrani. Karena itu, makna “aku” di dalam ayat Matius diatas adalah perkara yang menyalahi Aqidah Islam.

III. Memahami Hukum Syara’ [Fahmu hukmullaah]

Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa salam adalah menasakh (menghapus) semua agama dan syari’at sebelumnya. Semua syari’at agama sebelumnya adalah tidak sah, terkecuali yang Islam telah melegalisir-nya sebagai bagian ketentuan syara’. Kaum muslimin diharamkan mencari jalan, hujjah, agama dan sistem lain, selain yang diambil dari Islam. Hal ini adalah perkara yang pokok (Ushul) yang mesti dipegang oleh kaum muslim.

——————-

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

[QS:3 (ali imran).85]

——————-

Imam Ath-Thabari rahimahullah (di dalam terjemahan Tafsir At-Thabari Jilid V, 2001:555-557] menafsirkan:

——————-

Ayat ini seolah berkata, “Barangsiapa mengharapkan dien selain dienul Islam dan dia memasuki agama tersebut, maka Allah Subhana wa ta’ala tidak menerimanya. Dan di Akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi, karena tidak mendapat rahmat Allah azza wa Jalla

——————-

Kemudian, Imam Ibu katsir rahimahullah (Di dalam terjemahan Al Misbah Al munir fi Tahzib Tafsir Ibnu katsir, 1999:182) menafsirkan:

——————-

Dijelaskan dengan lebih lanjut dalam ayat berikutnya bahwa seseorang tidak diperbolehkan memeluk agama selain Islam dengan alasan apapun. Larangan ini berlaku pula pada orang-orang Yahudi dan nasrani. Mereka memeluk agama Allah Subhana wa ta’ala (padahal) ajaran kedua agama mereka tersebut telah di nasakh dengan agama Islam. Dengan kata lain, jika mereka benar-benar setia dengan ajaran Yahudi dan Nasrani sebagaimana yang dibawa Nabi Musa Alaihis Salam dan Nabi Isa alaihis Salam, maka mereka pasti akan mengikuti syari’at Rasulullah Shallalaahu ‘alaihi wa salam dengan memeluk Islam.

Hal itu karena Islam dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam telah diterangkan pada kitab-kitab agama samawi terlebih dahulu. Jika mereka tidak mau memeluk Islam, maka amalan mereka tidak akan diterima oleh Allah Subhana wa ta’ala. Mereka kelak akan merugi di akhirat. Demikian yang dijelaskan di dalam ayat

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Barangsiapa melakukan amalan yang tidak pernah aku perintahkan, maka hal itu tertolak [Mutaffaq ‘alaihi]

——————-

Islam hanya memerintahkan, bahwa kaum muslimin beristidlal (berhujjah) hanya berasal dari Islam saja, yaitu dengan Al qur’an, As-Sunnah, Ijma’ shahabat dan Qiyash Syar’i dan Kaum muslimin, bersepakat dengan sumber dalil-dalil ini. Terkait dengan Israilliyat, maka yang dimaksud israilliyat (Al Manar Fii Ulumul Qur’an, Dr. Muhammad Ali Al hasan, Bab Israiliyyat):

——————-

Para peneliti mendefinisikan Israilliyat dengan kisah-kisah dan berita-berita dari Yahudi dan Nasrani yang menyusup kedalam masyarakat Islam, setelah sekelompok Yahudi dan Nasrani masuk kedalam Islam atau berpura-pura masuk Islam.

Berdasarkan hukum Islam, menurut pembagian yang diusulkan Imam Ibnu Katsir rahimahullah, israilliyyat terbagi menjadi 3 macam:

1) Israiliyyat yang sesuai dengan Syara’

2) Israiliyyat yang tidak sesuai dengan syara’

3) Yang tidak dikomentari oleh Syara’.

——————-

Kemudian, di dalam kitab Al Manar Fii Ulumul Qur’an tersebut dijelaskan:

——————-

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasalam bersabda:

“Janganlah kalian membenarkan ahli kitab, dan janganlah kalian yang mendustakan mereka. Katakanlah oleh kalian: “Kami beriman kepada Allah dan apa-apa yang Dia turunkan”

Al-Allamah al ‘aini mengatakan di dalam syarah hadist ini:

Artinya jika apa yang mereka beritahukan kepada kalian mengandung beberapa kemungkinan, agar jika berita itu ternyata sesuatu yang benar dan kalian mendustakannya, atau jika berita itu ternyata dusta dan kalian membenarkannya sehingga kalian terjatuh dalam dosa.

Al khathabi memberikan penjelasan yang bagus mengenai hadist ini dan hadist-hadist sebelumnya, ketika dia mengatakan:

“TIDAK ADA LARANGAN UNTUK MENDUSTAKAN MEREKA JIKA TERDAPAT NASH YANG BERTENTANGAN DENGANNYA, dan tidak ada larangan untuk membenarkan mereka dalam hal-hal yang ada nash syara yang sesuai dengannya. Hadist ini, yaitu janganlah kalian membenarkannya dan jangan mendustakan, adalah dasar wajibnya tawaqquf (diam) terhadap perkara-perkara yang meragukan yang belum diketahui apakah shahih atau Bathil, dan tidak diketahui pula halal-haramnya…

——————-

Jadi, menggunakan israiliyyat sebagai sumber untuk penafsiran, itupun dibolehkan sepanjang terkait dengan Israiliyyat yang sesuai dengan syara’ dan yang tidak dikomentari oleh Syara’. Tetapi bukan sebagai hujjah, sekalipun untuk Israiliyyat yang sesuai dengan Syara’.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan di dalam Kitab Al Iqtidha Shirathal Mustaqim Mukhalafata Ashabil Jahim di dalam Bab “Pernyataan Bahwa Syariat Umat Sebelum Kita Juga Syariat Bagi Kita Selama Tidak Ada Dalil yang Menyangkalnya Tetap Harus Didasari Dua Fondasi”

——————-

Yang pertama: Ketetapan bahwa satu perbuatan itu merupakan syariat umat sebelum kita harus bisa dibuktikan melalui periwataannya yang terpercaya. Seperti berita yang Allah jelaskan dalam kitab-Nya, atau melalui lisan Rasul-Nya, atau diriwayatkan secara mutawatir dan yang semisalnya. ADAPUN SEKEDAR MERUJUK KEPADA PENUKILAN MEREKA (KAUM aHLI kITAB) ATAU APA YANG TERTERA DALAM KITAB MEREKA, JELAS TIDAK DIPERBOLEHKAN BERDASARKAN KESEPAKATAN PARA ULAMA……

Yang kedua: Tidak boleh terdapat dalam ajaran syariat kita keterangan yang mengkhususkannya. Tapi kalau ada dalil yang menjelaskan pengkhususan untuk menyepakati atau sebaliknya uniuk membedakan diri dari mereka, MAKA DALIL KEHARAMAN UNTUK MENYAMAKAN DIRI DENGAN MEREKA SUDAH CUKUP MENJADI ALASAN (UNTUK MENINGGALKAN SATU PERBUATAN YANG DISINYALIR ADALAH PERBUATAN UMMAT TERDAHULU), sementara tak ada dalil shahih bahwa itu merupakan syariat umat sebelum kita. Kalaupun terbukti ada dalilnya, sementara petunjuk Nabi kita (shallallaahu ‘alaihi wa salam) dan para Sahabatnya (ridhwanullaahi ‘alaihim) justru bertolak belakang, maka kita diperintahkan untuk mengikuti dan mencontoh jejak Rasul dan para Sahabat beliau tersebut….

——————-

Lebih lanjut, Syaikh An-Nabhani Rahimahullah, di dalam Kitab Mafahim HT, menjelaskan:

——————-

Mengenai syari’at yang diturunkan sebelum Islam (aturan umat terdahulu, penj.) tidak dianggap sebagai syari’at untuk kita; juga tidak dapat di kategorikan sebagai dalil syara’. Walaupun akidah Islam mengharuskan iman kepada para Nabi dan Rasul secara keseluruhan beserta Kitab-kitab yang telah diturunkan kepada mereka, akan tetapi yang dimaksudkan dengan Iman kepada mereka adalah hanya membenarkan ke-Nabian dan Risalahnya, serta membenarkan apa yang telah diturunkan kepada mereka, berupa Kitab. Iman terhadap mereka bukan berarti mengikuti mereka. Sebab, setelah diutusnya Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa salam, seluruh manusia dituntut untuk meninggalkan agama mereka dan memeluk Islam. Karena agama selain agama Islam tidak ada artinya (tertolak). Hal ini dapat dipahami dengan jelas dari firman Allah Subhana wa Ta’ala:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ

Sesungguhnya agama (yang diridlai) di sisi Allah hanyalah Islam.“(TQS. Ali ‘Imran [3]: 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya.“(TQS. Ali ‘Imran [3]: 85)

Dari ayat-ayat tadi muncullah suatu kaedah ushul:

Syar’u Man Qablana Laisa Syar’allana

Syariat bangsa sebelum kita bukan syariat bagi kita.”

Sebagai bukti atas hal ini adalah, para sahabat secara ijma’ menyatakan bahwa syariat Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa salam menghapuskan seluruh syari’at terdahulu, juga berdasarkan firman Allah Subhana wa Ta’ala

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ

Kami telah menurunkan kepadamu Kitab al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelum al-Quran) dan yang menghapus kitab-kitab yang lain itu. (TQS. Al-Maidah [5]: 48)

Yang dimaksud dengan “muhaiminan ‘alaihi” dalam ayat tersebut adalah menundukkan (musayithiran) dan menguasai (mushallithan). Penguasaan al-Quran terhadap kitab-kitab terdahulu artinya menghapus (nasakh) syariat-syariat sebelumnya. Dengan kata lain, al-Quran membenarkan keberadaan kitab-kitab terdahulu dan sekaligus menasakh-nya. Diriwayatkan hadits dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam, bahwasanya beliau Shallallaahu ‘alaihi wa salam melihat Umar bin Khaththab radhiyallaahu ‘anhu membawa selembar kertas Taurat yang sedang dibacanya, maka beliau Shallallaahu ‘alaihi wa salam murka seraya bersabda :

Tidakkah aku datang dengan membawa kertas putih bersih, seandainya saudaraku Musa melihatku, tentu Ia tak akan berbuat apa-apa selain mengikutiku.

(HR. Imam Ahmad, Ibnu Syaibah dan al-Bazzaar).

——————-

IV. Penerapan kepada Fakta [Tathbiq ilaa al-Waqi’]

Dengan demikian, menjadikan hujjah dari syari’at sebelum Islam adalah haram, dan sekedar mengambil hujjah mereka adalah Haram, kecuali hanya untuk penafsiran yang terbatas pada perkara yang tidak bertentangan dengan syara. Anggota DPR yang mengutip Injil tersebut, adalah menggunakan Injil sebagai hujjah untuk menunjukkan bahwa perintah memperlakukan anak juga diakui Injil dan memperkuat dukungan dari kalangan kristen terhadap pandangan partai tersebut, bukan terkait penafsiran ayat. Hal ini ditunjukkan dengan redaksi yang digunakan di dalam naskah resmi pidato tersebut, dimana diawali dengan mengutip hadist (bukan ayat Al Qur’an): “Dihapuskan ketentuan hukum dari tiga orang, dari orang yang tidur sampai ia bangun, dan dari orang gila sampai ia sembuh, serta dari anak kecil sampai ia dewasa”, dan konteks pembahasan hukum RUU yang memiliki aspek hukum (Tasyri’).

Dan, sumber ayat dari Injil Matius ayat 5, chapter 18 tersebut adalah perkara yang bertentangan dengan syara’ dikarenakan makna “aku” yang dimaksud adalah Yesus (yang notabene adalah seorang manusia menurut Islam). Dan semestinya, sebagai seorang Ustadz, bersifat tegas kepada mereka diluar Islam untuk meninggalkan kekufuran mereka, dan tidak meminta mereka tetap berpegang kepada kitab-kitab mereka yang telah di nasakh oleh kedatangan Islam. Inilah hikmah yang terkandung di dalam penjelasan Syaikh An-Nabhani Rahimahullah di dalam kitab Mafahim HT:

——————-

Maka setiap orang yang tidak beriman kepada Allah adalah kafir menurut pandangan Islam. Karena itu, pengemban dakwah sama sekali tidak boleh mengatakan kepada penganut selain Islam, baik itu berupa agama maupun berbentuk mabda: “Pegang teguhlah mabda dan agama kalian!.” Yang seharusnya dilakukan adalah menyeru mereka masuk Islam dengan jalan hikmah (dengan hujjah, penj.) dan nasehat yang baik, supaya mereka meyakini Islam. Karena dakwah mengharuskan para pengembannya memposisikan kedaulatan hanya untuk Islam saja.”

——————-

Allaaahu a’lam bi-ash-showwab.

Catatan:

– Ini pendapat pribadi Penulis, bukan pendapat HT.

– Penulis menggunakan kitab terjemahan, karena keterbatasan waktu dan ilmu penulis. Silahkan merujuk Kitab aslinya untuk mendapat penjelasan yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s