Hukum Rajam (Anugerah Allah Yang Ter-dzhalimi)

Standard

Oleh : Riyan Zahaf

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, asyhadu ala illaha illallah, wa asyhadu ‘anna muhammad rasulullah, wa shallallaahu ‘alaihi wa salam.

Pengantar

Sesunngguhnya, hukum rajam adalah salah satu perkara yang saat ini dilalaikan oleh kaum muslimin dan merupakan salah satu ikatan dan sendi-sendi Islam, dimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam telah mengabari pada ummatnya akan datangnya suatu masa dimana ikatan yang terakhir tinggal sholat.

Akan terlepas (kelak) ikatan (kekuatan) Islam, ikatan demi ikatan. Setiap kali terlepas satu ikatan maka orang-orang akan berpegangan kepada yang lainnya. Yang pertama kali terlepas ialah hukum dan yang terakhir adalah shalat.”

(HR. Ahmad dan Al Hakim)

Namun, saat ini, ternyata masih ada kaum muslimin yang begitu berani meremehkan perkara syara’ ini, misalnya dengan anggapan bahwa perintah syara’ ini hanya termasuk bagian dari 2% syari’ah atau bahkan ada diantara mereka ada yang menolak sama sekali status keberadaan hukum rajam ini dengan asumsi bahwa Al Qur’an tidak menyebut Rajam. Bukankah, di dalam Al Qur’an ini terkandung nash yang memerintahkan agar mengimani, menerima dan menegakkan seluruh bagian ajaran Islam??

“..Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”[QS:2.85]

———–

Imam Ibnu Katsir menjelaskan:

Allah Subhana wa Ta’ala mengecam orang-orang Yahudi pada zaman Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam di Madinah dan apa yang mereka alami karena peperangan dengan kaum Aus dan Khazraj. Kaum Aus dan Khazraj adalah kaum Anshar, yang pada masa Jahiliyah mereka menyembah berhala. Di kalangan mereka terjadi banyak peperangan, kaum Yahudi Madinah terbagi menjadi tiga kelompok: Bani Qainuqa’, Bani Bani Nadhir yang menjadi sekutu kaum Khazraj, sementara Bani Quraidhah menjadi sekutu kaum Aus. Apabila perang meletus, masing-masing kelompok bersama sekutunya saling menyerang. Orang Yahudi membantai musuh-musuhnya, bahkan ada orang Yahudi yang membunuh orang Yahudi dari kelompok lain. Padahal menurut ajaran mereka, yang demikian itu merupakan suatu ha1 yang diharamkan bagi mereka dan telah tertuang di dalam Kitab mereka. Kelompok yang satu menyerang kelompok yang lain sambil merampas harta kekayaan dan barang-baramg berharga. Kemudian apabila peperangan usai mereka segera melepaskan tawanan kelompok yang kalah sebagai bentuk pengamalan hukum Taurat.”

———–

Kecaman Allah subhana wa Ta’ala di dalam ayat ini, seharusnya menjadi pelajaran bagi orang-orang mukmin agar senantiasa bersungguh-sungguh mengamalkan isi ajaran Al Qur’an dan As-Sunnah yang mengatur berbagai bentuk hubungan pada manusia, baik itu hubungan dengan Allah (Sang Khaliq), hubungan dengan dirinya sendiri, maupun hubungan dengan manusia lainnya. Dengan demikian, perkara Rajam, yang merupakan salah satu bentuk perkara syara’ yang terkait dengan hubungan manusia dengan manusia lainnya, juga wajib dihidupkan dan diterapkan kembali oleh ummat Islam melalui dukungan Penguasa muslim atau khilafah Islam bersama lembaga qadhi’. Jadi, tidak sah menetapkan urusan yang memerlukan sanksi Rajam digantikan dengan hukuman lain seperti penjara, atau tebusan dan lainnya sebagaimna yang diatur oleh UU Positif buatan Manusia. Atau, pendapat sebagian muslim lainnya meyakini bahwa penerapan Islam di dalam konteks Negara hanya berarti menerapkan substansi dan prinsip keadilan Islam, peningkatan etos kerja dan menjauhi korupsi tetapi TANPA MENERAPKAN ATURAN HUDUD SECARA MENYELURUH. Maka, di dalam pandangan Fiqh Islam, penerapan hukum yang diterima dan diridhoi oleh Allah Subhana wa ta’ala, hanyalah yang berasal dari ketetapan kitabullah dan sunnah rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam semata, sedang yang lainnya adalah tertolak.

Dari Abu Hurairah dan Zaid Ibnu Kholid al-Juhany bahwa ada seorang Arab Badui menemui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam dan berkata: Wahai Rasulullah, dengan nama Allah aku hanya ingin baginda memberi keputusan kepadaku dengan Kitabullah. Temannya berkata -dan ia lebih pandai daripada orang Badui itu-: Benar, berilah keputusan di antara kami dengan Kitabullah dan izinkanlah aku (untuk menceritakan masalah kami). Beliau bersabda: “Katakanlah.” Ia berkata: Anakku menjadi buruh orang ini, lalu ia berzina dengan istrinya. Ada orang yang memberitahukan kepadaku bahwa ia harus dirajam, namun aku menebusnya dengan seratus ekor domba dan seorang budak wanita. Lalu aku bertanya kepada orang-orang alim dan mereka memberitahukan kepadaku bahwa puteraku harus dicambuk seratus kali dan diasingkan setahun, sedang istri orang ini harus dirajam. Maka Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Demi Tuhan yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku benar-benar akan memutuskan antara engkau berdua dengan Kitabullah. Budak wanita dan domba kembali kepadamu dan anakmu dihukum cambuk seratus kali dan diasingkan selama setahun. Berangkatlah, wahai Anas, menemui istri orang ini. Bila ia mengaku, rajamlah ia.” [Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.]

[Volume 3, Book 49, Number 860, Chapter of “Peacemaking”]:

———–

Al Imam Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskannya di Bab “Jika diketahui terdapat penyimpangan di dalam suatu perjanjian, maka perjanjian tersebut tertolak”:

“Dan tujuan ini yang dinyatakan di dalam hadist al walid dan ghunnam radhiyallaahu anhuma, maka sesungguhnya di dalam makna bahwa segala perjanjian (hukum) wajib di dalam batasan Hudud. (wa lamma kana dzalika layazuwju fi-syar’i kana jawran) Dan ketika hal tersebut dilarang oleh syara’ maka perkara tersebut adalah menyimpang). 

[Check syarh-nya di Fathul bari juz 5, hal 356]

———–

Dengan demikian, perkara tidak adil berarti perkara yang ditetapkan atau sesuai syara’ dan di dalam batas-batas hukum Allah. Sedangkan, suatu hukum yang adil menurut pandangan manusia atau pandangan barat, jika menyalahi ketetapan hudud Allah, maka hokum tersebut dikatakan hokum yang tidak adil. Dan haram bagi kita mengadopsi UU Barat atau UU lainnya yang bertentangan dengan syari’ah Islam.

Kedudukan Rajam di dalam Islam

Sekalipun, perkara rajam tidak disebutkan secara eksplisit di dalam al Qur’an hanya di dalam sunnah, tidak berarti bahwa rajam itu tertolak. Hal ini dikarenakan bahwa As-Sunnah adalah sumber hukum selain Al Qur’an, dan merupakan penjelas (bayan) terhadap ayat Al Qur’an.

Tidak ada kemuliaan bagi seorang muslim, jika ia ternyata menentang as-sunnah (shahihah). Mengikuti Al Qur’an, berarti juga harus mengikuti makna syar’i dari ayat-ayat yang mewajibkan kaum muslim terikat dengan hukum sunnah:

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” [QS:59.7]

Dan banyak ayat lain yang senada yang isinya berupa kewajiban mengikuti seluruh ketetapan yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam di dalam hadist-hadist yang berderajad shahih atau hasan. Karena itu, Syaik An-Nabhani rahimahullah menyatakan, di dalam kitab shakshiyyah Islamiyyah juz 1, Bab As-Sunnatu dallilu Syar’I kal-Qur’an (Sunnah adalah dalil syara’ sebagaimana Al Qur’an):

—————

Sunnah adalah hukum syara’ sebagaimana al-Quran. Sunnah merupakan wahyu dari Allah Subhana wa Ta’ala. Membatasi diri hanya pada al-Quran saja dan meninggalkan Sunnah adalah KEKAFIRAN YANG NYATA. Dan (pendapat seperti itu) merupakan pendapat orang-orang yang melanggar Islam.

—————

Karena itu, seorang muslim sama sekali tidak dapat mengabaikan hokum-hukum yang digali dari as-Sunnah, apalagi jika para shahabat, tabi’in dan Ulama-ulama muslim terdahulu telah bersepakat (ijma’) atas kewajibannya. Dan kekhawatiran ditinggalkannya perkara rajam ini, telah jauh-jauh hari disampaikan oleh shahabat ridhwanullaahi ‘alaihi melalui atsar yang berisi ijma’ mereka.

Dari Umar Ibnu al-Khaththab Radliyallaahu ‘anhu bahwa ia berkhutbah sembari berkata: Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad dengan (membawa) kebenaran dan menurunkan Kitab kepadanya. Di antara yang Allah turunkan kepadanya adalah ayat tentang rajam. Kita membacanya, menyadarinya, dan memahaminya. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melakukan rajam dan kita pun setelah itu melakukannya. Aku khawatir jika masa yang panjang telah terlewati manusia ada orang yang akan berkata: Kami tidak menemukan hukum rajam dalam Kitab Allah. Lalu mereka sesat dengan meninggalkan suatu kewajiban yang diturunkan Allah. Dan sesungguhnya tajam itu benar-benar ada dalam Kitab Allah, yang ditimpakan pada orang yang berzina jika ia telah kawin, baik laki-laki maupun perempuan, terdapat bukti, atau hamil, atau dengan pengakuan.[Muttafaq ‘Alaihi]

[Shahih muslim Book 017, Number 4194][Sahih Bukhari. Vol 8, Book 82. Hadith 816.][Bulughul Marom, Bab Hudud 13 (Hukuman), No.5]):

Al Imam Ash-shan’ani di dalam kitab subulus-salam, Bab Hudud yang terkait pada hadist ke 5, menyatakan:

———–

Dan di dalam hadist ini terdapat dalil bahwa jika ditemukan wanita yang cerai dari suami mereka atau tuan pemiliknya, hamil tanpa menyatakan keraguan, sesungguhnya hal itu dapat membuktikan had (hukuman), dan ini adalah pandangan Umar bin khathab radhiyallaahu ‘anhu dan Imam Malik rahimahullah dan shahabatnya. Dan berkata Al Haddawiyah dan Imam Syafi’i dan Imam abu hanifah: sesungguhnya tidak ada pembuktian kecuali dengan adanya penjelasan (bayyinah) atau pengakuan (i’tirof), tidak dihukum yang jatuh dengan adanya keraguan (syubhat). Dan sebagaimana dikutip sebelumnya, maka sesungguhnya perkataan Umar Radhiyallaahu ‘anhu tersebut pada tempatnya dan  tidak mengingkarinya (keberadaan hukum rajam tersebut) dan ditempatkan sebagai status Ijma.”

———–

Kemudian, di dalam hadist lainnya, dengan lafadz muslim dikemukakan:

Dari Ibnu Mas’ud rodhiallohu ‘anhu, dia berkata: “Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak halal ditumpahkan darah seorang muslim kecuali karena salah satu di antara tiga alasan: orang yang telah kawin melakukan zina, orang yang membunuh jiwa (orang muslim) dan orang yang meninggalkan agamanya memisahkan diri dari jamaah.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Al Imam An-Nawawi rahimahullah, di dalam Syarh arbain-An-Nawawiyah:

———–

Sabda Rasulullah (الزّاني الشّيّب ) maksudnya adalah orang yang pernah menikah dalam pernikahan yang benar lalu berzina setelah itu, maka ia harus dirajam,….

———–

Kemudian, di dalam ringkasan Syarah Arba’in An-Nawawi – Syaikh Shalih Alu Syaikh Hafizhohulloh:

———–

Ada tiga sebab seorang muslim boleh ditumpahkan darahnya yaitu:

Zina ba’da ihshonin, yaitu jika seorang muslim yang sudah pernah menikah secara syari kemudian berzina maka dengan sebab itu halal darahnya, dengan cara dirajam.

Qishosh, yaitu jika seorang muslim membunuh muslim yang lain dengan sengaja maka dengan sebab itu halal darahnya dengan cara di-qishosh.

Meninggalkan Agama, yaitu ada 2 pengertian:

a. murtad, artinya keluar dari agamanya dengan sebab melakukan kekafiran.

b. Meninggalkan jamaah, artinya meninggalkan jamaah yang telah bersatu di atas agama yang benar, dengan demikian ia telah meninggalkan agama yang benar. Termasuk makna meninggalkan jamaah adalah jika memberontak imam yang sah.

———–

Di dalam al Qur’an, dikemukakan kewajiban untuk menerapkan jilid kepada orang yang berzina. Ayat itu berbunyi:

﴿الزَّانِيَةُ وَالزَّانِى فَاجْلِدُواْ كُلَّ وَاحِدٍ مِّنْهُمَا مِاْئَةَ جَلْدَةٍ﴾

Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera[QS:24.2]

Ayat ini, berdasarkan penjelasan Ulama mufassir maknanya telah ditakhsis dengan hadist-hadist yang menjelaskan tentang rajam bagi seseorang yang telah menikah. Al Imam Ibnu Katsir, menjelaskannya di dalam tafsirnya:

———–

Ayat yang mulia ini mengandung aturan hukum yang sanksi untuk seseorang yang melakukan aktivitas perzinaan, dan bentuk hukumannya. Yaitu, untuk seorang yang belum menikah, yang berarti dia belum pernah sedikitpun menikah, atau dia akan menikah, dan dia bukan seorang budak, dewasa. Ketika bagi seorang yang perawan yang belum menikah, sanksinya adlaah 100 kali dicambuk, sebagaimana yang dinyatakan oleh ayat ini.

Ditambah lagi, dia juga dibuang dari daerah tempat tinggalnya selama 1 tahun, sebagaimana yang dinyatakan dari hadist shahih (mutafaq ‘alaihi) dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu dan Zaid bin Khalid al-Juhani, di dalam hadist yang terkait tentang dua orang Baduwi yang datang menemui Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam, salah seorang dari mereka berkata:

“wahai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam, anak ini adalah anakku yang berkerja kepada orang ini, dan melakukan zina dengan istrinya. Aku membayarnya seratus ekor domba dan seorang budak wanita, tetapi aku bertanya kepada orang-orang yang berilmu, mereka mengatakan bahwa anakku harus diberikan hukuman cambuk 100 kali, dan dibuang selama 1 tahun. Dan istri dari orang ini harus dirajam sampai mati…”[Lihat hadist dan syarah-nya di bagian tulisan ini]”

———–

Kesimpulan

Dengan demikian, sudah seharusnya bagi kita yang membenarkan perintah Allah subhana wa Ta’ala ini untuk berusaha dan berjuang dengan sungguh-sungguh menerapkan dan mengembalikan kehidupan Islam ditengah-tengah kita. Karena, hanya dengan penerapan hukum Allah subhana wa Ta’ala itulah yang akan memberikan jaminan kehidupan dan kemashlahatan bagi dunia dan akhirat kita, yaitu melalui tegaknya Khilafah ala al minhajun-nubuwwah. Dan bagi orang yang ikhlash dan menerima ketetapan hudud ini, maka Allah subhana wa Ta’ala akan membersihkan dosa-dosanya dan membebaskannya (Jawabir) dari siksa akhirat.

Dari Imran Ibnu Hushoin Radliyallaahu ‘anhu bahwa ada seorang perempuan dari Juhainah menemui Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam -dia sedang hamil karena zina- dan berkata: Wahai Nabi Allah, aku harus dihukum, lakukanlah hukuman itu padaku. Lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memanggil walinya dan bersabda: “Berbuat baiklah padanya, apabila ia melahirkan, bawalah bayi itu kepadaku.” Kemudian beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menyolatkannya. Berkatalah Umar Radliyallaahu ‘anhu : Apakah baginda menyolatkannya wahai Nabi Allah, padahal ia telah berzina? Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menjawab: “Ia benar-benar telah bertaubat yang sekiranya taubatnya dibagi antara tujuh puluh penduduk Madinah, niscaya cukup buat mereka. Apakah engkau mendapatkan seseorang yang lebih utama daripada ia menyerahkan dirinya karena Allah?”. [Riwayat Muslim.]

Sedangkan, bagi orang-orang yang tidak terkena sanksi tersebut, maka sesungguhnya ketetapan hudud ini akan memberikan kehidupan yang lebih baik, dan tercegah (Zawajir) dari melakukan pelanggaran yang menyebabkan rusaknya kehidupan. Inilah, termasuk bagian dari hikmah dari penerapan hokum Allah Subhana wa Ta’ala ini:

Dan dalam kisas itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.”[QS:2.179]

Allaahu a’lam bi-ash-showwab.

Catatan :

-Terima kasih kepada Ulama dan musyrif yang mengajarkan sebagian ilmunya, semoga ilmu dan amal jariyah mereka diberi balasan yang lebih disisi Allah Subhana wa Ta’ala.

-Penulis juga memohon maaf sebesar-besarnya jika ditemukan kesalahan di dalam penerjemahan, ini semua karena kebodohan dan keterbatasan penulis semata. Karena itu, tulisan ini bisa didiskusikan kembali kepada mereka yang lebih Faqih dan penulis bersedia menerima kritik, jazzakallaahu khaair. alhamdulillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s