Dalil Yang Memerintahkan Mendirikan Khilafah

Standard

Oleh : Riyan Zahaf

1. Pendahuluan

Di tengah-tengah arus opini yang menghina gagasan penegakan syariah dan khilafah, dan pelaksaan konferensi Rajab, sebagian kaum muslim masih berkembang gagasan yang meragukan keabsahan upaya penegakan daulah Islam di dalam Islam. Adalah suatu yang sangat aneh, dimana mereka mempertanyakan status dalil yang memerintahkan mendirikan daulah Islam, tetapi disaat yang sama mereka tidak mempertanyakan status dalil yang memerintahkan mendukung sistem demokrasi.

Di dalam Islam, tidak ada nash QUr’an dan Sunnah yang berbicara secara manthuq (tekstual) sistem Demokrasi, lalu mengapa mereka mesti mendukungnya? bahkan berupaya melakukan pemelintiran nash syara’ untuk mendukung perkara yang asing ini (sistem Demokrasi)? Karena itu, semestinya kita harus pula secara adil dan merenungi bagaimana Ulama-Ulama mu’tabar menjelaskan urgensi perkara syara’ ini dengan pandangan mereka yang jernih dan mendalam, bebas dari virus tsaqofah Barat yang senantiasa menghapuskan Islam dari benak-benak kaum Muslimin.

Alhamdulillah, karena telah banyak tulisan yang terkait dengan judul yang penulis sampaikan, karena itu Penulis hanya membahas sebagian kecil saja, dan menyikapi isu-isu yang meragukan peluang tegaknya syariah dan khilafah.

2. Salah  Satu Landasan Syara’ yang memerintahkan Kewajiban tegaknya Khilafah

Di dalam Al Qur’an, surah al Baqarah dikemukakan:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.[TQS. 2:30]

Berkenaan dengan ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah (di dalam kitab tafsir-nya) menjelaskan ayat diatas:

——————-

“Al Qurthubi dan ulama lainnya menjadikan ayat ini sebagai dalil yang menunjukkan keharusan mengangkat pemimpin untuk memutuskan perkara di tengah-tengah ummat manusia, mengakhiri pertikaian mereka, menolong orang-orang teraniaya dari yang menzhalimi, menegakkan hukum, mencegah berbagai perbuatan keji, dan berbagai hal penting lainnya yang tidak mungkin ditegakkan kecuali dengan adanya pemimpin, dan “Sesuatu yang menjadikan suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu itu sendiri merupakan hal yang wajib pula“.

——————-

Dalil dan penjelasan ini tentu saja bukan hanya menjelaskan pentingnya setiap Negara atau Imamah, tanpa memperdulikan apakah bentuk Negara itu Sekuler atau Islam. Karena, Imam Al Qurthubi juga menjelaskan maksud memutuskan perkara ditengah umat manusia adalah dengan syariah yang mulia, yaitu Islam (yang merupakan ciri khas Negara Islam) di ayat yang lain, bukan dengan aturan selain Islam.

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? [TQS. 5:50]

Imam Al Qurthubi rahimahullah, di dalam kitab tafsir-nya beliau menjelaskan (kurang-lebih):

——————-

“Sesungguhnya adalah sifat jahiliyah adalah ketika diturunkan aturan yang mulia (Yaitu Islam) tetapi masih berselisih di dalam menerapkan hukum Allah subhana wa ta’ala tersebut. Sebagaimana orang terdahulu terhadap selain orang yang berkedudukan, dimana orang Yahudi mengadili dengan hukum Allah Subhana wa Ta’ala kepada orang-orang yang lemah dan faqir, tetapi tidak menegakkannya terhadap orang-orang yang berkuasa dan Kaya. Maka adalah kerugian atau kebodohan di dalam pelaksanaan hukum jahiliah tersebut.

[Tafsir Jami’ li ahkamil Qur’an, Juz VIII, Hal 34]

——————-

Secara lebih jelas, Imam ibnu Katsir rahimahullah di dalam kitab tafsir-nya menjelaskan:

——————-

Melalui ayat ini Allah Subhana wa Ta’ala mengingkari perbuatan orang-orang yang keluar dari hukum Allah Subhana wa Ta’ala yang muhkam lagi mencakup semua kebaikan, melarang setiap perbuatan jahat, lalu mereka memilih pendapat-pendapat yang lain dan kecenderungan-kecenderungannya serta peristilahan yang dibuat oleh kaum lelaki tanpa sandaran dari syariat Allah Subhana wa Ta’ala, seperti yang pernah dilakukan oleh ahli Jahiliah.

Orang-orang Jahiliah memutuskan perkara mereka dengan kesesatan dan kebodohan yang mereka buat buat sendiri oleh pendapat dan keinginan mereka. Dan juga sama dengan hukum yang dipakai oleh bangsa Tartar berupa undang-undang kerajaan yang diambil dari raja mereka, yaitu Jengis Khan; perundang-undangan tersebut dibuat oleh Al-Yasuq untuk mereka. Undang-undang ini terangkum di dalam suatu kitab yang di dalamnya memuat semua hukum-hukum yang dipetik dari berbagai macam syariat, dari agama Yahudi, Nasrani, dan agama Islam serta lain-lainnya. Di dalamnya banyak terdapat undang-undang yang ditetapkan hanya berdasarkan pandangan dan keinginan Jengis Khan sendiri, kemudian hal tersebut di kalangan keturunannya menjadi peraturan yang diikuti dan lebih diprioritaskan atas hukum Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya. Barang siapa yang melakukan hal tersebut dari kalangan mereka, maka dia adalah orang kafir yang wajib diperangi hingga dia kembali kepada hukum Allah dan Rasul-Nya, karena tiada hukum kecuali hukum-Nya, baik dalam perkara yang kecil maupun perkara yang besar“.

——————-

Dengan demikian, menegakkan syariah (hukum Allah Subhana wa Ta’ala) dan berlepas dari hukum atau sistem jahiliyyah adalah suatu kewajiban. Dan tegaknya syariah atau terlepasnya hukum jahiliyah ini tidak dapat dilakukan secara sempurna kecuali dengan tegaknya imamah dan khilafah Islam, maka kewajiban menegakkan imamah, khilafah dan Daulah Islam adalah wajib pula, sebagaimana penjelasan Mufassir (Imam Al Qurthubi rahimahullah) diatas.

3. Relevankah Ide Tegaknya Khilafah Islam tersebut Menurut Ulama Kontemporer??

Penulis menemukan, bahwa ada kalangan yang menyatakan:

“Tak  ada negara Islam, Kristen, atau Hindu. Itu ide kampungan sekali,” .

Padahal, Ulama Kontemporer (kalangan IM, bukan hanya kalangan HT) telah menjelaskan kewajiban penegakan Negara Islam, yaitu:

——————-

Imam Syahid menjelaskan tentang dua asas utama, beliau berkata, “perhatikanlah selalu terhadap dua hal utama yang ingin kita capai:

Agar Negara muslim merdeka dari setiap dominasi asing. Hal itu merupakan hak asasi manusia. Tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang zalim lagi durhaka, atau para penjajah durjana.

Agar tegak di Negara ini sebuah daulah Islamiyah merdeka yang menerapkan hukum Islam, merealisasikan sistem sosialnya, mendeklarasikan prinsip-prinspinya yang lurus, dan menyampaikan dakwahnya yang bijak kepada seluruh manusia. Selama daulah ini belum tegak, maka seluruh kaum muslimin berdosa. Mereka bertanggungjawab di hadapan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung, kareka pengabaian mereka untuk menegakkannya dan keengganan mereka untuk mewujudkannya.

http://www.al-ikhwan.net/konsep-reformasi-dalam-perspektif-ikhwanul-muslimin-11-bab-ix-tentang-tujuan-membentuk-pemerintah-islam-4127/

——————-

Menegakkan khilafah ar Rasyidah diatas manhaj nubuwwah misalnya adalah salah satu daripada tahapan yang tidak akan menyampaikan kita kepada kejayaan kecuali dengan menegakkannya. Difahami dari sini adalah tidak harus kita menggugurkannya dari pegangan kita. Ketidakmampuan kita menegakkannya hari ini lantaran penguasaan musuh kita dan cengkraman sistem mereka menyeluruh terhadap usaha kita serta kedudukan mereka diatas kita, tidak berarti kita harus memadamkannya dari tahapan amal kita.”

[Ats-Tsawabit, Ats-Tsawabit Wal-Mutaghayyirat karya Dr. Jum’ah Amin, atau Metode Pemikiran Imam Hasan al Banna]

——————-

Sebelum setiap orang muslim keluar berjuang dan berperang di medan jihad, pada hakikatnya dia telah berhasil mengarungi medan jihad yang amat besar di dalam dirinya sendiri, melawan godaan setan dalam hatinya, menentang nafsu dan syahwat keinginan yang beraneka bentuk, menentang rasa tamak, menentang rasa cinta diri, cinta kaum kerabat dan anak bangsa sendiri, dan BAHKAN MENENTANG SEMUA SIMBOL YANG BUKAN SIMBOL ISLAM, MENENTANG SEMUA DORONGAN UNTUK MENYEMBAH DAN MEMATUHI SEMUA KEKUASAAN SELAIN ALLAH DAN SEMUA HALANGAN DARI TERLAKSANYA KEKUASAAN DAN PEMERINTAH ALLAH DI MUKA BUMI INI SERTA MENGHANCURKAN KEKUASAAN THAGHUT DAN SETAN-SETAN KEKUASAAN YANG MERAMPAS KEKUASAAN ALLAH……

Adapun “tanah” dan “bumi” saja maka tiada apa nilai dan harga pun, KARENA  SETIAP NILAI DAN HARGA BAGI “TANAH” DAN “BUMI” DALAM PANDANGAN ISLAM ADALAH BERUJUNG PADA BERKUASANYA PROGRAM DAN AJARAN ALLAH DI ATAS “TANAH” DAN “BUMI” ITU. Karena itulah maka “bumi” itu menjadi tapak semaian akidah dan juga program itu di dalam bentuk “Negeri Islam”, dan juga merupakan titik permulaan bagi perjalanan ke arah kebebasan umat manusia.

[Sayyid Quthub (asy-syahid, insyaAllah), Ma’alim Fit-thariq, Jihad Fisabilillah (3)]

——————-

Jadi, InsyaAllah, apa yang diperjuangkan HT di dalam kitab ta’rif HT yaitu:

——————-

(1) melangsungkan kehidupan Islam; (2) mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Tujuan ini berarti mengajak umat Islam agar kembali hidup secara Islami di dâr al-Islam dan di dalam lingkungan masyarakat Islam. Tujuan ini berarti pula menjadikan seluruh aktivitas kehidupan diatur sesuai dengan hukum-hukum syariat serta menjadikan seluruh pandangan hidup dilandaskan pada standar halal dan haram di bawah naungan dawlah Islam. Dawlah ini adalah dawlah-khilâfah yang dipimpin oleh seorang khalifah yang diangkat dan dibaiat oleh umat Islam untuk didengar dan ditaati. Khalifah yang telah diangkat berkewajiban untuk menjalankan pemerintahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya serta mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

——————-

 Adalah bukan  Ide KAMPUNGAN. Ayo, mari dukung Konferensi Rajab!!

Allaahu a’lam bi-ash-showwab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s