Ibu dan Calon Ibu, Perhatikan Makanan Keluarga Kita

Standard

Oleh : Nur Maulidiyah, Taiwan

Ibu, sudahkah kita memperhatikan apa yang dimakan dan diminum anak-anak kita di dalam rumah? Bagaimana dengan di luar rumah? apa ibu sudah sediakan makanan yang halal dan thayyib untuk suami dan anak-anak?

Allah telah memerintahkan dengan indah dalam firman-Nya:

كُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنتُم بِهِ مُؤْمِنُونَ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya,” ( QS. Almaidah :88) dan“Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan; karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu,” (QS.Albaqarah :168).

Firman Allah tersebut, bukankah kita sudah sering mendengarnya, Bunda? Kita diperintahkan untuk memakan makanan yang halal dan juga thayyib . Kita sebagai istri tentu yang menyediakan makanan untuk keluarga kita tercinta, semestinya memperhatikan hal yang satu ini.

Karena akhir-akhir ini banyak sekali makanan, minuman tercampur dengan yang haram. Sebagai contoh daging sapi banyak yang dioplos dengan daging babi. Begitu pula makan-makanan yang dijual instan banyak yang belum terjamin kepastian kehalalannya karena dengan kemajuan teknologi, banyak dari bahan-bahan haram tersebut yang dimanfaatkan sebagai bahan baku, bahan tambahan atau bahan penolong pada berbagai produk olahan.

Akhirnya yang halal dan yang haram menjadi tidak jelas, bercampur aduk dan banyak yang syubhat (samar-samar, tidak jelas hukumnya). Selain itu, barang-barang seperti kosmetika (bedak, pembersih muka, sabun dan lain-lain), sandal, sepatu bahkan obat dibuat dari barang haram dan najis.

Tentu kita tidak ingin bernasib seperti yang diberitakan Rasulullah Muhammad di dalam hadis. Al-Hafidz Ibnu Mardawih meriwayatkan sebuah hadis dari Ibnu Abbas bahwa ketika dia (Ibnu Abbas) membaca ayat: berdirilah Sa’ad bin Abi Waqash kemudian berkata: “Ya Rasulullah, do’akan kepada Allah agar aku senantiasa menjadi orang yang dikabulkan do’anya oleh Allah.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai Sa’ad perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan do’anya. Dan demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya,” (HR. At-Thabrani). Naudzubillah min dzalik.

Selain halal, kita tidak boleh lupa bahwa makanan dan minuman yang kita sediakan juga haruslah thayyib (baik). Al Quran menyebut lafadz ‘al-thayyib’ dalam bentuk mufrad mudzakkar sebanyak 6 kali, dan 4 diantaranya mengenai sifat makanan.

Imam Ibn Katsir dalam menafsirkan ayat Al-Baqarah: 168 di atas berkata, ”Setelah Allah menjelaskan bahwa tidak ada Tuhan kecuali Dia. Dialah Tuhan yang tidak bergantung pada makhluk, maka Dia menjelaskan bahwa Dialah Tuhan Yang Maha Pemberi rezeki kepada semua makhluk-Nya. Ketika menyebutkan karunia-Nya, Dia membolehkan mereka untuk memakan apa yang halal di muka bumi, sebagai karunia dari Allah. ‘Al Thayyib’ (baik) yaitu zatnya dinilai baik, tidak membahayakan tubuh dan akal”.

Jangan sampai kita memasukkan ke dalam tubuh kita dan keluarga, makanan yang justru membahayakan, seperti makanan yang mengandung pewarna, pemanis buatan, penyedap rasa buatan dan bahan-bahan berbahaya lain untuk tubuh. Begitu pula dalam obat, kita harus memperhatikan halal wa thayyib.

Khilafah Menjamin ‘Halal dan Thoyib’

 

Di tengah sistem sekulerisme yang memisahkan agama dengan kehidupan seperti di negara kita, tentu jauh jika berharap pada pemerintah akan mencegah peredaran makanan haram. Apalagi sampai tataran menjaga dari makanan, minuman, barang-barang yang tidak thayyib.

Ini jelas sangat berbeda dengan kondisi negara Islam (Daulah Islamiyah) seperti yang contohkan Rasulullah sebagai pemimpin negara dalam melaksanakan aktivitas peradilan (Alqudhot). Kita bisa melihat dalam peristiwa tumpukan makanan (shubrah at-tha‘âm).

 

Diriwayatkan di dalam Shahîh Muslim dari Abu Hurairah r.a.:

Sesungguhnya Rasulullah Saw. pernah berjalan melewati tumpukan makanan. Beliau kemudian memasukkan tangannya dan mendapati sebagiannya masih basah. Beliau lalu bersabda, “Apa ini, wahai pemilik makanan?” Pemilik makanan itu berkata, “Itu terkena air hujan, ya Rasulullah.” Lalu Beliau bersabda, “Lalu mengapa tidak engkau letakkan di atas supaya orang-orang bisa melihatnya. Siapa saja yang menipu maka ia tidak termasuk dari golongan kami.”

Seperti yang dijelaskan dalam kitab ajhizah daulah khilafah, dalam sistem khilafah akan ada qadhi khusus yang mengurusi/menangani perkara-perkara yang berkaitan dengan hak-hak masyarakat yang dinamakan Qadhi Almuhtasib sebagaimana yang diambil dari aktifis Rasulullah dalam hadis di atas .

Tugas Qadhi ini adalah mencari, memeriksa, dan menindak pihak-pihak yang melanggar hak-hak masyarakat atau membahayakan masyarakat termasuk di dalamnya berkaiatan dengan peredaran makanan, minuman, dan barang-barang haram dan tidak thayyib.

Lalu bagaimana dengan kita sekarang? Tentu kita, para istri dan bunda tidak akan berdiam diri, kita berdakwah agar para muslimah memahami syariah Islam dan berjuang bersama menegakkan kembali khilafah islamiyah. Agar tercipta masyarakat yang kepribadiannya, makanan yang masuk ke dalam tubuhnya seluruhnya sesuai hukum Allah.

Untuk saat ini, kita perlu mencermati setiap makanan, minuman dan barang-barang yang masuk ke dalam tubuh dan rumah keluarga kita. Kita terbantu dengan sertifikasi dari LPPOM-MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia ) untuk sertifikasi halal.

Sekarang telah tersedia daftar makanan,obat,dan kosmetika halal di situs LPPOM-MUI. Langkah selanjutnya, kita senantiasa belajar dan mencari referensi tentang makanan dan minuman yang berbahaya agar terhindar darinya.

Yuk, menjadi istri dan bunda yang sholehah dan smart! Hidup sejahtera dalam naungan khilafah. Wallahu’alam bishhowab.

Sumber Tulisan : 

http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/ibu-dan-calon-ibu-perhatikan-makanan-keluarga-kita.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s