Apik Di Ranah Publik

Standard

Oleh : Linda Merina, Gyeongsan- Korea Selatan

Senyum sendiri membaca sebuah artikel yang mengklasifikasikan karakter orang berdasarkan statusnya di facebook. Entah ada dalam kategori yang mana saya berada. Tak dipungkiri adanya facebookmembuat orang tampak berlomba menjadi seleb mungkin termasuk saya pribadi, astagfirullohal’adziim!. Ada yang sebatas mengekspresikan perasaan. Tetapi ada pula pengharapan untuk  sebuah pengakuan publik bahwasanya dirinya begini dan begitu sesuai yang tertulis dalam status. Pengakuan itu biasanya diinterpretasikan melalui banyaknya jempol dan komentar dari setiap status. Lihat saja beberapa status berbeda yang kita dapati tiap harinya. Mulai dari sebuah doa di pagi hari, menu sarapan yang tersaji, curhatan melankolis, paragraf puitis, sampai pada nasihat yang menenangkan hati. Ahh tampak indah sekali rasanya hidup ini.Penuh dengan warna.

Tak ada yang salah dengan media ini. Satu hal yang perlu kita renungkan adalah bagaimana bisa mengerem diri untuk lebih apik menuliskan sesuatu di ranah publik. Paparan salah seorang penulis, tulisan itu adalah cerminan kedewasaan seseorang. Betul tidaknya anda sendiri yang bisa mengamati.

Dan nyatanya perlu kehati-hatian dalam menuliskan sesuatu tentang diri. Niat awal ingin berbagi hikmah, tapi rusak oleh riya dan sum’ah yang tidak terasa menyerang hati.

Beberapa ulama, salah satunya Izuddin Adbussalam, mendefinisikan riya’ adalah perbuatan yang mengandung unsur dilakukan bukan karena Allah Ta’ala. Sedangkan sum’ah adalah memperdengarkan suatu perbuatan baik yang sebelumnya dilakukan secara tersembunyi. Rasulullah  memasukkan keduanya (riya’ dan sum’ah) sebagai syirik kecil (asy-syirkul ashghar). Melakukan suatu ibadah disertai keinginan untuk mendapatkan pujian. Dalam sebuah riwayat, Al-Imam Ahmad mencatat sebuah perkataan Rasulullah SAW, “Sesungguhnya yang sangat aku khawatirkan pada kalian adalah asysyirkul ashghar!”

Tak jarang pula kita dapati berbagai keluh kesah hidup yang terangkai dalam suatu status. Deretan masalah seolah tak kunjung bosan menyapa. Teringat nasihat seorang kawan, “Tak perlulah kita menceritakan masalah kita, ingin diakui sebagai orang termalang sedunia. Perlu kita tahu, masalah itu hinggap dalam setiap diri manusia. Besar kecilnya tergantung cara penyikapan kita”. Dan kalimat super berikut ini mudah-mudahan bisa menjadi renungan kita bersama.

Jika ada situasi yang tidak kamu sukai. Kondisi yang membatasi. Jangan mengeluh. Hampir semua orang pernah berada atau mungkin masih berada pada keadaan yang tidak enak; capek, sakit, tidak punya uang, tidak suka pekerjaan yang sekarang, dan ujian-ujian hidup yang mungkin jauh lebih berat dari yang kita alami. Pada kondisi itulah, kamu bisa melihat, seberapa pejuang-kah dirimu? Buang alasan… NO EXCUSE! Hadapi hidup dengan senyum, tertawakan kesedihan [Asma Nadia].

Terakhir, cerdaslah memilih sesuatu yang akan dishare. Tak pantas rasanya sesuatu yang private dengan mudah menjadi obrolan di ruang publik.

Coretan dini hari penguat hatii…

Sampungdong, 2 Januari 2012

Sumber Tulisan :

(http://melukiskisah.wordpress.com/2012/04/06/apik-di-ranah-publik/)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s