Membiasakan Anak jadi Ahli Ibadah

Standard

        Sangat penting bagi setiap orangtua membiasakan dan melatih anak agar menunaikan berbagai amalan ibadah, seiring dengan pembinaan akidah dalam diri anak sejak usia dini. Sebab, pembinaan dan pembiasaan ibadah itu dapat menyempurnakan bangunan akidah dalam diri anak.

         Masa anak-anak bukanlah masa taklif, melainkan tahapan persiapan, pembelajaran dan pembiasaan untuk sampai pada tahapan taklif pada saat ia balig. Dengan itu, ia akan mudah menunaikan berbagai kewajiban dan betul-betul siap untuk mengarungi medan kehidupan.

       Persiapan, pembelajaran dan pembiasaan dalam masalah ibadah paling tidak harus dilakukan atas beberapa ibadah utama, yaitu shalat, shaum, zakat, haji dan jihad; juga doa yang merupakan mukhkh al-ibâdah (otaknya ibadah). Salah satu ibadah yang penting diajarkan agar anak mengamalkannya adalah shalat.

Allah Swt. berfirman:
Perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. (TQS Thaha [20]: 132)

        Upaya itu dapat dilakukan dengan tahapan dan upaya berikut:

a. Tahapan mengajak dan melatih

        Tahap ini dimulai ketika anak bisa membedakan kanan dan kiri (kira-kira usia 3 tahun) sampai anak berusia 7 tahun. Abdullah bin Habib menuturkan, Nabi Muhammad saw pernah bersabda :
“Jika seorang anak telah mengetahui (membedakan) tangan kanannya dari tangan kirinya maka latihlah ia menunaikan shalat” (HR Thabrani).

        Tahapan ini adalah untuk mengajak dan melatih. Ajaklah anak untuk menunaikan shalat, termasuk persiapannya mulai dari berwudhu. Biarkan ia melihat bagaimana kita berwudhu, bagaimana kita mempersiapkan diri dan bagaimana kita menunaikan shalat. Dengan begitu, ia akan mengenal tatacara berwudhu, persiapan shalat, dan gerakan-gerakan shalat. Ia, dengan keingintahuannya, akan mulai menirukannya, meski belum sempurna.

        Doronglah ia menirukan gerakan shalat, misal dengan menjanjikan sesuatu jika ia bisa menirukannya. Seiring waktu, jika hal ini dilakukan terus menerus, anak akan bisa berwudhu dan menunaikan gerakan shalat dengan benar.

        Dalam melakukan ini, kesabaran harus terus menyertai kita. Bisa saja anak akan naik ke punggung saat kita sujud, bergelayutan saat kita berdiri, atau malah duduk di depan kita. Sikapilah dengan sabar, jangan langsung menghardiknya. Begitulah yang dicontohkan oleh baginda Nabi saw. terhadap cucu Beliau al-Hasan. Setelah selesai, jelaskan kepadanya bahwa hal itu tidak boleh, tentu sesuai dengan tingkat intelektualitasnya. Jangan karena ingin khusyuk, kita lantas tidak mau shalat bersama anak. Ingat, shalat bersama anak tidak akan mengurangi nilai kekhusyukan shalat kita, mMalah akan sangat bermanfaat, yakni melatih dan membiasakannya menunaikan shalat.

b. Tahapan menyuruh dan mengajari

        Tahapan ini dilakukan saat anak usia 7-10 tahun. Rasul saw. pernah bersabda:
“Ajarilah anak-anak shalat (sejak) usia 7 tahun dan pukulah ia (untuk mendidiknya) pada usia 10 tahun” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, al-Baihaqi dan al-Hakim).

        Sejak usia 7 tahun anak selain terus diajak juga mulai disuruh menunaikan shalat, baik bersama atau sendiri. Anak diajari hukum seputar wudhu, niat, rukun dan bacaannya, tayamum, jenis air dan bersuci secara umum, adab seputar wudhu termasuk doa sehabis berwudhu. Anak juga diajari tentang macam shalat fardhu dan sunnah beserta jumlah rakaatnya. Juga tentang syarat, rukun dan bacaannya, yang membatalkannya, sunahnya, gerakan shalat yang benar, adab shalat, dsb. Termasuk adab, bacaan dan zikir sesudah shalat.

      Sediakan alat-alat peraga untuk mempermudah mengajarkan shalat. Misal: memajang gambar tuntunan berwudhu, tuntunan shalat, atau dengan memutarkan VCD tuntunan berwudhu dan shalat. Ajak anak memperhatikannya dan berikan penjelasan tentangnya sedikit demi sedikit sampai ia paham benar.

        Doronglah dan beri kesempatan ia melakukan praktik shalat. Beri penghargaan kepadanya. Jangan pelit memberikan pujian atau hadiah, misalnya. Kita perlu mendorong anak menanyakan hal yang belum ia mengerti. Kita hendaknya mendengarkannya dengan antusias dan menjelaskan apa yang ia tanyakan. Saat sedang safar, kita bisa menggunakannya untuk mengajari anak tentang shalat dalam safar, baik shalat jamak ataupun qashar.

      Jika anak masih keliru maka perbaiki kekeliruan itu secara persuasif. Tahapan ini adalah tahapan yang lebih menekankan aspek persuasif. Mengobral celaan hendaknya dijauhi dan diminimalkan. Sebaliknya, perbaiki kekeliru-annya dengan menunjukkannya cara yang benar. Ibn Abbas bertutur, ia pernah menginap di tempat bibinya, Ummul Mukminin Maimunah. Saat Rasulullah bangun shalat malam, ia turut bangun dan ikut shalat. Ia berdiri di samping kiri Beliau, lalu Beliau menariknya ke sebelah kanan Beliau. Demikian sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Khuzaimah dalam Shahîh Ibn Khuzaimah.

        Anak mesti dipahamkan bahwa menunaikan shalat adalah perkara yang sangat penting dan harus sangat diperhatikan. Tunjukkan penghargaan kita saat anak menunaikannya dengan baik. Sebaliknya, tunjukkan juga ketidaksukaan kita saat ia lalai. Tunjukkan bahwa kita sangat memperhatikan shalat dan mengutamakannya. Misal, saat hendak berangkat ke satu acara, sedangkan anak belum shalat dan belum ganti pakaian, maka tidak sepantasnya kita katakan, “Nanti saja shalat sepulangnya. Cepat siap-siap sana,” atau, “Shalat cepat sana dan berpakaian.” Sadar atau tidak, dengan itu kita telah menyuruhnya menomorduakan shalat. Sebaiknya kita katakan, “Shalatlah dulu. Kalau sudah selesai, segera berpakaian.”

        Semua itu adalah tugas ayah dan ibu; perlu kerjasama yang apik di antara keduanya. Misal, saat ibu sedang haid, ayah mengambil peran itu. Saat Anda (ayah) tidak berada di rumah, teleponlah anak Anda dan tanyakan, sudahkah ia menunaikan shalat.

       Harus diingat bahwa upaya mengajak, menyuruh dan mengajari anak pada tahap ini harus dilakukan secara persuasif, perlahan, bertahap, dan dengan pengulangan terus-menerus disertai kesabaran. Sahabat Ibn Mas’ud menasihati kita, “Jagalah anak-anakmu dalam hal shalat, dan latihlah melakukan kebaikan, karena kebaikan itu adalah kebiasaan.” Berbagai penelitian modern juga membuktikan pentingnya pengulangan. Karena itu, janganlah kita pernah bosan dan putus asa untuk mengulang dan mengulanginya lagi.

c. Tahapan menyuruh dan memberi sanksi

        Tahapan ini dimulai sejak anak berusia 10 tahun. Pada tahapan ini upaya memahamkan anak secara persuasif harus dilakukan lebih intensif. Harus dijelaskan kepada anak akan wajibnya shalat, pahala surga bagi orang yang senantiasa menjaga shalatnya, serta dosa dan siksa neraka bagi yang melalaikannya. Hal itu disertai deskripsi tentang surga dan kenikmatannya serta neraka dan kepedihan azabnya. Cara ini bisa dilakukan dengan membacakan ayat tentang sifat mutaqqîn, tentang surga dan neraka, dan ayat lain beserta uraian dan penjelasannya.

       Berikan nasihat dan peringatan kepada anak dengan cara dan ungkapan yang berkesan. Cara dan ungkapan yang menunjukkan bahwa kita sangat menyayanginya, dan kita sangat ingin kelak bisa bersamanya di surga, karenanya kita ingin ia senantiasa menjaga shalat. Hal itu bisa disampaikan dengan berbicara berdua dengannya saat menjelang ia tidur; bisa juga disampaikan oleh ayah lewat surat yang ditulis sebelum keluar kota untuk diberikan kepadanya oleh ibu saat ayah sudah berangkat; atau dengan cara dan bentuk lainya. Di sini perlu kreativitas.

       Ketika tahapan a dan b serta upaya ini sudah dilakukan, dan anak lalai atau meremehkan shalat, atau malas-malasan, maka hal itu harus disolusi dengan memberikan sanksi, di antaranya dengan memukulnya, sesuai dengan hadis Rasul saw. di atas; yaitu dengan pukulan mendidik, bukan pukulan menyiksa; sebaiknya disertai dengan memahamkannya sebab ia dipukul; juga bahwa kita melakukannya karena kita sangat menyayanginya. Akan sangat berpengaruh seandainya saat melakukan itu terlihat titik-titik air mata keluar dari mata kita.

      Di samping semua itu, latih dan biasakan anak menunaikan shalat sunnah rawatib dan dhuha. Ajaklah mereka berangkat bersama untuk shalat Id. Jika telah cukup umur, latih dan ajaklah shalat malam. Jika mereka mempunyai urusan, dorong dia untuk shalat istikharah. Anak juga harus dilatih dan dibiasakan shalat di masjid. Ajak mereka shalat berjamaah di masjid sekaligus untuk mengajari mereka shalat berjamaah, termasuk untuk shalat Jumat bagi anak laki-laki. Karena itu, juga perlu diajarkan adab di masjid, mulai dari meletakkan sandal teratur ditempatnya, masuk dengan tenang, shalat tahiyat masjid, tidak gaduh dan mondar-mandir di dalam masjid, memper-hatikan kajian dan khutbah, dsb. Hendaknya kita berupaya menautkan hati mereka dengan masjid, di antaranya dengan sering mengajak ke masjid, mendorong ke masjid sendiri, mengingat masjid, dsb.

Allâhumma ij’alnâ wa awlâdanâ min ’ibâdika al-âbidîn mukhlishîn.

[Share ilmu dari :Ummu Rasikha F. R.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s