HIFZHUL QUR’AN

Standard

 

Oleh : Ust. Suherman

I. MUKADDIMAH

      Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah swt yang terdiri dari ruh dan jasad serta dikaruniai akal (QS. 17:36), serta Allah muliakan manusia dengan tugas ibadah (QS. 51:56) dan kedudukan sebagai khalifah di muka bumi (QS. 2:30).

      Agar manusia mampu melaksanakan 2 tugas mulia tersebut maka Allah swt memberikan tuntunan berupa Al Qur’an dan sunnah Nabi-Nya (QS. 33:36). Jika manusia berpegang teguh kepada keduanya, maka ia akan meraih kemuliaan dunia dan akhirat.

      Memahami hal itu, maka memperkenalkan dan mengakrabkan Al Qur’an sejak dini menjadi sebuah keniscayaan, karena semakin dini seorang manusia dikenalkan dan diakrabkan pada Al Qur’an maka harapan meraih kesuksesan itu semakin besar, insya Allah. Hal ini sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para generasi salafush shalih. Setelah Rasul saw menerima nubuwah, maka yang pertama kali didakwahi untuk diperkenalkan dengan Al Qur’an adalah Ali bin Abi Thalib ra., setelah sebelumnya mendakwahi istrinya, Khadijah ra. Hal ini menyiratkan 2 hal :

1. Memperkenalkan Al Qur’an sejak awal kepada keluarga terdekat untuk mengkondisikan keluarga dalam nuansa Qurani.

2. Meperkenalkan Al Qur’an kepada manusia sejak dini akan membuat peluang muncunya generasi Qur’ani semakin besar, bi idznillah. Karena hakikatnya manusia terlahir dalam keadaan fitrah dan Al Qur’an lah kitabullah yang mampu memberi tuntunan pemanfaatan karakter fitrahnya seorang manusia. Ini pula yang terjadi kepada Mush’ab bin Umair serta para shahabat belia lainnya yang kemudian pola ini dilanjutkan oleh generasi berikutnya hingga muncullah orang-orang sekaliber Muhammad Al Fatih, Ibnu Sina, Al Khwarizmi, Banu Musa bersaudara, Al Idrisi, Imam Syafi’I, Ibnu Taimiyah, Hasan Al Banna, Keluarga Quthb, bahkan dalam skala sejarah negeri ini, yaitu Indonesia, mampu memunculkan tokoh ulama pejuang sekaliber Jendral Soedirman, Pangeran Diponegoro dan tokoh-tokoh luar biasa lainnya yang kesuksesannya tercatat dalam tinta emas peradaban.

      Wajar jika Rasul saw pernah memerintahkan ummatnya agar mengajarkan 3 hal kepada anak-anaknya, yaitu, “Ajarkan mencintai Nabinya, ajarakan mencintai keluarga Nabi dan ajarkan Al Qur’an”.

II. PENGERTIAN AL HIFZH (MENGHAFAL)

      Secara bahasa/etimologi Al Hifzh bermakna selalu ingat dan sedikit lupa. Hafizh (Penghafal) adalah orang yang menghafal dengan cermat dan termasuk sederet kaum yang menghafal. Al Hifzh juga bermakna memelihara, menjaga, menahan diri, ataupun terangkat. Dalam kaitan menghafal Al Qur’an, maka harus memperhatikan 3 unsur pokok, yaitu :

1. Menghayati bentuk-bentuk visual sehingga bisa diingat kembali meski tanpa melihat mushaf.

2. Membacanya secara rutin ayat-ayat yang dihafalkannya.

3. Mengingat-ingat ayat-ayat yang dihafalkannya.

     Secara Istilah/terminologi, pengertian Al Hifzh sebenarnya tidak berbeda dengan pengertian secara bahasa/etimologi, tetapi ada dua hal yang secara prinsip membedakan seorang Penghafal Al Qur’an dengan penghafal hadits, syair, hikmah, tamsil ataupun lainnya, yaitu :

1. Penghafal Al Qur’an dituntut untuk menghafal secara keseluruhan baik hafalan maupun ketelitiannya. Karena itu tidaklah dikatakan Al Hafizh orang yang menghafal setengahnya atau dua pertiganya atau kurang sedikit dari 30 Juz dan tidak menyempurnakannya. Dan hendaklah hafalannya dalam keadaan cermat dan teliti.

2. Menekuni, merutinkan dan mencurahkan segenap tenaga untuk melindungi hafalannya dari kelupaan.

III. KILAS SEJARAH PROSES PENJAGAAN AL QURAN

      Salah satu keistimewaan Kitab suci Al Quran diantaranya adalah mudah dihafal. Hal ini terjadi sejak zaman Nabi saw masih hidup bahkan sampai sekarang dan insya Allah akan terus berlangsung sebelum hari kiamat tiba. Hafalan Al Qur’an merupakan salah satu tolok ukur keimanan dan keilmuan seorang mu’min. Allah swt berfirman dalam QS. Al Ankabuut : 49 :

“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zhalim.”

      Rasulullah saw adalah seorang Hafizh yang pertama kali dalam sejarah ummat ini. Beliau saw adalah imam para hufazh, penghulu para ahli Qiro’ah. Kemudian para shahabat ra banyak yang langsung bertalaqqi kepada Nabi saw, diantaranya :

1. Utsman bin Affan ra

2. Ali bin Abi Thalib ra

3. Ubay bin Ka’ab ra

4. Abdullah bin Mas’ud ra

5. Zaid bin Tsabit bin Dhahak ra

6. Abu Musa Al Asy’ari ra

7. Abu Darda ra

        Menurut Imam Adz Dzahabi, merekalah para hufazh semasa Rasul saw masih hidup. Kepada merekalah sanad-sanad Imam Qira’ah sampai ke tangan kita. Begitu pula banyak para shahabiat yang juga penghafal Qur’an, salah satunya adalah Ummu Waraqah binti Abdullah bin Harits yang digelari Nabi saw. dengan Asy Syahidah. Di kalangan Tabi’in diantaranya Abu Al Aliyah Ar Rahayi Rafi Ibnu Mahran, Abu Raja Al ‘Atharidi Imran bin Mulhan Al Bashari, Hasan bin Abu Hasan Yasar serta masih banyak lagi lainnya.

      Dengan pola yang mutawatir seperti inilah Al Qur’an diwariskan dari generasi ke generasi. Walau zaman berganti, namun proses pewarisan seperti ini tetap terpelihara, bi idznillah.

IV. KEUTAMAAN HIFZHUL QUR’AN

1. Bernilai ibadah dimana pahalanya dihitung dari tiap huruf yang dibaca

       Dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah bersabda, ” Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka akan mendapat hasanat dan tiap hasanat mempunyai pahala berlipat 10 kali. Saya tidak berkata Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dn Mim satu huruf.” (HR Tirmidzi)

2. Menjadi ruh penggerak kemajuan kehidupan manusia, jika dibaca dan ditadabburi

      “Dan Demikianlah kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

3. Ciri orang-orang yang berilmu dan tolok ukur keimanan

      Saat Al Qur’an dihafalkan, maka ayat-ayat yang dibaca dipindahkan dari tulisan ke dalam dada. Hal ini merupakan cirri orang-orang yang diberi ilmu dan merupakan tolok ukur keimanan dalam hati seseorang.

“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zalim” (QS. Al Ankabuut : 49)

4. Sebaik-baik amal

      Rasulullah saw. bersabda : “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al Qur’an” (HR. Bukhari dari Utsman bin Affan).

5. Akan mendapat rahmat dan kasih sayang dari Allah SWT

      Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai 2 ahli diantara manusia”. Sahabat bertanya, ”Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Ahli Al-Qur’an adalah ahli Allah, dan orang-Nya khusus.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, Hadits Hasan)

6. Al-Qur’an akan menjadi penolong dan memberi syafaat di hari kiamat

      Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Al-Qur’an bertemu pembacanya pada hari kiamat saat kuburannya dikuak, dalam rupa seorang laki-laki yang pucat. Dia (Al-Qur’an) bertanya, “apakah engkau mengenalku? Dia menjawab, “aku tidak mengenalmu!”. Al-Qur’an berkata, “Aku adalah temanmu, Al-Qur’an, yang membuatmu kehausan pada siang hari yang panas dan membuatmu terjaga pada malam hari. Sesungguhnya pedagang itu mengharapkan hasil dagangannya, dan sesungguhnya pada hari ini aku adalah milikmu dari hasil seluruh perdaganganmu, lalu dia memberikan hak milik orang itu Al-Qur’an dengan tangan kanan dan memberikan keabadian dengan tangan kirinya, lalu di atas kepalanya disematkan mahkota yang berwibawa, sedangkan Al-Qur’an mengenakan 2 pakaian yang tidak kuat disangga oleh dunia. Kedua pakaian ini bertanya, “Karena apa kami engkau kenakan?”. Ada yang menjawab: “Karena peranan Al-Qur’an. Kemudian dikatakan kepada orang itu,”Bacalah sambil naik ketingkatan-tingkatan syurga dan biliknya, maka dia naik sesuai dengan apa yang dibacanya, baik baca dengan cepat, maupun dengan tartil.” (HR Ahmad).

     Dari Abu Umamah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat, sebagai pembela pada orang yang mempelajari dan mentaatinya.” (HR Muslim).

      Dari An Nawas bin Sam’an, Rasulullah SAW bersabda, ”Pada hari kiamat akan didatangkan Al-Qur’an dan orang-orang yang mempraktekan di dunia, didahului oleh surah Al Baqarah dan Ali Imran yang akan membela dan mempertahankan orang-orang yang mentaatinya.” (HR. Muslim)

7. Ditempatkan bersama para malaikat

Dari Aisyah ra, Raslullah SAW bersabda, ”Orang yang mahir dalam membaca Al-Qur’an akan berkumpul para malaikat yang mulia-mulia lagi taat. Sedang siapa orang yang megap-megap dan berat jika membaca Al-Qur’an, mendapat pahala 2 kali lipat.” (HR Bukhari, Muslim)

8. Mendapat rahmat dan sakinah dari Allah swt

      Dari Al Barra bin Azib RA, “ Ada seorang membaca surat Al Kahfi sedang tidak jauh dari tempatnya, ada kuda yang terikat dengan tali kanan kiri, tiba-tiba orang itu diliputi oleh cahaya yang selalu mendekat kepadanya, sedang kuda itu lari ketakutan. Dan pada pagi hari ia datang memberi tahu kejadian itu kepada nabi SAW, maka bersabda nabi SAW, ”Itulah ketenangan (rahmat) yang telah turun untuk bacaan Al-Qur’an itu.” (HR Bukhari dan Muslim).

      “Tidak ada satu kaum yang mereka sedang berdzikir kepada Allah, kecuali para malaikat akan mengitarinya, dan rahmat Allah akan tercurah kepadanya, dan sakinah (kedamaian) akan turun di atasnya, dan Allah akan sebutkan mereka pada malaikat yang ada di sisi-Nya. (HR. At Tirmidzi dan Ibn Majah dari Abu Hurairah dan Abu Said).

9. Aroma orang beriman

      Sabda Nabi saw. : “Perumpamaan orang beriman yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan buah utrujah, oromanya harum dan rasanya nikmat…..”

10. Diangkat derajatnya oleh Allah swt di dunia

      “Sesungguhnya Allah akan mengangkat suatu kaum dengan kitab ini dan akan menjatuhkannya dengan kitab ini pula” (HR Muslim dari Umar bin Khatthab).

11. Menghidupkan hati

      Dari Ibn Abbas ra berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya orang yang di hatinya tidak ada sesuatupun dari Al Qur’an, maka ia bagaikan rumah kosong. (HR At Tirmidzi).

12. Seorang Ahlul Qur’an adalah orang yang dianugerahi nikmat Rabbani

       “Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, ‘Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat” (HR. Bukhari)

      Bahkan nikmat mampu menghafal Al Qur’an sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak mendapatkan wahyu. Rasul saw. Bersabda, “Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Qur’an, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan kepadanya.” (HR. Hakim)

13. Penghafal Qur’an mendapatkan tasyrif nabawi/penghargaan khusus dari Nabi saw

      Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW kepada para sahabat penghafal Al Qur’an adalah perhatian kepada para syuhada Uhud yang hafizh Al Qur’an. Rasul saw mendahulukan pemakamannya.

   “Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian beliau bersabda, “Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qur’an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari).

      Pada kesempatan lain, Nabi saw. memberikan amanat kepada para Huffazhul Qur’an dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah saw. sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini..surat ini.. dan surat Al Baqarah.” Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.”. Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At Tirmidzi dan An Nasaa’i).

      Kepada orang yang hafal Al Qur’an, Rasul saw menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama’ah. Rasulullah saw. bersabda, “Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim).

14. Menghormati seorang hafizh Al Qur’an berarti mengagungkan Allah

      “Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah menghormati orang tua yang muslim, penghafal Al Qur’an yang tidak melampaui batas (di dalam mengamalkan dan memahaminya) dan tidak menjauhinya (enggan membaca danmengamalkannya) dan Penguasa yang adil.” (HR. Abu Dawud).

15. Ditinggikan derajatnya oleh Allah swt di surga

       Rasulullah SAW bersabda: Dikatakan kepada orang yang berteman dengan Al-Qur’an, “Bacalah dan bacalah sekali lagi serta bacalah dengan tartil, seperti yang dilakukan di dunia, karena manzilah-mu terletak di akhir ayat yang engkau baca. “ (HR Tirmidzi)

16. Mendapatkan taajul karomah/mahkota kehormatan dari Allah swt. di akhirat

       Mereka akan dipanggil, “Di mana orang-orang yang tidak terlena oleh menggembala kambing dari membaca kitabku?”. Maka berdirilah mereka dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan, diberikan kepadanya kesuksesan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan kirinya”. (HR. Ath Thabrani)

17. Kedua orang tuanya akan mendapat kemuliaan di akhirat

       “…maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an…” (HR. Al Hakim).

18. Perniagaan atau bisnisnya akan selalu untung dan tidak akan pernah rugi

        “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” (QS. Faathir : 29-30)

V. METODE MENGHAFAL QUR’AN DAN PERSIAPANNYA

       Sebelum memulai menghafal Al Qur’an, ada beberapa persiapan yang harus diperhatikan, yaitu :

1. Ikhlas dan memiliki azzam.

2. Perasaan mengagungkan Al Qur’an.

3. Memiliki Ihtimam/perhatian terhadap Al Qur’an serta ihtimam dalam proses menghafalnya.

4. Menetapkan target.

5. Mengatur waktu dengan baik.

6. Menguasai metode dalam menghafal Al Qur’an.

7. Memiliki bacaan yang baik.

8. Memiliki pembimbing dan bi’ah dalam menghafal Al Qur’an.

9. Satu Mushaf, maksudnya jenis atau karakter mushaf yang dipakai untuk menghafal Al Qur’an tidak berubah.

10. Memperhatikan, mencatat dan teliti terhadap ayat-ayat yang gharib atau mutasyabihat.

11. Sabar dalam menghadapi masyaqat/halangan dalam menghafal Al Qur’an.

12. Meninggalkan maksiat.

13. Senantiasa memperbanyak amal nawafil dan berdo’a.

      Metode menghafal Al Qur’an secara umum yang lazim dipakai oleh para penghafal Qur’an adalah :

1. الحفظ قبل التكرار

Yaitu metode membaca berulang-ulang lebih dahulu ayat atau surat yang akan dihafalkan.

2. الحفظ قبل الإستماع

Yaitu metode mendengarkan berulang-ulang lebih dahulu ayat atau surat yang akan dihafalkan.

3. الحفظ قبل الفهم

Yaitu metode memahami ayat atau surat yang akan dihafalkan. Untuk memahaminya akan lebih bagus jika menggunakan tafsir. Kalaupun hanya menggunakan terjemahan, maka hal itupun tidak masalah jika mampu membantu memahami ayat atau surat yang akan dihafal.

4. الحفظ قبل التدوين

Yaitu metode menuliskan lebih dahulu ayat atau surat yang akan dihafal.

        Salah satu “penyakit” seorang yang sedang menghafal Al Qur’an adalah malas melakukan muroja’ah. Padahal muroja’ah adalah bagian dari proses menghafal itu sendiri. Beberapa hal terkait muroja’ah diantaranya :

1. Muroja’ah harian, yaitu minimal sebelum tidur dengan didawamkan tiap hari. Kemudian ayat atau surat yang sudah dihafal digunakan atau dipakai dalam Qiyamullail.

2. Muroja’ah mingguan (Yaumul Qur’an mingguan), yaitu mempunyai waktu satu hari dalam satu minggu untuk melakukan muroja’ah hafalan yang kuantitasnya lebih banyak dari muroja’ah harian.

3. Muroja’ah bulanan (Yaumul Qur’an bulanan), yaitu mempunyai waktu satu sampai 3 hari untuk melakukan muroja’ah hafalan yang kuantitasnya lebih banyak dari muroja’ah bulanan.

4. Muroja’ah tahunan (Yaumul Qur’an tahunan), yaitu memuroja’ah seluruh hafalan yang dimiliki dalam satu waktu (biasanya antara 1-7 hari, tergantung jumlah hafalan yang dimiliki). Biasanya para hufazh melaksanakan muroja’ah tahunan ini di setiap bulan ramadhan. Kebetulan, kalau penulis secara pribadi memiliki jadwal muroja’ah tahunan biasanya antara bulan rajab dan sya’ban.

5. Selain program muroja’ah rutin di atas, maka untuk “memperkuat dan mencek hafalan”, maka bisa juga dengan cara ditasmi’kan atau musabaqah (tapi bukan diniatkan untuk populer atau jadi juara, na’udzu billahi minasy syaithon).

         Ada beberapa hal penting yang harus diketahui yang bisa menghalangi atau akan menjadi kendala dalam menghafal Al Qur’an, yaitu :

1. Melakukan maksiat kepada Allah swt.

2. Cenderung dengan kehidupan dunia.

3. Tidak punya pembimbing dan bi’ah.

4. Kurang sabar.

5. Hafalan tidak dimuroja’ah/diulang.

VI. METODE MENGHAFAL AL QUR’AN UNTUK ANAK-ANAK

        Secara umum metode hifzhul Qur’an untuk anak-anak sama dengan metode orang dewasa, hanya ada beberapa hal yang bersifat spesifik yang harus diperhatikan oleh setiap guru atau orang tua yang mengajarkan hafalan Al Qur’an kepada anak-anak, yaitu :

1. Kefasihan bicara anak secara umum

Hal ini akan berpengaruh kepada pengucapan lafazh ayat atau surat yang dihafal. Maka setiap pembimbing Al Qur’an harus mengajarkan sesuai dengan kemampuan kefasihan anak pada umumnya dan memberikan pengecualian pada beberapa anak tertentu.

2. Kemampuan anak dalam membaca Al Qur’an

Hal ini akan menentukan salah satu dari 2 pola dasar talaqqi yang dilakukan seorang pembimbing Al Qur’an, apakah akan menggunakan pola talaqqi bin nazhor atau talaqqi bil ghaib.

3. Karakteristik usia anak

Hal ini akan menentukan apakah dilakukan seorang pembimbing Al Qur’an akan menggunakan pendekatan menghafal sambil bermain (cerita asbabun nuzul, cerita rekaan, gambar ayat/surat, memperdengarkan murottal) menghafal secara fokus atau perpaduan dari keduanya.

4. Target yang diharapkan

Hal ini akan menentukan apakah seorang anak akan dibentuk “pola habbitualnya/pembiasaan dan kualitas hafalannya” sehingga anak tidak akan merasa dipaksa menghafal karena dikejar target kuantitatif atau sebaliknya.

5. Menggunakan rumus irama murottal yang sederhana (maksimal 4 nada)

Hal ini akan lebih mempercepat proses menghafal, menjadikan hafalan menjadi lebih enak dibaca dan didengarkan. Rumus irama murottal bisa diambil dari irama standar “Naghomul Qur’an”. Jika anak sudah menguasai rumus irama sederhana ini, maka anak boleh mengembangkan sendiri atau mengikuti pola murottal Qory pilihannya.

6. Memberikan pujian dan hadiah

Hal ini akan menambah motivasi anak untuk menghafal Al Qur’an bahkan bisa membuatnya melakukan akselerasi dalam menghafal.

Selain ziyadah/menambah hafalan maka harus pula diperhatikan agenda murojaah/mengulang hafalan. Untuk anak-anak, yaitu :

1. Minimal dilakukan 1 bulan sekali, idealnya seminggu sekali.

2. Tasmi secara bergilir

3. Melanjutkan ayat dan menebak surat

4. Musabaqah

5. Bercerita

6. Tadabbur ayat kauniyyah, dll.

VII. KHATIMAH

      Jika kita kembali merenungkan hakikat kehidupan kita sebagai manusia, sebagai anak, sebagai orang tua, sebagai pendidik maka seluruh muara cita-cita kita adalah “kebahagiaan dan kesuksesan”. Namun sayang, sebagian besar manusia salah memaknai hakikat kebahagiaan dan kesuksesan karena tidak menjadikan Al Qur’an sebagai panduannya.

      Sebagai orang tua, maka kebahagiaan tertinggi adalah saat anak-anaknya mampu membuat derajatnya mulia di sisi Allah swt dan do’a anak-anaknya mampu mengantarkannya mendapatkan rahmat Allah swt. Dan anak yang seperti itu tidak akan kita dapatkan jika anak kita jauh dari Al Qur’an.

      Sebagai anak, kebahagiaan terbesar adalah saat mampu menjadikan kedua orang tuanya mendapatkan rahmat Allah karena do’a dan amal yang kita lakukan sebagai anak yang shaleh untuk kedua orang tua. Dan kita tidak akan mampu menjadi kebanggan kedua orang tua kalau kita jauh dari Al Qur’an.

       Sebagai pendidik, kebahagiaan yang tak ternilai adalah ketika melihat anak didiknya menjadi orang-orang yang mulia dengan ilmu dan amalnya, serta doi’a yang selalu mengalir dari anak didiknya hingga hari penghisaban tiba. Dan anak didik seperti itu hanya muncul dari anak didik yang akrab dengan Al Qur’an.

      Sebagai manusia, kita semua akan kembali kepada Sang Pemilik. Dan bekal yang kita bawa hanyalah apa yang sudah kita usahakan di dunia. Seluruh upaya kita di dunia akan menjadi bekal yang membahagiakan manakala aktivitas kita di dunia senantiasa dibingkai nilai-nilai Al Qur’an.

      Berinteraksi bersama Al Qur’an berarti kunci sukses dunia dan akhirat. Membekali Al Qur’an sejak dini kepada anak-anak kita serta anak didik kita berarti member fondasi kesuksesan itu sendiri. Karena itu, mari kita ajarkan Al Qur’an kepada anak-anak sejak usia dini. Jika selama ini kita menganggap bahwa mengajar hafalan Al Qur’an kepada anak adalah sesuatu yang sulit, maka dengan mengetahui pola yang tepat maka kesulitan yang muncul akan tereduksi dan kita semua harus meyakini bahwa Allah swt tidak akan mempersulit hamba-Nya, sebagaimana janji-Nya dalam QS. Thoha : 2

“Kami tidak menurunkan Al Quran Ini kepadamu agar kamu menjadi susah”

      Demikianlah, semoga risalah singkat ini sedikitnya mampu membuka cakrawala pandang tentang menghafal Al Qur’an. Satu hal yang menjadi catatan adalah “Menghafal Qur’an itu mudah, bi idznillah”:

“Ya Allah, jadikan kami, anak-anak kami, dan keluarga kami sebagai penghafal Al Qur’an, jadikan kami orang-orang yang mampu mengambil manfaat dari Al Qur’an dan kelezatan mendengar ucapan-Nya, tunduk kepada perintah-perintah dan larangan-larangan yang ada di dalamnya, dan jadikan kami orang-orang yang beruntung ketika selesai khatam Al Qur’an. Allahumma amin”

Maroji :

1. Al Quran dan Terjemahnya, PT. Syaamil Media Cipta, No. Tashkhih Depag : BD.III/TI.02.1/423/2005

2. Al-Adzkaar lin Nawawi, , Abu Zakariya Yahya Muhyiddin bin Syaraf bin Hizam An-Nawawi

3. At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran, Abu Zakariya Yahya Muhyiddin bin Syaraf bin Hizam An-Nawawi,Edisi Bahasa Indonesia “Keutamaan Membaca dan Mengkaji Al-Quran”, Konsis Media, Tanpa Tahun

4. Berinteraksi dengan Al Qur’an, Dr. Yusuf al Qaradhawi, Gema Insani Press, Jakarta, 1999

5. Kaifa Tahfazhul Qur’an, Abdurrab Nawabuddin, Kementrian Pendidikan Tinggi Universitas Islam Imam Muhammad bin Ibnu Sa’ud, Tahun 1408 H.

6. Kiat Sukses Hafizh Quir’an Da’iyah, KH. Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc. Al Hafizh, Dzilal Press, Tanpa Tahun

7. Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyur Rahman Al Mubarakfury, Pustaka Al Kautsar, Cet. Ke-6, 1999

8. Pengalaman Pribadi Penulis

Sumber tulisan :

(http://www.facebook.com/topic.php?uid=79774547126&topic=14697&post=61918#!/topic.php?uid=79774547126&topic=14697)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s