FREE WILL, ANTARA IKHTIAR, TAKDIR DAN TAWAKAL

Standard

Topik                   : FREE WILL, ANTARA IKHTIAR, TAKDIR DAN TAWAKAL

Narasumber     :  Chutbatul Basiroh ( Birmingham, Inggris)

Waktu                 : 13.00 WIB (07.00 BST/ 08.00 CET/ 15.00 JST/ 23.00 PDT)

Media                  : Radio Mutiara dan Skype Mutiara

      Beberapa waktu yang lalu, BBC Radio 4 (UK) menampilkan diskusi menarik membahas ‘Free Will’ (http://www.bbc.co.uk/programmes/b00z5y9z). Diskusi yang menghadirkan narasumber profesor di bidang filsafat dan psikolog ini memperdebatkan apakah manusia sepenuhnya mempunyai free will atau tidak. Bagaimana pula dengan kasus kleptomania (penyakit suka mencuri) dan berbagai jenis psikopat yang marak berkembang?. Apakah perbuatan mereka berdasar free will atau ada pihak ketiga yang terlibat? Diskusi ini juga membahas kaitan free will dengan berbagai konsep keimanan yang dipahami beberapa agama. Di akhir acara, disimpulkan bahwa pertanyaan apakah manusia punya free will atau tidak, tidak memiliki satu jawaban karena masing-masing school of thought memandang dan menjawab pertanyaan ini secara berbeda. Bahkan para pakar cenderung menyimpulkan bahwa tidak satupun pandangan mereka yang mutlak benar.

        Dalam sejarah peradaban Islam, free will adalah salah satu topik yang ramai didiskusikan sejak lebih 1000 tahun yang lalu antara para filosuf dan ahli kalam muslim. Diskusi seputar pertanyaan yang sama “Apakah manusia punya free will dan apa kaitannya dengan konsep takdir, tawakal, ilmu Allah di Lauhul Mahfudz, dll” ini sangat mempengaruhi arah hidup dan keyakinan kaum muslimin semenjak era tersebut dimulai. Bahkan hingga kini, perdebatan tersebut masih menyisakan kebingungan besar bagi kaum muslimin.. Lalu bagaimana kita memahami konsep ini secara benar? Dan apa konsekuensinya terhadap akidah dan amal ibadah kita jika kita salah atau benar dalam memahami konsep-konsep tersebut?

RINGKASAN MATERI FREE WILL, ANTARA IKHTIAR, TAKDIR DAN TAWAKKAL” yang disampaikan :

1. Asal mula munculnya istilah free will

        Istilah Free will pertama kali dikemukakan oleh kalangan para filosofi. Diskusi mengenai free will ini sudah dimulai sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Asal mula konsep free will ini dibahas oleh para filosof adalah karena mereka selalu ingin tahu hakekat segala sesuatu, terutama mengenai perbuatan manusia. Namun dunia filosof saat ini membahas free will karena terkait dengan pertanggung jawaban moral. Menurut mereka, jika seseorang melakukan sesuatu sesuai dengan free will-nya, maka seharusnya dia bertanggung jawab terhadap perbuatannya.

       Secara umum, filosof terbagi menjadi dua kelompok, yaitu : (1) filosof yang percaya bahwa manusia itu sepenuhnya memiliki free will, atau kadangkala manusia itu punya free will, namun kadangkala tidak memiliki free will, dan (2) kelompok determinist : Filosof yang tidak mempercayai keberadaan free will karena manusia pada dasarnya adalah bagian dari alam semesta ini. 

2. Pihak-pihak yang memperkenalkan free will

        Menurut para filosof, free will ini adalah “kapasitas tertentu dari pola pikir rasional untuk memilih sejenis tindakan dari berbagai alternatif atau pilihan-pilihan yang ada”. Atau “kemampuan pola pikir untuk membuat pilihan atau memilih satu dari banyak pilihan”.

       Para psikolog menguraikan arti free will sebagai seperangkat kemampuan internal untuk mengontrol perilaku individu. Dengan kata lain, sisi dalam manusia (akal manusia) yang berperan membuat pilihan-pilihan rasional. Dapat dikatakan bahwa dunia psikologi mengakui adanya free will.

       Dunia psikologi dan kedokteran beranggapan, ada beberapa keadaan dimana fungsi dari kemampuan untuk membuat pilihan (free will) ini bisa terhambat. Keadaan-keadaan tersebut disebut mental disorder. Ada banyak jenis mental disorder yang membuat kerja akal secara normal terhambat sehingga kemampuan untuk membuat keputusan berdasar free will pun terhambat. Beberapa mental disorder ini telah diakui dalam dunia kehakiman di banyak negara sebagai suatu penyakit. Misalnya : pelaku kriminal sexual child abuse yang telah di diagnosa oleh psikolog terbukti memiliki gangguan mental ini, maka pelaku kriminal ini tidak akan dihukum, melainkan mendapatkan pengobatan atau terapi (treatment). 

3. Pandangan Islam pertama kali mengenal free will

       Pada sekitar akhir 100H banyak ide-ide Filosofi Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa arab, dan para ulama muslim berusaha merujuk pada Al-Quran dan As-Sunnah jika menemukan beberapa istilah atau ide-ide yang muncul dari para filosof Yunani. Salah satu pertanyaan filosof Yunani yang muncul saat itu adalah ‘apakah manusia itu dipaksa dalam berbuat atau sepenuhnya bebas berbuat ‘ (Al -qadla wal Qadar).

      Para ulama Muslim sangat tertantang untuk menjawab pertanyaan dari filosof Yunani ini. Ulama Hasan Al-Basri (kelompok Mu’tazilah) berpendapat bahwa : “dengan mengkaitkan bahwa Allah SWT itu Maha Adil dan tidak pernah mendzolimi hambanya, maka semua perbuatan manusia akan dihisab kelak di akherat”. Jika perbuatan manusia dihisab oleh Allah, maka perbuatan itu adalah hasil pilihan dari manusia. Namun, Hasan Al-Basri juga mengatakan bahwa manusia adalah pihak yang menghasilkan perbuatannya.

      Namun pendapat ulama Hasan Al-Basri ini ditentang oleh ulama Ja’ad bin dasham (kelompok Jabariyyah). Menurutnya, pandangan Hasan Al-Basri adalah salah dan sesat, karena menisbatkan penciptaan perbuatan pada manusia, berarti menyekutukan Allah sebagai satu-satunya pencipta. Selain itu, ide ini juga menyalahi banyak ayat al Quran dan hadits yang menyatakan bahwa Allah yang menentukan segala sesuatu, Allah yang menciptakan tindakan-tindakan manusia, Allah yang menentukan rizki dan allah yang mematikan dan menghidupkan. Juga bahwa tidak ada satupun yang terjadi di dunia ini tanpa ilmu dan kehendak Allah.

      Kelompok Muktazillah meyakini bahwa manusialah yang menciptakan perbuatannya dan manusia dihisab berdasarkan perbuatannya. Sedangkan kelompok jabariyyah meyakini bahwa Allah yang menciptakan seluruh perbuatan manusia, dan manusia dipaksa melakukan perbuatannya tanpa bisa memilih (ibaratnya : bagaikan bulu yang diterbangkan angin kemana saja). Kedua kelompok ini saling berdebat dan mengkafirkan satu sama lain, hingga muncullah kelompok ketiga, ahlussunnah wal jamaah. Pada dasarnya, ahlussunnah wal jamaah mencoba mengkompromikan pandangan muktazillah dan jabariyyah, dengan menyimpulkan bahwa manusia memiliki kasb ikhtiar (kapasitas untuk memilih, berupa niat melakukan perbuatan dan melakukan inisiasi dari perbuatan tsb) namun pada akhirnya, Allahlah yang menentukan apakah perbuatan tsb akan terjadi atau tidak. Menurut ahlussunnah wal jamaah, Allah adalah pencipta perbuatan manusia, dan manusia akan dimintai pertanggungjawaban sebatas pada kasb ikhtiarnya saja.

4. Pandangan Islam terhadap free will dan sikap muslim terhadap free will

     Hampir semua perbuatan manusia adalah merupakan pilihan manusia itu sendiri. Secara realistas, manusia itu memiliki free will, namun tidak semua tindakan kita adalah hasil dari pilihan kita. Ada dua jenis perbuatan manusia, yaitu : 

4.1 perbuatan yang merupakan free will manusia (mulai dari niat, rencana, pilihan sampai perbuatan akhir ).         Perbuatan yang merupakan pilihan kita dan Allah akan meminta pertanggung jawaban kita terhadap perbuatan tersebut (Allah akan menghisab perbuatan manusia)Qs. Al- Ghaasiyah 25-26 : “Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka”.

Contohnya :

  • A. Kita memilih tetap menggunakan kerudung meski tinggal di Negara Barat
  • B. Kita memilih makanan apa yang akan kita makan, apakah kita memilih makanan yang halal atau yang haram (pen)  

4.2 Perbuatan di luar kontrol manusia yang terjadi pada diri kita (Qodho). Allah tidak akan meminta pertanggung jawaban manusia (Allah tidak menghisab perbuatan manusia ) terhadap apa yang sudah diputuskan oleh Allah. Manusia tidak memiliki pilihan dalam perbuatan ini.

Contohnya :

  • A. Meskipun dokter sudah memberikan perkiraan tanggal kelahiran kepada ibu hamil, namun ibu hamil ini tidak akan mengetahui kapan tepatnya dia akan melakukan persalinan
  •  B. Kita tidak sengaja menyenggol barang pecah belah di supermarket dan harus membayar ganti ruginya

Takdir (Al- Qodho) :

       Apa-apa yang Allah sudah putuskan untuk kita, misalnya kapan kita dilahirkan, kapan kita meninggal, rezeqi yang diberikan Allah, dan jodoh kita. Manusia tidak akan pernah bisa merubah apa yang sudah ditakdirkan Allah kepada kita. Sikap kita terhadap qodho Allah ini adalah menerima, karena baik atau buruknya keputusan Allah adalah di luar tanggung jawab kita. Jika kita tidak menerimanya dengan senang hati, maka kita sendiri yang akan merugi karena ini merupakan salah satu tuntutan bagi orang yang beraqidah Islam (percaya kepada Allah dan menerima keputusan Allah ). Jika hal itu buruk menurut pandangan kita, maka sikap yang harus kita lakukan adalah bersabar dan melihat hal tersebut secara positif.

Tawakal

       “…Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad (berazzam), maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”. (Qs. Al-Imran : 159).

      Kita memiliki kepercayaan yang kuat terhadap apa yang sudah diputuskan oleh Allah. Tawakal harus selalu ada di dalam diri kita, karena ini merupakan bagian dari keimanan kepada Allah. Tawakal ini hanya berkaitan dengan iman saja, bukan dengan amal. Saat kita beramal dan berbuat, maka kita harus memikirkan secara rasional dan memikirkan segala efek dan konsekuensinya.

Ilmu Allah di Lauhul Mahfudz :

      “Tak ada suatu bencanapun yang menimpa di muka bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfudz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadiid: 22)

      Maksud dari ayat diatas :

      Ayat ini menjelaskan bahwa Allah mengetahui apa yang akan kita lakukan. Sebelum Allah menciptakan manusia, Allah pun sudah tahu apakah nantinya kita akan masuk surga atau neraka. Tetapi bukan Allah yang memasukkan kita ke surga atau neraka, tetapi itu adalah ilmu Allah. Allah mengetahui apakah nanti kita akan memilih untuk tidak mendengarkan Al-Qur’an dan As-sunnah dan kita memilih untuk menikmati dunia ini sehingga kita tidak tahu bahwa akhir dari pilihan yang salah ini akan mengantarkan kita kepada neraka.

5. Sikap seorang muslim setelah memahami pembahasan free will dan Qadha Allah ini :

  1. Hendaknya mengamati dan mengenali (recognize) perbuatan-perbuatan kita yang masih ada upaya untuk bisa dipilih dan selalu mengkaitkan perbuatan kita dengan hukum-hukum Allah (ikhtiar). Hal ini disebabkan Allah akan menghisap semua perbuatan yang bisa kita pilih dan upayakan.
  2. Berusaha lebih proaktif dan merencanakan secara matang mengenai perbuatan yang akan kita lakukan. Hal ini perlu dilakukan agar kita tidak melakukan maksiat atau kesalahan di sisi Allah
  3. Manusia memiliki free will dan Allah akan meminta pertanggung jawaban perbuatan yang bisa kita pilih
  4. Perbuatan-perbuatan yang tidak ada pilihan bagi kita dan tidak berasal dari kita, maka itu sudah ditetapkan oleh Allah (Qodho Allah). Manusia tidak akan dimintai pertanggung jawaban mengenai perbuatan ini. Kita harus menerima Qodho Allah dengan senang hati, meskipun itu buruk atau baik bagi kita.
  5. Setelah kita mengetahui pemahaman mengenai free will dan Qodho Allah ini, maka seharusnya keimanan kita semakin kuat dan menjadikan kita untuk lebih bekerja keras dan di saat yang sama kita tidak perlu khawatir akan apa yang terjadi pada kita nantinya. Asalkan kita bekerja keras sesuai dengan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, maka nanti kita insyallah percaya diri dengan apa yang nanti akan ditanyakan Allah kepada kita.
  6. Fokus perhatian utama seorang muslim adalah di dalam kehidupan dirinya, dia harus waspada terhadap pilihan-pilihan dia.

  

DISKUSI DAN TANYA JAWAB

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang diajukan oleh para sahabat Mutiara :

  1. Mengenai takdir, apakah ada yang disebut takdir mutlak (tidak bisa diubah) dan takdir yang tidak mutlak (bisa diubah)?. Ataukah kita mempunyai banyak takdir, yang kita berusaha untuk memilih satu diantaranya? Apakah benar bahwa do’a itu bisa mengubah takdir? (Yumna, Inggris )

JAWABAN :

         Takdir (ilmu Allah) semuanya adalah atribut (sifat-sifat Allah). Yang kita pahami, Allah Suhanahu Wata’ala itu tidak bisa kita indra. Sebagai manusia, indra kita terbatas. Kita tidak bisa mengindra sesuatu yang datangnya dari Allah, kecuali Allah mengabarkan kepada kita. Jika ada pertanyaan tentang sesuatu yang tidak bisa di indra (“apakah kita bisa mengubah takdir kita?”), maka kita hanya bisa merujuk pada Al-quran dan As-sunnah. Kalau pertanyaannya tentang perbuatan manusia, kita bisa mengindra sehingga kita bisa membedakan mana perbuatan yang bisa dipilih dan mana yang tidak bisa dipilih. Tapi kalau pertanyaannya adalah takdir Allah (qodho Allah), coba kita lihat di Al-Quran dan As-sunnah, apakah Allah mengatakan kepada setiap orang bahwa takdirmu akan begini atau begitu. Allah hanya mengatakan bahwa umur, rezeki dan ajal adalah qadha Allah. Hadist yang menyuruh kita berdoa (“kalau kamu berdoa, pasti Allah itu akan menjawab”), banyak kalangan mengatakan bahwa doa itu bisa mengubah takdir kita. Allah memerintahkan kita untuk berdoa. Allah menyukai orang yang berdoa dan Allah nanti akan menjawab doa kita dan memberi kita pahala. Kita tidak bisa mengetahui takdir kita, justru sebagai muslim kita tidak usah memikirkan takdir kita seperti apa karena memang hal tersebut di luar kuasa/kontrol kita. Seharusnya kita berfikir, misalnya : “apa yang perlu kita lakukan ?”, “apa yang menjadi kewajiban kita?” atau “Hal haram apa yang harus kita hindari?”. Sikap kita seharusnya adalah berusaha sebaik-baiknya untuk melaksanakan hukum Islam dan untuk menghindari sesuatu yang haram. Jika ada sesuatu terjadi pada kita yang bukan berasal dari kita, maka terimalah dan mensyukuri apapun yang terjadi pada diri kita. Misalnya jika kita berdagang kemudian rugi, maka yang sudah terjadi tersebut adalah takdir kita. Hal yang perlu kita pikirkan adalah menganalisa perbuatan kita yang mengakibatkan kerugian berdagang tersebut, bagaimana caranya supaya kita bisa sukses berdagang dan bagaimana caranya supaya di kemudian hari kita tidak mengalami kerugian yang sama lagi. Apapun yang datangnya dari Allah, meskipun itu adalah suatu kerugian, maka itu pasti baik buat kita menurut Allah SWT.

2. Kenapa Allah menciptakan manusia menjadi baik dan buruk, kalau pada akhirnya Allah tahu siapa yang masuk surga dan siapa yang tidak? (Nurhayati, Obihiro ; Jepang)

JAWABAN :

      Secara fitrah, Allah tidak menciptakan kita menjadi baik atau buruk. Allah menciptakan manusia beserta aqal, ghorizah (naluri), dan hajatul uduwiyah (kebutuhan untuk makan dan minum). Allah menciptakan manusia itu beriman, ketika berada di dalam rahim. Jadi setiap bayi yang lahir ke dunia itu adalah manusia yang beriman dan murni (fitrah), namun dengan akalnya tersebut maka manusia akan membuat pilihan-pilihan hidupnya. Tetapi dengan ilmu Allah, maka Allah sebenarnya sudah tahu bahwa kita nanti akan memilih ini dan itu. Ketika manusia sudah mencapai usia baligh, Allah memberikan karakteristik pada otak (akal) manusia, untuk membedakan mana yang bathil dan mana yang takwa. Sehingga manusia bisa membedakan mana perbuatan yang benar dan mana perbuatan yang salah. Allah juga menurunkan Al-quran (petunjuk Allah bagi manusia) melalui Nabi Muhammad, dimana nanti akal akan melihat dan membuat pilihan perbuatan manusia menurut Al-Quran tersebut. Maka sangat tidak masuk akal jika Allah sudah mentakdirkan kita menjadi buruk, padahal di dalam Al-Quran lebih banyak Allah menyuruh manusia menjadi baik.

3. Bagaimana kalau kita sulit mengendalikan emosi dan keinginan. Misalnya kita sedang ada konflik dengan seseorang. Awalnya kita berniat tidak mau mengucapkan sesuatu atau melakukan sesuatu yang memperkeruh keadaan. Tetapi karena saking emosinya, kita lepas kendali dan mengucapkan sesuatu yang memperkeruh keadaan tersebut. Dan setelahnya kita tahu akibatnya benar-benar bertambah keruh, kitapun tersentak dan menyesali. Tetapi bingungnya, bila sedang ada konflik hal tersebut sering terjadi. Berusaha-Lepas Kontrol- Menyesali, selalu begitu. Bagaimana ukhti? Mohon jawabannya. Jazzakillah khoir sebelumnya. (Ririy_Ryan, Jepang)

JAWABAN :

        Emosi dan mengendalikan emosi ini adalah pilihan kita. Emosi senang atau sedih ini bukan sesuatu yang menimpa kita, yang menimpa kita adalah tindakan nyata kita (responsibility). Misalnya : ketika kita mendengar kabar buruk, apakah kita meresponnya dengan rasa bahagia atau rasa sedih?. Semua perbuatan tersebut ada di dalam kendali kita. Adanya hadist yang menyuruh kita sabar, maka jelas bahwa sabar itu adalah pilihan perbuatan kita (kendali kita). Arti sabar adalah menerima atau bertawakkal kepada Allah pada saat kejadian itu menimpa kita pertama kalinya. Sesuatu yang ada di dunia ini nggak ada yang simsalabim, tidak mungkin kita menginginkan sebagai orang yang tidak emosian segera atau saat ini. Hal ini adalah sesuatu yang tidak mungkin. Jika kita ingin menjadi orang yang bisa mengendalikan emosi kita, maka kita harus melatih diri kita. Sebelumnya kita harus mengetahui konsep hidup kita di dunia terlebih dahulu, dimana Allah menciptakan kita di dunia untuk beribadah kepada Allah dan ketika di akherat nanti Allah akan menghisab setiap amalan (perbuatan) kita selama hidup di dunia. Jika kita memiliki konsep hidup yang matang ini, maka ini akan mempengaruhi konsep pengendalian emosi diri kita juga. Maka kita harus berupaya keras untuk melatih diri kita untuk mengendalikan emosi marah kita dan bersabar terhadap apa yang menimpa diri kita. Meskipun emosi adalah pilihan kita, tetapi konsekuensi dari pilihan kita itu ternyata bukan pilihan kita (qodho Allah). Misalnya : marah memuncak adalah kesalahan kita, perbuatan ini nantinya akan dihisab oleh Allah. Keruhnya keadaan akibat marah memuncak tadi, adalah qodho Allah. Memang kita berperan terhadap terjadinya suasana yang ‘makin keruh’ tersebut, tetapi hal yang sudah terjadi tersebut tidak bisa kita hindari. Maka yang harus kita lakukan, adalah menerima kondisi tersebut, bertaubat kepada Allah dan merencakan agar kedepannya kita tidak melakukan / mengulangi perbuatan marah memuncak lagi kepada orang lain.

4. Apakah hubungannya antara Free will dengan Al Hidayah wal Dhalal and al hidayah wal dhalal wal idhlal? Misalnya ada seseorang yg masuk islam, kita sebutkan mendapatkan hidayah, apakah hidayah ini termasuk takdir Allah atau free will orang tersebut. Jazzakillah khair. (Helena Foster, Inggris) dan Sering ada ungkapan, kalau muslimah yang tidak berkerudung karena belum dapat hidayah dsb.Apa pernyataan itu salah mbak? sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan hidayah itu? Bolehkah kita menunggu datangnya hidayah untuk bisa taat kepad ALLAH? Terimkasih (Ummu hadziq, Indonesia)  

JAWABAN :

       Dari sisi kata, “al hidayah” artinya adalah petunjuk. “Dhalal” artinya kesesatan. Sedangkan “idhlal” (penyesatan) adalah masdar (kata benda/ noun) dari “dhalal”. Banyak sekali ayat-ayat di dalam Al-Quran yang menyatakan “bahwa Allah yang memberi petunjuk, jika Allah memberi petunjuk maka tidak ada seorangpun yang bisa menyesatkannya”. Apakah hidayah (petunjuk) dan dhalal (kesesatan) adalah free will kita ataukah itu dari Allah?. Misalnya “ saya tidak berkerudung karena belum dapat hidayah dari Allah”, maka ‘hidayah yang dimaksud ini’ bukan dari Allah, tetapi adalah pilihan muslimah tersebut. Di dalam Al-Quran, “kufur” , makna lughoh-nya adalah “menutup diri dari kebenaran. Menjadi kufur (kafir) adalah pilihan manusia. Orang menjadi kafir karena dia memilih untuk tidak melihat petunjuk. Ada ayat Al-qur’an yang menunjukkan bahwa “manusia itu bisa menunjuki dan menyesatkan” dan ada ayat yang menunjukkan bahwa “syetan itu bisa menyesatkan”. Allah memberi petunjuk (al-hidayah) kepada kita dengan cara menurunkan Al-Qur’an. Free will kita adalah, apakah kita memilih untuk merujuk pada Al-quran dan As-sunnah atau memilih meninggalkan Al-quran dan As-sunnah (menjadi kafir). Kenapa Allah membiarkan orang menjadi kafir?, itu adalah kekuasaan (irrodah) Allah. Misalnya ada orang yang tetap memilih menjadi kafir setelah berdiskusi dengan orang Islam, maka dia memilih untuk menutupi diri dari kebenaran. Disini Allah membiarkan orang tersebut memilih pilihannya, artinya Allah membiarkan dia menyesatkan dirinya sendiri. Misalnya : ada seseorang yg masuk islam, kita sebutkan mendapatkan hidayah, apakah hidayah ini termasuk takdir Allah atau free will orang tersebut?, maka mendapatkan hidayah itu adalah pilihan dia sendiri. Tetapi dari sisi orang lain yang melihatnya, maka Allah membiarkan itu terjadi (membiarkan orang itu mendapatkan hidayah Allah). Orang yang mendapat hidayah, artinya orang tersebut mau menerima kebenaran yang berasal dari Allah melalui Al-Quran dan As-sunnah (ini termasuk free will dia). Jika kemudian orang tersebut menjadi muslim, maka hal ini sudah menjadi qodho Allah. Maka artinya disini terjadi kedua-duanya, yaitu ada free will manusia dan ada qohdo dari Allah juga.

TANGGAPAN DARI BEBERAPA PESERTA KAJIAN  

Helena Foster : very good comment dari pembawa topik masha Allah. she is very knowledgeable”. 

Dyah PSP : “terima kasih….. sangat bermanfaat

Web : http://www.mutiaraummat.wordpress.com/

Rekaman kajian sebelumnya di : http://www.mutiaraummat.multiply.com/

Radio Mutiara : http://mutiara.listen2myradio.com/

Email : mutiara.islam2010@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s