Batita pun butuh tempat curhat

Standard

     Memberi anak kesempatan mengekspresikan perasaannya berarti kita memberi bekal keterampilan mengelola emosinya.

      “Hore, Bunda pulang! Lisa kangen banget, lo, sama Bunda,” celoteh seorang bocah 3 tahun dengan riangnya sambil menggayutkan diri menyambut ibunya yang baru pulang kerja.

     Di usia batita, anak memang cenderung ekspresif atau spontan dalam mengungkapkan isi hati dan perasaannya. Ungkapan yang muncul dari bibirnya bisa amat beragam, entah itu menunjukkan rasa gembira, sedih, kecewa atau takut. Asal tahu saja, kemampuan anak mengekspresikan isi hatinya di masa tumbuh kembang ikut membentuk kepribadiannya kelak.

     Itulah mengapa, seperti dikatakan Rahmi Dahnan, Psi., dari Yayasan Kita dan Buah Hati, orang tua harus bisa menstimulasi anak mereka agar mampu bersikap ekspresif. Yang tak kalah penting, limpahan kasih sayang dan perhatian orang tua secara langsung akan mempengaruhi kemampuan anak mengekspresikan dirinya. “Coba saja perhatikan,” ujar Rahmi, “Anak yang bisa secara ekspresif mengungkapkan isi hatinya, biasanya memiliki ikatan emosional yang kuat dengan orang tuanya.”

     Menurut Rahmi, kemampuan berekspresi pada anak tergantung pada beberapa faktor, di antaranya:

* Faktor intelegensi

Anak yang memiliki intelegensi tinggi dapat dengan mudah mengekspresikan emosinya.

* Kondisi fisik

Anak dengan kondisi fisik yang prima dan sehat tentu lebih mudah mengekspresikan isi hati dan jalan pikirannya.

* Pola komunikasi di rumah

     Pola komunikasi yang baik di rumah akan mendorong anak untuk lebih ekspresif. Sebaliknya, orang tua yang cenderung selalu menyalahkan setiap emosi negatif berarti memposisikan anaknya untuk tidak berani mengekspresikan perasaannya. Berikan perhatian dan pujian pada perilaku positifnya, agar anak juga belajar bersikap ekspresif secara positif.

SARANA BELAJAR

     Kemampuan mengekspresikan diri pada seorang anak tentu saja didapat melalui proses pembelajaran, di antaranya melalui berbagai sarana berikut.

* Meniru

      Ini yang paling sering terjadi. Anak yang kerap melihat ayah/ibunya menggebrak meja atau membanting pintu saat sedang marah, besar kemungkinan akan menunjukkan ekspresi yang sama ketika ia merasakan hal yang kurang lebih sama. “Bahkan, dalam mengungkapkan emosinya, anak usia batita 100% akan meniru orang tuanya,” ungkap Rahmi.

     Oleh karena itulah, orang tua mesti pandai-pandai membawa diri sekaligus menjadi model yang baik bagi anaknya. Celakanya, orang tua lebih sering mengomentari hal-hal negatif pada diri anak dengan cara mencela atau memarahi, sementara hal-hal positif yang dilakukannya malah jarang ditanggapi. Jika perasaan negatif lebih banyak diapresiasikan, niscaya anak pun cenderung mengungkapkan ekspresi negatifnya. Padahal anak juga pasti senang dan menunjukkan ekspresi gembira bila ayah dan ibu menanggapi perilaku positifnya.

      Yang juga penting untuk diperhatikan adalah ekspresi negatif yang cenderung muncul saat konflik melanda rumah tangga. Anak terlihat gampang murung dan sedih. Bahkan dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin ia tumbuh menjadi anak yang rendah diri, tertutup dan pemalu. “Sedapat mungkin hindari pertikaian rumah tangga,” anjur Rahmi. Kalaupun tak terhindarkan, cobalah belajar mengelola konflik agar setiap perbuatan orang tua tetap menjadi contoh yang baik bagi anaknya.

* Mengetahui reaksi seseorang

      Jika reaksi seseorang sesuai dengan yang diinginkannya, maka anak akan cenderung melakukan hal sama untuk mendapatkan reaksi tersebut. Contohnya, ketika permintaan anak tidak dikabulkan, dia akan menunjukkan ekspresi kecewa dengan cara menangis. Dengan aksi seperti itu, orang tua umumnya akan memberikan apa yang diinginkan anak. Keberhasilan ini tentu akan diingat anak. Di kemudian hari, jika anak menginginkan sesuatu dan tidak ditanggapi, dia akan menangis lagi agar permintaannya dikabulkan.

* Mendapatkan reaksi seseorang

      Jika reaksi yang muncul ternyata bertentangan dengan keinginannya, maka dia akan mencoba menunjukkan ekspresi lain semata-mata agar keinginannya bisa terpenuhi. Contohnya, ketika anak merasa tidak senang karena ditinggal pergi oleh ayah dan ibunya ke kantor, maka ia akan menangis. Nah, ketika orang tua tak menanggapi ungkapan hatinya itu, di kemudian hari, anak berusaha menunjukkan ekspresi dalam bentuk lain. Ia tidak menangis lagi, tapi merengek ingin digendong dan dipeluk.

KENALI ANEKA BENTUK EKSPRESI ANAK

     Menurut Rahmi, ungkapan ekspresi pada anak-anak secara garis besar dibagi menjadi tiga, yakni:

1. Ekspresi untuk menunjukkan rasa senang

     Ungkapan rasa gembira terpancar dari wajah anak dalam bentuk senyuman atau malah gelak tawa sambil melonjak-lonjak kegirangan. Biasanya, anak senang ketika mendapatkan hadiah atau berhasil mencapai sesuatu yang diusahakannya. Orang tua mesti menunjukkan reaksi positif ketika anak mengungkapkan rasa senangnya, sehingga ia merasa dihargai dan diperhatikan.

2. Ekspresi untuk menunjukkan rasa takut

     Biasanya anak takut ditinggal dan berpisah dengan orang tuanya. Jika ayah dan ibunya hendak berangkat kerja, anak biasanya menangis sebagai ekspresi ketidaknyamanannya saat merasa kehilangan atau ditinggal orang tuanya. Untuk menanggulangi hal ini, orang tua sebaiknya memahami perasaan anak dengan cara menerima sekaligus menghargainya. Caranya, sebelum pergi luangkan waktu sejenak untuk memeluk dan menemaninya hingga anak merasa nyaman. Jangan sampai orang tua berangkat kerja dengan membohongi atau sembunyi-sembunyi. Kalau ini yang dilakukan, jangan salahkan bila anak kehilangan kepercayaannya pada orang tua.

3. Ekspresi untuk menunjukkan rasa marah

      Ungkapan kemarahan pada anak bisa beragam makna dan caranya. Ada yang mengekspresikannya dengan cara menangis, mengomel, berteriak dan memukul-mukul. Apa pun bentuknya, itu semua merupakan ungkapan ketidaksukaan/kemarahan yang tak jarang muncul begitu saja tanpa orang tua bisa tahu pasti apa penyebabnya.

      Untuk bisa meredam ekspresi anak selagi marah, orang tua harus bisa memahami emosinya. Carilah sumber kemarahan tersebut. Biasanya anak menunjukkan emosi negatif seperti itu di saat tak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Toh, meski dalam situasi marah, anak sebetulnya dapat diajak bicara. Jangan mengira upaya mengajaknya bicara akan sia-sia. Sebagai langkah awal, dekati dan dekaplah dia dengan penuh kasih sayang. Jika sudah mulai tenang emosinya, bukalah pembicaraan dengan nada lembut.

DAMPAK MERUGIKAN

    Bila kemampuan berekspresi seorang anak tidak dirangsang dan tidak muncul di usia ini, kemungkinan besar ia akan mengalami berbagai hambatan berikut:

* Sulit mengungkapkan isi hati dan jalan pikirannya, sehingga orang lain pun tidak bisa memahami apa keinginan dan kebutuhannya.

* Susah bersosialisasi karena anak tak mampu mengapresiasikan perasaannya kepada lingkungan, terutama teman-teman sebaya saat ia masuk dunia prasekolah dan sekolah.

* Tak memiliki kepercayaan diri dan cenderung pasif dalam menanggapi sesuatu.

Agar anak tak terimbas dampak merugikan tadi, Rahmi menyarankan sederet upaya berikut begitu orang tua menyadari anaknya kurang ekspresif.

* Mengenali emosi anak sekaligus mengidentifikasi perasaan-perasaannya. Pengenalan ini memungkinkan orang tua segera menyadari perubahan emosi yang ditunjukkan anak.

* Membangun emosi positif anak dengan cara menjalin komunikasi efektif, disamping berusaha menyelami perasaan dan pengalamannya. Buka jalur komunikasi yang positif, jangan sampai anak dikuasai perasaan cemas yang tidak menentu, semisal, “Kalau aku begini, Mama marah enggak?”

* Bersikap peka terhadap perasaan anak. Jadilah pendengar yang baik, bukan sekadar mendengar apa yang dikatakannya, melainkan mengamati emosi-emosinya yang muncul.

* Tunjukkan empati pada anak, terutama kesediaan untuk membantu mengatasi perasaan-perasaan negatifnya, seperti sedih, marah dan takut. Dengan empati kita, anak merasa mendapatkan dukungan untuk kemudian memiliki keberanian mengekspresikan isi hatinya.

* Mengenali emosi positif sekaligus emosi negatifnya berarti membuka peluang untuk menjalin keakraban dengan anak. Bantulah anak mengenali dan memahami emosinya sendiri. Kehangatan sikap, keterbukaan, dan teladan dari orang tua memungkinkan anak mengasah kecerdasan emosionalnya.

* Ciptakan zona nyaman bagi anak untuk bebas berekspresi, sehingga anak percaya ayah dan ibunya tak akan marah terhadap apa pun yang dia katakan atau lakukan.

* Jangan pernah mengabaikan atau meremehkan emosi-emosi negatif anak. Orang tua memang mesti kritis terhadap ungkapan anak, tapi bukan berarti memarahinya, lo. Perasaan diterima membuat anak mampu membangun kepercayaan pada orang tuanya. Yang tak kalah penting, cari tahu apa penyebab munculnya ekspresi negatif tersebut.

* Bimbing anak untuk mengelola perasaannya. Latih anak membangun emosi positif untuk meredam emosi negatifnya.

* Ajarkan anak memecahkan masalah, termasuk membantunya mempelajari keterampilan mendengarkan dan menganalisis masalah secara sederhana.

* Batita yang mendapat stimulasi dari orang tuanya untuk bersikap ekspresif, biasanya lebih mampu mengendalikan emosinya dibanding anak-anak yang tak dilatih sama sekali. Kelak mereka pun akan lebih terampil mengelola kondisi emosionalnya alias memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih tinggi. Berbekal kemampuan ini, mereka lebih gampang berkenalan dan menjalin hubungan baik dengan orang lain karena kemampuannya memahami orang lain.

* Mereka yang terbiasa ekspresif secara positif umumnya akan lebih terampil pula menenangkan diri kala dilanda kesedihan maupun kemarahan. Mereka juga akan lebih mudah memfokuskan perhatiannya pada suatu hal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s