Tafsir Bir-Ro’yu hanyalah wewenang Ulama yang faqih, Wara’, dan mujtahid

Standard

Oleh : Riyan Zahaf

 

——Muqaddimah Shahih Ibnu Katsir Juz 1, Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri—-

Adapun, menafsirkan al qur’an dengan ra’yu semata hukumnya adalah haram, hal ini berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir rahimahullah, dari Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam:

“Barangsiapa yang berbicara tentang Al Qur’an dengan akalnya atau dengan apa yang tidak dia ketahui ilmunya, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di Neraka.”[At-Tarmidzi]

Hadist ini juga diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan Abu Dawud. Imam Tarmidzi mengatakan bahwa hadist ini adalah hasan shahih (sekalipun Syaikh Albani rahimahullah men-dho’ifkannya di dalam Silsilah Adh-Dho’iifah (no.1783)).

Oleh karena itu, sejumlah Ulama salaf menahan diri dari berbicara tentang masalah tafsir ayat yang mereka tidak memiliki ilmu tentangnya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Imam Ibnu Jarir dari Abu Ma’mar, ia berkata:”Abu Bakar Ash-shiddiq radhiyallaahu ‘anhu berkata:

“Bumi mana tempatku berpijak dan langit mana tempatku bernaung jika aku berbicara tentang kitabullah apa yang tidak aku ketahui ilmunya”[Tafsir ath-Thabari (1/78)]

——Syakshiyyah Islam Juz 1, Syaikh Dr. Taqiyuddin An-Nabhani, Bab Sumber-rumber Tafsir–

Jadi, kita tidak bisa mengatakan bahwa para sahabat telah terbagi menjadi dua bagian, satu bagian mencegah dirinya untuk mengatakan (berkomentar) tentang al-Quran dengan pemberitaan, dan satu bagian lagi berkomentar tentang al-Quran dengan pendapat (ar-ra’yu)nya. Yang benar bahwa mereka telah berkata (berkomentar) tentang al-Quran dengan pendapat (ra’yu) mereka. Mereka mencegah seseorang untuk berkata (berkomentar) tentang suatu lafadz atau kalimat dari al-Quran yang akan ditafsirkan atau yang akan dijelaskan dengan pendapat (ra’yu)nya tanpa ilmu. Begitu pula halnya dengan para tabi’in.

Namun, setelah mereka datang orang-orang yang mempelajari perkataan-perkataan tersebut dan mereka memahami bahwa hal itu merupakan peringatan (berkomentar tentang al-Quran dengan
pendapat (ra’yu)) sehingga harus menghindarkan dirinya untuk berkomentar tentang al-Quran. Kemudian datang orang yang mempelajari tafsir para sahabat dengan metode pendapat (ra’yu)
sehingga mereka menyebutnya tafsir bi ar-ra’yi. Setelah itu para ulama sesudah mereka membagi tafsir kepada dua bagian: satu bagian mencegah mengatakan dengan pendapat (ra’yu) dan cukup melalui pemberitaan saja, kemudian satu bagian lagi berkata tentang penggunaan pendapat (ra’yu). Para sahabat dan tabi’in sendiri tidak tergolong pada dua bagian tersebut.

Para sahabat dan tabiin berkata tentang al-Quran dengan apa yang mereka ketahui baik dengan
pendapat (ra’yu) maupun pemberitaan. Mereka selalu menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak ditahuinya, dan selalu memperingatkan untuk mengomentari al-Quran dengan pendapat (ra’yu) yang tidak memiliki sandaran apapun terhadap suatu ilmu.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s