Persamaan Prinsip Keharaman Syari’at Kufur antara Sayyid Quthub rahimahullah dan Syaikh An-Nabhani rahimahullah

Standard

Oleh : Riyan Zahaf

 

Haram Menerapkan Hukum Selain yang Diturunkan Allah

“Agama ini telah sempurna, dan dengannya nikmat Allah kepada kaum muslimin menjadi utuh. Allah telah meridhai Islam sebagai manhaj kehidupan mereka dan seluruh manusia. Allah juga tidak pernah menganggap ada jalan lain untuk menggantikannya atau menukarnya, juga tidak meninggalkan salah satu hukum-Nya untuk mengarnbil hukum yang lain, serta salah satu syariat-Nya untuk mengambil syariat yang lain. Karena itu, penggantian manhaj ini —yang disampaikan kepada Anda sebagai penggantinya— adalah bentuk penegasian terhadap urusan agama yang telah diketahui urgensinya (al-ma‘lum min al-din bi al-dharurah).

Allah Maha Tahu bahwa berbagai dalih mungkin akan disusun, dan dalihdalih tersebut akan digunakan untuk menjustifikasi penggantian sebagian dari apa yang diturunkan oleh Allah serta mengikuti keinginan rakyat dan mereka yang mencari kepastian hukum. Bahwa berbagai ide dan pandangan tentang urgensi penerapan hukum yang diturunkan oleh Allah secara total boleh jadi telah berkembang, dengan tanpa sedikitpun penggantian dalam beberapa situasi dan kondisi tertentu. Allah telah mengingatkan Nabi-Nya saw dalam ayat-ayat berikut ini:

”Hendaknya kamu menghukumi di antara mereka menurut apa yang Allah turunkan. Dan jangan
sekali-kali kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Hati-hatilah kamu terhadap usaha mereka untuk
memalingkan kamu dari sebagian apa yang diturunkan oleh Allah kepadamu. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah, sesungguhnya Allah hendak menimpakan kepada mereka (azab) atas sebagian dosa-dosa mereka. Sesungguhnya kebanyakan manusia Itu benar-benar fasik.” (Qs.
al-Maidah: 49).

Dengan demikian, seluruh jendela dan pintu masuk syetan kepada seorang mukmin telah tertutup. Jalan ini akan menggunakan berbagai argurnen dan alasan untuk meninggalkan sebagian hukum-hukum syara’ dengan tujuan tertentu dalam situasi-situasi tertentu. Firman Allah Subhana wa Ta’ala:

”Apakah hukum jahiliyah yang mereka ambil? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada
hukum Allah, bagi kaum yang beriman.” (Q.s. al- Maidah: 50).

Apa yang dapat dikatakan oleh orang yang berpaling dari syariat Allah kepada hukum kehidupan? Apa yang dapat dia katakan, khususnya ketika dia mengklaim dirinya muslim? Keadaan? Variable? Ketidaksukaan orang? Takut kepada musuh? Bukankah semuanya ini sudah diketahui oleh Allah, sementara Dia tetap memerintahkan mereka untuk menegakkan syariat-Nya dan melaksanakan manhaj Nya, serta agar tidak terpesona untuk meninggalkan sebagian dan apa yang Dia turunkan?

Kesaksian “Tiada yang Berhak Disembah Selain Allah” Berarti Mengubah Sistem Pemerintahan

“Allah Subhana wa Ta’ala menyatakan, bahwa Dialah Allah, tiada yang berhak disembah kecuali Dia. Syariat-syariat yang digariskan-Nya untuk manusia semuanya sesuai dengan ketuhanan Allah bagi mereka, dan penghambaan mereka kepada-Nya, serta perjanjianNya dengan mereka berdasarkan syariat tersebut dan untuk melaksanakannya. Semuanya itulah yang wajib memerintah bumi ini. Inilah yang wajib dijadikan standar hukum oleh manusia, yang juga wajib dijadikan sebagai hukum para Nabi dalam mengambil keputusan maupun para penguasa pasca kenabian.

Allah Subhana wa Ta’ala menyatakan, bahwa masalah ini — dalam konteks semuanya ini— merupakan masalah keimanan atau kekufuran, Islam atau jahiliyah, syariat atau hawa nafsu. Orang-orang mukminlah yang memerintah berdasarkan apa yang Allah turunkan —dimana mereka tidak boleh menyimpang sedikitpun darinya, dan tidak boleh menggantikannya dengan apapun— sementara orang-orang kafir, zalim dan fasik, adalah mereka yang tidak memerintah berdasarkan apa
yang Allah turunkan. Tidak ada kompromi lagi antara jalan ini dan itu. Tidak ada lagi alasan, dalih dan argumentasi berdasarkan pertimbangan maslahat.”
[Fi Dhilal al-Qur’an, Sayyid Quthub, Juz II, hlm. 888.]

————————————————

Apabila semua ini telah terbukti, sedangkan iman kepada-Nya adalah suatu keharusan, maka wajib bagi setiap Muslim untuk beriman kepada syariat Islam secara total. Karena seluruh syariat ini telah tercantum dalam Al-Quran dan dibawa oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam. Apabila tidak beriman, berarti ia kafir. Karena itu penolakan seseorang terhadap hukum-hukum syara’ secara keseluruhan, atau hukum-hukum qath’i secara rinci, dapat menyebabkan kekafiran, baik hukum-hukum itu berkaitan dengan ibadat, muamalah, ‘uqubat (sanksi), ataupun math’umat (yang berkaitan dengan makanan). Jadi kufur terhadap ayat:

“dirikanlah shalat”,[Qs;2.43]

sama saja kufur terhadap ayat:

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya” (TQS. Al-Maidah [5]: 38).

atau ayat:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah” (TQS. Al-Maidah [5]: 3).

Perlu diketahui bahwa iman terhadap syariat Islam tidak cukup dilandaskan pada akal semata, tetapi juga harus disertai sikap penyerahan total dan penerimaan secara mutlak terhadap segala yang datang dari sisi-Nya, sebagaimana firman Allah
Subhana wa Ta’ala:

“Maka demi Rabbmu, mereka itu (pada hakekatnya) tidak beriman sebelum mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa di hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima (pasrah) dengan sepenuhnya” (TQS. An-Nisa [4]: 65).

[Nizham Al-Islam, Thariqul Iman, An-Nabhani]
———————————————-

Dari, penjelasan ini, berarti kedua syaikh rahimahullahuma ini, sama-sama mengharamkan syari’at selain syari’at Islam, dan menjadikan kewajiban menerapkan hukum Allah subhana wa ta’ala merupakan panggilan keimanan yang dalam, serta ketundukan yang utuh kepada Allah Subhana wa ta’ala.

Allaahu ‘alam bi-ash-showwab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s