Menyikapi Pelaksanaan Shalat Jama’ Tanpa Adanya Rasa Takut, Cuaca Hujan dan Keadaan Musafir

Standard

Oleh : Riyan Zahaf

Sebagian kaum muslimin masih enggan menunaikan sholat pada waktunya, dan senang menggunakan cara jama’ di dalam sholatnya, padahal keadaannya tidak lagi musafir, atau tidak lagi melakukan suatu yang apabila ditinggalkan menyebabkan dharar (darurat), dan tidak berada di dalam kesulitan. Barangkali, mereka menggunakan hadist ini:

 

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِلْمَدِينَةِ سَبْعًا وَ ثَمَا نِيًا؛الظُّهْرَ َ والْعَصْرَ، وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ . فَقَالَ أَيُّوبُ : لَعَلَّهُ فِي لَيْلَةٍ مَطِيرَةٍ ؟ قَا لَ : عَسَى..

 

Dari Ibnu Abbas Radhiyallaahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa salam shalat di Madinah tujuh rakaat dan delapan rakaat, Zhuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya’. (HR. Bukhari)

[hadist no. 543 di dalam Syarh Shahih Bukhari Fathul Baari]

 

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani di dalam terjemahan Fathul Barri Juz 2 hal 29 menyatakan:

——————————

Maksud bab di atas adalah mengakhirkan shalat Zhuhur sampai awal waktu ashar. Artinya, ketika selesai mengerjakan shalat Zhuhur, langsung masuk waktu shalat Ashar, sebagaimana yang akan dijelaskan oleh Abu Sya’tsa’, perawi hadits. Az-Zain bin Al Manayyar mengatakan bahwa Imam Bukhari memberikan isyarat untuk menetapkan pendapat yang mengatakan isytirak (bercampurnya) kedua waktu tersebut.

 

Ibnu Baththal menceritakan dari Imam Syafi’i rahimahullah, mereka mengatakan bahwa Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Antara waktu Zhuhur dan Ashar ada waktu pemisah yang bukan waktu zhuhur dan bukan waktu Ashar.” Pendapat mi tidak diketahui dalam kitab-kitab madzhab Syafi’i, tapi yang diambil dan Imam Syafi’i, ia pernah mengatakan bahwa akhir waktu zhuhur dipisahkan dengan awal waktu Ashar. Maksudnya, untuk menafikan pendapat yang mengatakan adanya isytirak kedua waktu tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa dia berdalil dengan perkataan Ibnu Abbas, “Waktu zhuhur adalah sampai (awal) waktu ashar, dan waktu ashar sampai (awal) waktu maghrib.” Sebagaimana tidak ada percampuran antara waktu Ashar dan Maghrib, juga tidak ada percampuran antara waktu Zhuhur dan Ashar.

 

سَبْعًا وَ ثَمَا نِيًا(tujuh dan delapan) artinya tujuh semuanya dan delapan semuanya. Sebagaimana dijelaskan dalam bab “Waktu Maghrib” dari jalur Syu’bah dari Amru bin Dinar.

 

عَسَى(mungkin) Artinya barangkali, seperti yang kamu katakan.Kemungkian hujan juga dikatakan Imam Malik setelah meriwayatkan hadits ini dari Abu Zubair dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, dan perkataan: ِلْمَدِينَةِ مِنْ غَيْرِ جَوْف وَلاَ سَفَرِ (di Madinah bukan karena keadaan genting atau bepergian) Imam Malik berkata, “Barangkali itu dalam kondisi hujan.” Tapi Imam Muslim dan penulis kitab Sunan mengatakan dari jalur Habib bin Abu Tsabit dari Sa’id bin Jubair dengan lafazh: مِنْ غَيْرِ جَوْف وَلاَ مَطَرِ (bukan karena keadaan genting (takut) dan juga tidak dalam keadaan hujan).

 

Dengan demikian, riwayat-riwayat ini menafikan bahwa shalat jamak yang dilakukan Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa salam adalah karena keadaan genting (takut), bepergian atau hujan. Sebagian ulama membolehkan bahwa shalat jamak yang dilakukan beliau ‘alaihi wa salam adalah karena sakit. Pendapat mi dikuatkan oleh Imam Nawawi, dan ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Karena apabila beliau ‘alaihi wa salam melaksanakan shalat jamak tersebut karena sakit, maka tidak ada yang shalat bersama beliau kecuali orang yang sakit juga. Padahal, secara lahiriah Nabi ‘alaihi wa salam shalat bersama para sahabat. Hal itu telah dijelaskan oleh lbnu Abbas dalam riwayatnya. Imam Nawawi berkata, “Sebagian mereka menakwilkan bahwa kondisi ketika itu mendung, kemudian Rasulullah ‘alaihi wa salam shalat Zhuhur. Lalu setelah mendung tersebut hilang, ternyata waktu Ashar telah tiba, maka beliaupun shalat Ashar.” Imam Nawawi mengatakan bahwa pendapat ini tidak benar, karena jika hal ini mungkin —sangat kecil— untuk dilakukan dalam waktu Zhuhur dan Ashar, tapi hal ini tidak mungkin untuk dilakukan pada waktu Maghrib dan Isya’.

 

Seakan-akan penafian kemungkinan tersebut berdasarkan anggapan bahwa maghrib hanya memiliki satu waktu, padahal tidak demikian, karena waktu maghrib tersebut berakhir sampai masuknya waktu Isya. Untuk itu kemungkinan tersebut bisa saja terjadi.

 

Imam Nawawi juga berkata, “Di antara mereka ada yang menakwilkan bahwa shalat jamak tersebut hanya gambaran saja (jama’ shuwari), dimana Nabi mengakhirkan pelaksanaan shalat Zhuhur hingga akhir waktunya dan menyegerakan shalat Ashar pada awal waktunya.” Dia melanjutkan, bahwa kemungkinan ini sangat lemah dan batil, karenanya bertentangan dengan makna lahiriah hadits. Upaya Imam Nawawi untuk melemahkan pendapat ini dianggap baik oleh Imam Al Qurthubi dan dikuatkan sebelumnya oleh Imam Al Haramain, dan ditegaskan oleh Ibnu Al Majisyun dan Thahawi serta dikuatkan oleh Ibnu Sayyid An-Nas, bahwa Abu Syatsa’ (perawi hadits) telah mengatakan demikian dan Ibnu Abbas. Yang demikian itu telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Ibnu Uyainah, dari Amru bin Dinar. Lalu dia menyebutkan hadits ini. kemudian menambahkan, “Saya katakan. Wahai Abu Sya’tsa’. saya mengira bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa salam mengakhirkan shalat zhuhur dan menyegerakan shalat Ashar, mengakhirkan shalat Maghrib dan menyegerakan shalat lsya’. Dia mengatakan, ‘Saya mengira demikian’.” Ibnu Sayyid An-Nas berkata, Perawi hadits lebih mengetahui tentang maksud hadits daripada yang lain.” Saya (lbnu Hajar) katakan, tapi dia tidak memastikan hal itu. Bahkan telah dijelaskan tentang perkataannya kepada Abu Ayyub, bahwa alasan Nabi menjamak shalat adalah karena hujan.

 

Sebagian ulama berpendapat dengan makna lahiriah hadits, bahwa mereka membolehkan menjamak shalat dalam keadaan muqim (tidak bepergian) dengan syarat hal itu tidak dijadikan sebagai kebiasaan. Di antara mereka yang berpendapat demikian adalah Ibnu sirin, Rabi’ah, Ibnul Mundzir, Qaffal, dan diceritakan oleh Al Khaththabi dan jamaah ahli hadits. Mereka berdalil dengan hadits ini yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari jalur Sa’id bin Jubair, dia berkata, “Aku berkata kepada Ibnu Abbas, ‘Mengapa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa salam melakukan demikian?’ Dia berkata, ‘Beliau ingin tidak membuat susah umatnya’.” 

 

——————————

 

Namun, disisi lain, Islam memerintahkan kita untuk mengamalkan kewajiban Shalat tepat pada waktunya. Allah Subhana wa Ta’ala memerintahkan kepada kita di dalam Al qur’an, bahwa:

 

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا ……..”

Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.[QS:4.103]

 

Berkata Imam Ibnu Katsir Rahimahullah di dalam Tafsirnya:

——————————

Menurut Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu, makna yang dimaksud ialah yang difardukan.

 

Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu mengatakan pula bahwa salat itu mempunyai waktu, sama seperd ibadah haji mempunyai waktu yang tertentu baginya.

 

Hal yang sama diriwayatkan dari Mujahid, Salim ibnu Abdullah,Ali ibnul Husain, Muhammad ibnu Ali, Al-Hasan, Muqatil, As-Saddi,dan AUyyah Al-Aufi.

 

 Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah sehubungan dengan firman-Nya: 

 

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا …..

 

Bahwa Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu mengatakan, “Salat itu mempunyai waktu-waktu tertentu, sama halnya dengan ibadah haji.”

 

Zaid ibnu Aslam mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

 

 

إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا …..

 

Yakni mempunyai waktunya masing-masing. Dengan kata lain, apabilasalah satu waktunya pergi, datanglah waktu yang lain.

——————————

 

Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam juga memerintahkan kepada kita untuk senantiasa berusaha mengamalkan shalat tepat pada waktunya. Bahkan, ketika ada salah seorang shahabat bertanya tentang amalan apa yang paling utama, maka beliau Shallallaahu ‘alaihi wa Salam menjawab, bahwa amalan yang paling utama adalah “Sholat tepat pada waktunya.

 

عَنْ أَبِي عَمْرِو الشَّيْبَانِي -وَاسْمُهُ سَعْدُ بْنُ إِيَاس- قَالَ : حَدَّثَنِي صَاحِبُ هَذِهِ الدَّارِ -وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى دَارِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ – قَالَ : سَأَلْتُ النَّبِيَّ : أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ ؟ قَالَ : ((الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا)). قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : ((بِرُّ الوَالِدَيْنِ)). قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قال : ((الجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ)). قَالَ : حَدَّثَنِي بِهِنَّ رَسُولُ اللهِ , وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

 

Abdullah ibnu Mas’ud Radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam, “Ya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam, amal perbuatan apa yang paling afdol?” Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa lagi?” Beliau Shallallaahu ‘alaihi wa salam menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi, ya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam?” Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah.” (HR. Bukhari)

[hadist no. 527 di dalam Syarh Shahih Bukhari Fathul Baari]

 

 

————————————-

 

 

أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ ؟(apakah perbuatan yang paling dicintai Allah?)Dalam riwayat Malik bin Mighwal disebutkan أَيُّ العَمَلِ أفْضَلُ (apakah perbuatan yang lebih utama?) begitu juga dalam kebanyakan riwayat.

 

Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa salam sering memberikan jawaban yang berbeda-beda kepada orang yang bertanya tentang amal yang paling baik. Para ulama mengatakan bahwa hal itu disebabkan perbedaan kondisi para penanya. Maka Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa salam menjawab sesuai dengan apa yang mereka butuhkan atau apa yang mereka senangi, atau apa yang sesuai dengan keadaan mereka. Atau juga perbedaan itu karena perbedaan waktu, di mana perbuatan tertentu pada suatu saat Iebih utama daripada perbuatan yang lain.

 

Pada permulaan Islam, jihad merupakan perbuatan yang paling utama. Dalam nash-nash lain dijelaskan bahwa shalat lebih utama daripada sedekah. Namun di saat banyak terjadi kelaparan yang melanda masyarakat, maka sedekah lebih utama.

 

Ibnu Daqiq Al Id berkata, “Perbuatan yang disebutkan dalam hadits itu adalah perbuatan yang bersifat badaniyah, dengan maksud menjaga keimanan, maka ia tidak bertentangan dengan hadits أفْضَلُ الاءَعْمَا إِيْمَانِّ بِ للَّهِ (perbuatan yang paling utama adalah iman kepada Allah) karena iman adalah perbuatan hati.”

 

لصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا(Shalat tepat pada waktunya) Ibnu Baththal mengatakan, bahwa shalat tepat pada waktunya adalah lebih utama daripada mengakhirkannya, sebab syarat shalat menjadi perbuatan yang paling dicintai adalah jika dikerjakan pada waktu yang disukai (mustahab).

 

————————————-

 

Hadist ini pada hakikatnya adalah mengutamakan ketiga amalan diatas, berdasarkan kekuatan dan keadaan kita. Dengan demikian, hendaknya kita senantiasa berusaha menunaikan kewajiban kita dengan semampu kita (berdasarkan kondisi kita) untuk menunaikan sholat tepat pada waktunya.

 

Sesungguhnya, kewajiban melaksanakan shalat pada waktunya adalah ketetapan kewajiban yang tidak ada perselisihannya. Sedangkan, melaksanakan sholat Jamak secara mutlak, tanpa alasan rasa takut, hujan, dan musafir, adalah perkara yang senantiasa diperselisihkan oleh para Ulama, dikarenakan, hadist-hadist yang menjadi sandaran pelaksanaan shalat jama’ secara mutlak adalah hadist ahad, sedangkan ketetapan pelaksanaan shalat sesuai pada waktunya adalah disandarkan pada nash Qur’an (surah an-nisa ayat 103 diatas), dan Sunnah mutawwatirah.

 

Prof. Dr. Ali Raghib, di dalam ahkamus-sholah menyatakan:

 

—————————————

 

Begitu juga hadits -hadits yang mengemukakan tentang menjama’ shalat dengan mutlak bukan karena bepergian atau karena hujan, maka janganlah kita ini sampai beramal dengan hadits-hadits itu, bukan seharusnya kita meninggalkannya karena hadits-hadits itu berlawanan dengan hadits qath’i yang mutawatir.

 

Sesungguhnya khabar (hadits) ahad bilamana berlawanan dengan Al Qur’an atau dengan hadits mutawatir, maka yang diambil adalah Al Qur’an atau hadits mutawatir serta hendaklah hadits ahad ditolak, karena hadits ahad bersifat zhanni sedang hadits mutawatir bersifat qath’i. Begitu pula halnya bila antara keseluruhannya tidak bisa dipadukan, maka yang bersifat zhanni harus ditolak dan yang bersifat qath’i harus di ambil. Dan ternyata di sini bahwa perihal waktu shalat telah dikukuhkandengan mutawatir. Dengan demikian, meninggalkan atau tidak mengindahkan waktu shalat seperti yang telah digariskan dengan cara menjama’ shalat, baik jama’ taqdim maupun jama’ ta’khir karena berpedoman pada khabar ahad yang berlawanan dengan hadits mutawatir adalah tidak diperbolehkan.

 

Hal ini dengan alasan, karena tindakan itu merupakan sikap berpaling dari yang qath’i dan bertumpu pada yang zhanni. Di sini jangan sampai dikatakan : Sesungguhnya zhanni diperbolehkan hanya untuk suatu hajat atau karena suatu halangan, boleh dijadikan sebagai suatu kebiasaan dengan alasan, karena hadits-hadits yang membolehkan menjama’ shalat selain karena bepergian dan karena hujan bersifat mutlak, tidak terikat oleh sesuatu. Kemudian apabila terikat oleh suatu hajat tertentu atau oleh hal yang lain, sudah barang tentu hajat itu bersifat khusus dan pasti diambilnya seperti halnya karena bepergian, umpamanya. Akan tetapi nash hadits-hadits tersebut ternyata bersifat mutlak (umum), sehingga oleh karenanya kita tidak boleh menambah sesuatu apapun ke dalamnya yang berasal dari diri kita atau suatu batasan yang tidak dikemukakan oleh nash sehingga kita pun tetap membiarkan hadits-hadits tersebut bersifat mutlak sebagaimana adanya.

 

Di samping hadits-hadits di atas itu bersifat mutlak ternyata hadits-hadits yang mengemukakan tentang pembagian waktu shalat yang bersifat mutawatir itu pun adalah mutlak juga, sehingga keduanya berlawanan serta menyatukannya juga tidak bisa dilakukan, maka dalam keadaan seperti ini yang harus dijadikan pegangan adalah hadits-hadits mutawatir saja dan hadits-hadits yang membolehkan shalat dijama’ bukan karena bepergian atau bukan karena hujan tidak boleh tidak harus ditinggalkan.

 

—————————————

 

Di dalam kondisi adanya pertentangan (ta’arudh) diantara dua dalil, maka tidak dimungkin untuk mengamalkan kedua dalil yang bertentangan tersebut. Diperlukan tarjih (memilih yang terkuat) untuk beramal salah satunya. Dalil tentang shalat lima waktu di terima banyak orang, dan diriwayatkan secara mutawwatir. Sedangkan, dalil tentang shalat jama’ secara mutlak, masih banyak diperselisihkan banyak ulama dan disampaikan dengan jalan ahad. Dalam keadaan seperti ini, dalil-dalil yang diterima oleh banyak orang, memiliki kekuatan yang lebih daripada dalil yang masih diperselisihkan.

 

Syaikh Muhammad Ibnu shalih al-Utsaimin rahimahullah menyatakan di dalam Kitab Al-ushul di dalam Bab “Urutan diantara dua Dalil”:

 

—————————————

Dalil yang memiliki sifat untuk diterima lebih banyak lebih daripada dalil yang memiliki sifat untuk diterima kurang darinya. —————————————

 

Syaikh Dr. Taqiyuddin An-Nabhani rahimahullah menyatakan di dalam Kitab Shakshiyyah Islam Juz I, di dalam Bab “Kekuatan Dalil”:

 

—————————————

Dari sisi tata tertib dalil, al-Kitab lebih kuat dari pada as-Sunnah, walaupun Sunnah tersebut mutawatir. Kemudian Sunnah yang mutawatir lebih kuat dari pada Ijma’. Dan Ijma’ yang disampaikan dengan metode mutawatir itu lebih kuat dari pada khabar ahad.

—————————————

 

Dengan demikian, mengamalkan sholat tepat pada waktunya adalah lebih kuat daripada sholat jama’ secara mutlak (tanpa rasa takut, hujan atau sebagai musafir). Hal ini lebih dianjurkan untuk terus menerus diamalkan dan diajar kepada keluarga dan putra-putri kita. Semoga, Allah Subhana wa Ta’ala menanamkan sifat istiqomah kepada kita untuk bersabar dan disiplin di dalam melaksanakan sholat lima waktu ini. Karena amalan inilah yang menentukan nasib hisab amalan kita di hari akhirat nanti.

 

Catatan: Mohon maaf, Penulis hanyalah meng-elaborasikan berbagai sumber tanpa menerjemahkan kitab-kitab diatas secara langsung, karena keterbatasan ilmu dan waktu penulis. Silahkan bertanya kepada yang lebih kompeten. Wallaahu a’lam bi-ash-showwab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s