Makalah: Hukum Memakan Sembelihan Orang Kafir

Standard

Oleh : Riyan Zahaf

Dalam memakan sembelihan, setidaknya terdapat tiga syarat yang mesti diperhatikan. Kekurangan terhadap syarat-syarat ini, dapat mengakibatkan makanan tersebut memiliki syubhat (keraguan) bahkan jatuh kepada yang haram. Syarat-syarat tersebut adalah:

1) Penyembelih adalah Orang Muslim atau Ahlul Kitab
Orang Kafir terbagi menjadi 2, yaitu Kafir Ahlul Kitab, dan Kafir Musyrikin. Kafir Ahlul Kitab adalah yang beragama Nasrani dan Yahudi. Sedangkan kafir Musyrikin adalah yang beragama Budha, Hindu, Ahmaddiyah, Kong-Hu Chu, Atheis, dan sebagainya.

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ
“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,”
[QS:Al Bayyinah(98), ayat 1]

Pada dasarnya, sembelihan ahlul Kitab adalah dihalalkan bagi kita (Muslim):
الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَنْ يَكْفُرْ
بِالإيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.”
[QS:Al Maidah(5), ayat 5]

Ibnu Abbas, Abu Umamah, Mujahid, Sa’id ibnu Jubair, Ikrimah, Atha, Al-Hasan, Mak-hul, Ibrahim An-Nakha’i, As-Saddi, dan Muoatil ibnu Hayyan mengatakan, yang dimaksud dengan makanan di sini adalah sembelihan mereka (orang-orang Ahli Kitab).

Masalah ini telah disepakati di kalangan para ulama, bahwa sesungguhnya sembelihan Ahli Kitab itu halal bagi kaum muslim, karena mereka pun mengharamkan sembelihan yang diperuntukkan bukan selain Allah dan dalam sembelihan mereka tidak disebutkan kecuali hanya nama Allah, sekalipun mereka erkeyakinan terhadap Allah hal-hal yang Allah Subhana wa ta’ala. Mahasuci lagi Mahaagung dari apa yang mereka katakan. [Tafsir Imam Ibnu Katsir]

Sedangkan, agama mayoritas penduduk Korea Selatan adalah:

Diperoleh dari : http://en.wikipedia.org/wiki/Religion_in_South_Korea
Atheis: 46.5%
Buddhism: 22.8%
Protestantism: 18.3%
Roman Catholic Curch: 10.9%
Other religions: 0.7%
Won Budhism: 0.3%
Confucianism: 0.2%
Cheondoism: 0.1%
Islam: 0.1%

Jumlah orang Islam dan ahlul Kitab adalah: 18.3 % + 10.9 % + 0.1 % = 29.3 %. Berarti,
lebih dari 70% penduduk yang sembelihannya haram untuk dimakan, karena penyembelihnya bukan Muslim atau Ahlul Kitab

2) Saat Menyembelih Wajib Menyebut Allah Subhana wa Ta’ala

Kaum muslimin diperintahkan untuk hanya memakan sembelihan yang disebut nama Allah subhana wa ta’ala ketika menyembelihnya, dan diharamkan bagi kita untuk memakan sembelihan yang tidak disebut nama allah subhana wa ta’ala ketika menyembelihnya:

وَلا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِعَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَلَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْأَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”
[QS:Al An’am(6), ayat 121]

Imam Ibnu Jarir Ath Thabari meriwayatkan dari ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Ibnu Abbas menafsirkan:

﴿وَلاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ﴾
“Janganlah kamu memakan sesuatu yang nama Allah subhana wa ta’ala tidak disebutkan ketika
menyembelihnya….

“Syaitan (semoga kita dilindungi Allah Subhana wa Ta’ala dari keburukannya) menginspirasikan kepada pendukung setia mereka, “Apakah kamu memakan dari yang kamu bunuh (sembelih), bukan dari apa yang karena Allah subhana wa ta’ala ia terbunuh (dengan tidak disembelih)?”.

As-Suddi mengatakan: “Beberapa orang kafir mengatakan kepada orang Muslim: “Kamu mengklaim
mencari Ridha Allah Subhana wa ta’ala. Tetapi kamu tidak memakan apa yang karena Allah subhana wa ta’ala ia terbunuh (dengan tidak disembeli), dan kamu memakan apa yang kamu sembelih!!”. Allah Subhana wa ta’ala mengatakan,

﴿وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ﴾
“Jika kamu mengikuti mereka”..

yaitu dengan memakan binatang yang mati (tidak disembelih secara Islami),

﴿إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ﴾
“Sesungguhnya kamu menjadi orang-orang Musyrik”.. [Tafsir Imam Ibnu Katsir]

Dengan demikian, memakan sembelihan binatang yang tidak disebut nama Allah subhana wa ta’ ala ketika menyembelihnya adalah perbuatan dosa. Dan apabila pelakunya menghalalkan perbuatan tersebut, maka dapat menyeretkan pelakunya kearah kemusyrikan (kekufuran).

3) Tata Cara Penyembelihan Harus Islami

Dan perlu difahami juga, bahwa tatacara penyembelihannya juga harus sesuai Islam, yaitu:
tidak ditusuk, tidak dibakar dengan api, tidak disengat oleh listrik, tetapi menggunakan pisau yang tajam, dan menggunakan cara yang baik.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالأزْلامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ…
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan…” [QS:Al Maidah(5):3]

Bahkan, ketika berburu pun, harus menggunakan tatacara berburu yang Islami. Yaitu dengan menyebut nama Allah sebelum melepas anjing pemburu, atau menggunakan senjata. Kemudian, meneliti sebab-sebab kematian dari hewan yang hendak dimakan. Apakah dikarenakan oleh anjing pemburu, atau senjata kita, ataukah karena sebab yang lain.

Dari ‘Adiy Ibnu Hatim Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Jika engkau melepaskan anjingmu (untuk berburu), maka sebutlah nama Allah padanya. Bila ia menangkap buruan untukmu dan engkau mendapatkannya masih hidup, maka sembelihlah. Bila engkau mendapatkannya telah mati dan anjing itu tidak memakannya sama sekali, maka makanlah. Bila engkau menemukan anjing lain selain anjingmu, sedang buruan itu telah mati, maka jangan engkau makan sebab engkau tidak mengetahui anjing mana yang membunuhnya. Apabila engkau melepaskan panahmu, sebutlah nama Allah. Bila engkau baru menemukan buruan itu setelah sehari dan tidak engkau temukan selain bekas panahmu, makanlah jika engkau mau. Jika engkau menemukannya tenggelam di dalam air, janganlah engkau memakannya.” [Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim].

Berdasarkan penuturan orang-orang yang terpercaya, penyembelihan dirumah potong hewan di Korea Selatan yang mayoritas tidak Islami, kebanyakan dilakukan dengan ditusuk, dipanaskan dengan air mendidih, atau disengat oleh listrik. Sehingga, berdasarkan analisis Qiyash (analogi), binatang yang mati dengan cara tersebut disamakan dengan binatang yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang tenggelam, yang telah dimakan binatang lainnya. Atau dengan kata lain disebut “Bangkai” karena semua cara tersebut bukan menggunakan cara disembelih ataupun tatacara berburu dengan menyebut nama Allah subhana wa ta’ala.

Di dalam Tafsir Imam Ibnu Katsir mengenai Surah al maidah, ayat ke 3 diatas dikemukakan:
“Allah Subhana wa ta’ala memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya melalui kalimat berita ini yang di dalamnya terkandung larangan memakan bangkai-bangkai yang diharamkan. Yaitu hewan yang mati dengan sendirinya tanpa melalui proses penyembelihan, juga tanpa melalui proses pemburuan. Hal ini tidak sekali-kali diharamkan, melainkan karena padanya terkandung mudarat (bahaya), mengingat darah pada hewan hewan tersebut masih tersekap di dalam tubuhnya; hal ini berbahaya bagi agama dan tubuh. Untuk itulah maka Allah Subhana wa Ta’ ala mengharamkannya”. [Tafsir Imam Ibnu Katsir]

Kesimpulan:
Berhati-hatilah kita untuk memakan sembelihan yang bukan sembelihan Islami, seperti halnya Ayam, daging Sapi, ataupun Binatang haram lainnya, seperti Babi, Anjing, binatang bertaring, dan lainnya. Larangan ini juga termasuk dengan penggunaan ekstrak atau pemanfaatan bagian tubuh dari binatang-binantang tersebut. Semoga Allah subhana wa Ta’ala Menyelamatkan kita dan melindungi kita dari keburukan makanan yang diharamkan.

Busan, 14 Maret 2010
Hamba Yang faqir dan Penuh Dosa

Abu Nabila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s