Imam AL Qurthuby (Rahimahullah), Mendukung Tegaknya Syariah dan Khilafah

Standard

Oleh : Riyan Zahaf

1. Pengantar

Menyambung tulisan sebelumnya, yang berjudul:

Dalil Yang Memerintahkan Mendirikan Khilafah

http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150201178920967

Maka, dikesempatan ini, penulis berusaha mengangkat tema yang secara khusus dibahas Imam al Qurthuby (Rahimahullah) ketika menjelaskan tafsir surah AL Baqarah ayat 30. Penjelasan beliau yang begitu panjang dan detil, menyinggung salah satu kewajiban dan pilar agama, yaitu mengangkat Imam atau Khalifah, yang menerapkan (Tanfidz) hukum-hukum Allah Subhana wa Ta’ala. Karena itu, jika ada kalangan Ulama kontemporer saat ini, yang masih menolak gagasan penegakan syariah dan khilafah, maka akan sangat berguna bagi mereka untuk merujuk penjelasan Imam Mufassir ini dan membandingkannya dengan penjelasan kitab Ajhizzah Daulah yang diterbitkan oleh HT, insyaAllah. Sehingga, kita dapat melihat dengan jernih ketertelusuran ide tentang urgensi penegakan syariah dan khilafah di dalam khazanah klasik Islam.

2. Isi Penafsiran beliau (Rahimahullah)Beliau menjelaskan tafsir surat Al Baqarah ayat 30.

Ayat itu adalah:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ 

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.[QS. 2:30]

 الرابعة

هذه الآية أصْلُ في نَصْبِ إمامٍ وخليفةٍ يُسْمع له ويُطاع  ، لتجتمع به الكلمةُ ، وتنفذ به آحكام الليفة ، ولا خلافَ في وجوب ذلك بين الاُمة ولا بين الأءمةإلاَّ ما روِيَ عن الأصمّ  حيث كان عن الشريعة أصمَّ ، وكزلك كلُّ م قل بقوله واتّبعه على رأيه ومذهبِه، قال: إنّها غير واجبةٍ في الدِّين ،بل يَسُوغُ ذلك، وإنَّ الاُمة متى اقاموا حَجّهم وجهادَهم، وتَناصَفُوا فيما بينهم، وبذلوا لحقّْ من انفسهم، وقَسَمُوا الغناءمَ والفَيْءَ والصّدَقاتُ على أهلها، وأقاموا الحدودَ على مَنْ وَحَبَتْ عليه،أجزأهم ذلك،  ولا يجبُ عليهم أن ينصبوا إماماً يتولَّى ذلك!!

Bagian ke IV.

ayat ini adalah utama (yang menjelaskan) nashbul imam (mengangkat) Imam dan khalifah untuk di dengar dan di ta’ati.  Untuk menyatukan  pendapat (kalimah) serta menerapkan (tanfidz) hukum Allah (subhana wa ta’ala). Dan tidak ada perbedaan (khilaf) atas kewajiban ini dikalangan ummat dan diantara para Imam, kecuali yang diriwayatkan dari Asham, yang menjadi syariat bagi Asham, dan orang yang berkata dengan apa yang dikatakannya, dan mengikuti pendapatnya (ra’yuhu) dan mazhabnya. Ia (Asham) berkata:Sesungguhnya (perkara mengangkat Imam) bukanlah kewajiban agama. Tetapi, pelengkapnya. Dan sesungguhnya ummat ketika menegakkan hujjah mereka dan jihad mereka, dan keadilan diantara mereka, dan memberikan hak dari diri mereka, dan membagi ghanimah dan Fa’i, dan bersedekah kepada ahli mereka, dan menegakkan hudud atas siapa saja yang diwajibkan atasnya, maka Allah subhana wa Ta’ala akan membalas (kebaikan atas) mereka. Dan tidak wajib bagi mereka untuk mengangkat imam untuk mengatur hal tersebut!! (Astagfirullah) 

      ودليلنا قول اللّه تعالى:إنّيِ جَا عِلُ فىِ آلاْ رْضِ خَليفَةَع، وقوله تعالى: يَدَاوُدُ إنَّا جَعَلْنَكَ خَلِيفَةً فىِ ألأْرْضِ، [ص: ٢٦ ]، وقال: وَعَدَ اَللّهُ اَلاَللَّهُ اَلَّذِينَ إَمَنُوْأ مِنْكُمْ وَغَمِلُوٰأ ألصَّلِحَتِ لَيَسْتَخْلِفَننَّحُمْ  فِى ألأرْضِ،   [النور:٥٥]، أي : يَجْعَلُ مِنْحم خَلِفا ءَ، إلى غير ذلك من الاَي

Dan kami (Imam Al Qurthuby) berdalil dari ayat Allah:”إنّيِ جَا عِلُ فىِ آلاْ رْضِ خَليفَةَ”Sesungguhnya Kami akan menjadikan di bumi seorang Khalifah:dan ayat Allah Subhana wa Ta’ala:يَدَاوُدُ إنَّا جَعَلْنَكَ خَلِيفَةً فىِ ألأْرْضِWahai Daud (Alaihis salam), Sesungguhnya Kami Menjadikan engkau sebagai Khalifah di bumi.dan ayat:وَعَدَ اَللّهُ اَلاَللَّهُ اَلَّذِينَ إَمَنُوْأ مِنْكُمْ وَغَمِلُوٰأ ألصَّلِحَتِ لَيَسْتَخْلِفَننَّحُمْ  فِى ألأرْضِAllah (Subhana wa Ta’ala) menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh diantara kamu untuk berkuasa dimuka bumi.

Yaitu berarti menjadikan dari mereka sebagai khalifah (خَلِفا ءَ)untuk selain mereka dari ayat tersebut.

وأجمعت الصّحا بةُ على تقديم الصَّدِّيق بعد أختلافِ قَعَ بين المحاجرين والأنصار في سقِيفة بني ساعِدَة في التعيين، حتى قالت الأنصار: منّا امير ومنكم اَمير، فدفعحمأبو بكر و عمرُ و المحاجرون عن ذلك، فرجعوا وأطاعوا لقريش، فلو كان فرضُ الإمامة غيرَ واجبِ لا في قريش ولا في غيرحم لما ساغت حذه المناظرةُ والمحا  ورةُ عليها،ولقال قا ءِل: إنّها ليست بو اجبهِ لا في قريش ولا في غيرحم، فما لتنازعهموجهً ولا فاءدة في أمرِ ليس بواجب، شم إنّّ الصّديقَ رضي اللّه عنه لمّا حضرته الو فاةُعَهِدَ إلى عمر في الإمامة،  ولم يقولُ  له أحدُ: هذا أمرُ غيرُ واجب علينا ولا عليك،فدلَّ على وجوبها، وأنَّها ركنّ من أركان الدّين الّذي به قِوام المسلمين،  والحمدُ للَّّه ربِّ العالمين.

Dan segolongan para shahabat mendahulukan Abu Bakar As-Shiddiq setelah berselisih diantara muhajirin dan anshor di Saqifah bani Sa’idah di dalam hal penunjukan, bahkan berkata dari kalangan Anshor: :”dari kami seorang pemimpin, dan dari kalian seorang pemimpin”. Abu Bakar dan Umar (radhiyallaahu anhuma) dan kalangan Muhajirin menolak hal yang demikian, (maka kaum anshar) menarik pendapatnya dan menta’ati kaum Qurays.   Maka, jika (mengangkat) Imam itu tidak wajib, bagi kalangan Qurays maupun kalangan selain Qurays, mengapa terjadi diskusi dan perdebatan terhadap perkara (imamah) tersebut??Maka, sungguh orang yang berkata:”Sesungguhnya (perkara imamah) bukanlah hal yang wajib bagi kalangan Qurays maupun selain Qurays”, maka perdebatan (dikalangan shahabat) tidak berfaidah di masalah yang bukan wajib. Kemudian, sesungguhnya Abu Bakar Shiddiq radhyiyallaahu anhu menjelang era wafat-nya beliau menunjuk Umar Radhiyallaahu anhu didalam kepemimpinan (Imam). Dan tidak ada yang mengatakan kepada (Abu Bakar radhiyallaahu ‘anhu):”wahai Umar (radhiyallaahu ‘anhu) tidak wajib bagi-mu dan bagiku”, maka menunjukan kewajiban Imamah tersebut. Dan sesungguhnya, (Imamah tersebut) adalah pilar dari pilar agama yang dengannya kekuatan Muslimin (terjaga).    

  

3. Penutup

 

Penulis menyadari bahwa penulis dan tulisan ini, masih banyak kelemahan dan kesalahan. Namun, dengan tulisan singkat ini dapat menggugah diri penulis dan kita semua untuk terikat dengan syariah dan memperjuangkannya. Karena hal tersebut merupakan kewajiban, dimana melalaikannya dapat jatuh berdosa. Astagfirullaah. Wallaahu a’lam bi-ash-showwaab.

4. Referensi

 

1) Tafsir Al Jami’u Lil Ahkamil Qur’an, Juz I, Hal 395-396, Imam Al Qurthuby

2) Aqwal Para Ulama Tentang Wajibnya Imamah (Khilafah), Hal 11-13, Al Ustadz Musthafa A Murtadlo

3) Penjelasan guru bahasa arab saya, Ustadz Yazun Bashir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s