Mengapa Menghindari Vaksin yang Haram

Standard

Oleh : Riyan Zahaf

Alhamdulillah, Huwalladzi arsala Rasulahu bil huda, wa anzhalal QUr’an, wal Furqan, wa shollawatu ala-an-nabii Shollallaahu ‘alaihi wa salam. Asyhadu Ala illaha ilallaah, wa asyhadu anna muhammad Rasulullah. :

         Dikesempatan kali ini, penulis berusaha memberikan ringkasan bagaimana pandangan syara’ yang diambil penulis terkait dengan penggunaan vaksin yang secara zat-nya adalah Haram. Tidak terkecuali pula, beberapa perbedaan pendapat dari Ulama dikemukakan penulis sebagai perbandingan dalam rangka memperkaya wawasan tentang Tsaqofah Islam di dalam urusan pengobatan dengan barang yang diharamkan. Tulisan ini menekankan pada point penting, sebagai anjuran Penulis untuk menghindari Vaksin yang jelas-jelas dari barang Haram, yaitu:

 

1) Aspek Syar’i Berobat dengan barang yang Haram

 

Dalil yang membolehkan:

bahwa ada orang-orang dari Ukl dan Urainah telah mendatangi Madinah menemui Nabi SAW dan mereka berbicara tentang Islam, lalu mereka berkata: wahai Nabi Allah sesungguhnya kami adalah penduduk padang rumput dan bukan penduduk tanah subur, mereka tidak menyukai untuk tinggal di Madinah karena sakit yang menimpa mereka, lalu Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam menyuruh mereka (untuk tinggal) dengan kawanan onta dan pengembala, dan beliau memerintahkan untuk keluar menuju tempat tersebut dan meminum susu serta air kencingnya“. [Al Bukhari]

 

Dalil yang melarang:

bahwa Thariq bin Suwaid Al Jukfi telah bertanya pada Nabi SAW tentang khamr, maka beliau melarangnya, atau beliau tidak menyukai untuk mempergunakannya. Maka Thariq bertanya: khamr tersebut saya gunakan untuk obat, maka beliaupun bersabda:” khamr itu bukanlah obat tapi khamr itu adalah penyakit“. [Muslim]

 

Dari Abi Darda’, dia berkata: bahwa Rasulullah SAW bersabda:

sesungguhnya Allah itu menurunkan penyakit dan obat, dan Allah Subhana wa Ta’ala menciptakan obat untuk setiap penyakit, maka berobatlah, tapi kalian jangan berobat dengan yang haram“.[Ahmad]

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan:

Tidak boleh berobat dengan khamr dan barang haram yang lain.

Sumber: http://fadhlihsan.wordpress.com/2011/08/04/hukum-berobat-dengan-barang-haram/

 

Di dalam kitab terjemahan Fathul Bari Juz II, dikemukakan penjelasan Hadist Bukhari tentang kencing Unta diatas dikemukakan:

Untuk itu Imam Bukhari menukil perbuatan Abu Musa ketika shalat di Darul Barid, karena tempat itu adalah tempat tambatan hewan yang ditunggangi. Demikian pula disebutkan hadist kaum Urainah secara khusus adalah untuk menyatakan bahwa air kencing unta adalah suci, sebagaimana beliau (Imam Bukhari) mengutip hadist tentang kandang kambing untuk mendukung pandangannya tersebut...”

 

Kemudian, Beliau (Imam Ibnu Hajar al Asqalani rahimahullah) menjelaskan:

Pandangan yang menyatakan bahwa air kencing hewan hukumnya suci merupakan pendapat Asy-Syabi, Ibnu Aliyah, Dawud dan Selain mereka…

 

Dikemukakan di dalam hadist Bukhari, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda tentang penghuni kubur:

لصا حب القبر كان لا يستتر من بوله ولم يذكر سوى بول النّاس

“ia tidak menutup diri dari kencing”, dan beliau tidak menyebutkan selain kencing manusia

 

Di dalam kitab terjemahan Fathul Bari Juz II pula dikemukakan:

Adapun hewan yang dimakan dagingnya maka tidak ada hujjah dalam hadist ini bagi mereka yang menganggap kencingnya adalah najis. Sementara bagi mereka yang mengatakan air kencing hewan yang dimakan dagingnya, adalah suci memiliki sejumlah dalil yang lain. Sementara Imam Al Qurthubi berkata, “Perkataan Imam Bukhari,من لبول (Dari kencing), adalah lafadz tunggal yang tidak memiliki makna umum. Andaikata tetap dikatakan bahwa lafadz tersebut mengandung makna umum, maka makna tersebut telah dibatasi oleh dalil-dalil yang menyatakan sucinya air kencing hewan yang dimakan dagingnya.

 

Kemudian, di dalam buku yang diterbitkan oleh HT yang berjudul “Problem Kontemporer Kedokteran / Some Problems of Contemporary In Islam Views (Terjemahan)” yang disusun oleh Syaikh Abdul Qadim Zallum hal 23:

Adapun status hukum syara’ atas embrio awal (blastosis) adalah nutfah (gumpalan darah), yang merupakan salah satu bentuk najis. Syariat Islam telah memperbolehkan penggunaan barang najis untuk kepentingan pengobatan atau perawatan medis.”

 

Qatadah meriwayatkan dan Anas (Rahimahullah) “bahwa orang-orang dan Uqul dan Urena datang kepada Rasulullah (Shallallaahu ‘alaihi wa Salam) dan berbicara kepada beliau mengenai Islam, sementara itu rakyat Madinah sedang menderita penyakit usus dan lambung (gastrointestinal), sehingga Rasulullah (Shallallaahu ‘alaihi wa Salam) memerintahkan mereka (orang-orang Uqul dan Urena) untuk melindungi diri mereka dari penyakit/wabah ini. Beliau memerintahkan mereka untuk pergi keluar Madinah dan meminum air seni dan air susu unta.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

 

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Rasulullah (Shallallaahu ‘alaihi wa Salam) telah membolehkan pemakaian dan konsumsi najis dalam rangka pengobatan atau perawatan medis. Bahkan hadits tersebut malah menunjukkan bahwa Rasulullah (Shallallaahu ‘alaihi wa Salam) memerintahkan beberapa orang yang berkunjung ke Madinah untuk melakukan tindakan preventif (bukan pengobatan maupun perawatan) melalui najis. Hal ini semakin mempertegas kebolehan penggunaan embrio tahap blastosis dan perspektif Syariat.”

 

 Pandangan Syaikh Abdul Qadim Zallum rahimahullah ini yang menyatakan hukum istihlal (halal) atas pengobatan dengan najis, sependek pengetahuan penulis, bukanlah termasuk pendapat yang di tabhani oleh HT. Pendapat yang lebih rajih (kuat) dan di tabhani oleh HT adalah apa yang dikemukakan oleh An-Nabhani rahimahullah yang menyatakan sebagai Makruh, sebagaimana yang diungkapkan beliau rahimahullah di dalam Shakshiyyah Juz III.

 

Dan (metode) memadukan hadits-hadist ini adalah bahwa hadits yang mengandung larangan berobat dengan barang najis dan yang diharamkan menununjuk pada hukum makruh; karena larangan itu merupakan tuntutan untuk meninggalkan, dan untuk menentukan apakah tuntutan tersebut merupakan tuntutan yang pasti atau tidak membutuhkan qarinah, maka ketika Rasul Shallallaahu ‘alaihi wa salam membolehkan berobat dengan barang najis dan yang diharamkan, ketika beliau melarang untuk berobat dengan keduanya, merupakan qarinah yang menunjukkan bahwa larangan beliau Shallallaahu ‘alaihi wa salam tersebut bukanlah larangan yang pasti, berarti larangan tersebut adalah makruh.”

 

Adapun, apabila dikaitkan dengan perkara dharuriyat (darurat) karena keterpaksaan (Ikrah), maka memakan barang yang haram diperbolehkan.

 

فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“…Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”[QS:5.3]

 

Dimana, Imam Ibnu Katsir rahimahullah di dalam Tafsir Al Qur’an Al Azhim mengutip hadist riwayat Imam Ahmad rahimahullah:

Wahai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam,, sesungguhnya kami berada pada suatu tempat dam kami mengalami kelaparan ditempat itu. Bilakah diperbolehkan bagi kami memakan bangkai di tempat itu? Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa salam menjawab, Bilamana kalian tidak mendapatkan untuk makan pagi dan tidak mendapatkan untuk makan di sore hari serta tidak memperoleh sayur-sayuran padanya, maka bangkai itu terserah kamu.”[HR. Ahmad]

 Hadist ini diriwayatkan munfarid (bersendirian atau ahad) oleh Imam Ahmad rahimahullah, tetapi sanadnya shohih sesuai syarat Syaikhain.

 

Jadi, darurat disini, yang lebih rajih adalah darurat yang dapat kematian, atau penderitaan yang sangat. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan An-Nabhani rahimahullah di dalam kitab Shakshiyyah Juz III:

Bahwa yang darurat-darurat itu adalah merupakan darurat-darurat yang maklum dari syariat,yaitu al-idhthi-raar al-mulji’u (pemaksaan yang sifatnya emergensi) yang dikhawatirkan akan menyebabkan kerusakan, kematian, dan itu terdapat pada firman-Nya Ta’ala:

 

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلا عَادٍ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah Subhana wa Ta’ala. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang‘[QS:2.173]

 

2) Hukum berobat dengan barang yang halal adalah Sunnah, bukan wajib

 

Di dalam kitab “Problem Kontemporer Kedokteran / Some Problems of Contemporary In Islam Views (Terjemahan)” yang disusun oleh Syaikh Abdul Qadim Zallum rahimahullah dikemukakan pandangan syara’ tentang hukum asal berobat, yaitu adalah sunnah (mandub).

 

Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Anas Radhiyallaahu Anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla setiap kali menciptakan penyakit, Dia ciptakan pula obatnya. Maka berobatlah kalian !”

 

Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Usamah bin Syuraik, dia berkata,”Aku pernah bersama Nabi, lalu datanglah orang-orang Arab Badui. Mereka berkata,’Wahai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam, bolehkah kami berobat ?’ Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam menjawab : “Ya. Hai hamba -hamba Allah, berobatlah kalian, sebab sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidaklah menciptakan penyakit kecuali menciptakan pula obat baginya…”

 

Dalam hadits pertama, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam telah memerintahkan untuk berobat sedang dalam hadits kedua, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam memberikan jawaban kepada orang- orang Arab Badui dengan membolehkan berobat, serta menyampaikan suatu perintah kepada para hamba Allah Subhana wa Ta’ala agar berobat, karena Allah Subhana wa Ta’ala tidaklah menciptakan suatu penyakit kecuali Dia ciptakan pula obatnya. Seruan dalam dua hadits di atas adalah berbentuk perintah, sedang perintah itu hanya memberi makna adanya tuntutan, tidak memberi makna adanya kewajiban, kecuali jika perintah itu bersifat pasti ( jazim). Adanya kepastian ini membutuhkan suatu indikasi (qarinah) yang menunjukkan adanya kepastian. Kenyataannya, dalam dua hadits di atas tidak ada satu indikasi pun yang menunjukkan makna wajib. Adapun ketiga hadits yang sebelumnya, hanyalah sekedar pemberitahuan dan petunjuk. Semua ini berarti bahwa tuntutan berobat dalam dua hadits di atas bukanlah perintah yang sifatnya wajib.

 

Selain itu, ada hadits -hadits lain yang menunjukkan bolehnya tidak berobat, yang menafikan perintah ke arah wajib pada dua hadits di atas. Imam Muslim meriwayatkan dari ‘Imran bin Hushain Radhiyallaahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Akan masuk surga dari kalangan umatku tujuh puluh ribu orang tanpa hisab.” Para shahabat bertanya,”Siapakah mereka itu wahai Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam?” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam menjawab,”Mereka itu adalah orang-orang yang tidak menggunakan dengan ruqyah (berobat dengan do’a-do’a), tidak bertathayyur (menyalahkan sesuatu pihak lain bila terkena kesialan/musibah), dan tidak menggunakan kay (berobat dengan menempelkan besi panas pada penyakit). Dan kepada Tuhan merekalah orang-orang itu bertawakkal.”

 

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, dia berkata : “Perempuan hitam ini pernah datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam lalu berkata,’Sesungguhnya aku terkena penyakit ayan dan sering tersingkap auratku (saat aku kambuh). Berdo’alah kepada Allah Subhana wa Ta’ala untuk kesembuhanku!’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam berkata,’Jika kamu mau, kamu bersabar dan akan mendapat surga. Jika tidak mau, aku akan berdoa kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar Dia menyembuhkanmu.’ Perempuan itu berkata,’Baiklah, aku akan bersabar,’ lalu dia berkata lagi,’Sesungguhnya auratku sering tersingkap (saat ayanku kambuh), maka berdo’alah kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar auratku tidak tersingkap.’ Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam lalu berdo’a untuknya.”

 

Dua hadits ini menunjukkan bolehnya tidak berobat. Pada hadits pertama, Rasulullah menerangkan sifat orang-orang yang akan masuk surga tanpa hisab, bahwa mereka itu tidak menggunakan ruqyah dan kay, yaitu maksudnya tidak berobat. Bahkan mereka menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan mereka, seraya bertawakkal kepada-Nya dalam seluruh urusan mereka.

 

 Dengan demikian, jika seseorang yang tidak berobat dengan hanya mengandalkan tawakkal kepada Allah Subhana wa Ta’ala, tidak bisa dikatakan berdosa, karena hukum berobat dengan yang halal itu sendiri adalah sunnah bukan fardhu (wajib). Lalu, bagaimana jika orang tersebut berobat tetapi membatasi hanya berobat dengan cara yang persis dicontohkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa salam seperti dengan madu, berbekam, dsb ditambah bertawakkal kepada Allah Subhana wa Ta’ala? Tentu saja, cara berobat yang demikian adalah lebih baik daripada tidak berobat sama sekali, dan juga tidak dapat dikatakan haram.

 

3) Ciri khas orang yang bertaqwa adalah menjauhi yang makruh

 

Secara syar’i, al-taqwâ didefinisikan sebagai penjagaan diri dari perbuatan dosa. Hal itu dilakukan dengan melaksanakan kewajiban dan meninggalkan larangan. Di samping itu, menurut al-Raghib al-Asfahani, juga disempurnakan dengan meninggalkan sebagian perkara mubah.”

http://hizbut-tahrir.or.id/2011/05/08/bertakwa-dan-berkata-benar/

 

 Dengan merenungi perkataan Syaikh al-Raghib al-Asfahani rahimahullah diatas, maka kita akan menyadari bahwa sebagian perkara yang mubah ditinggalkan oleh orang-orang yang bertaqwa. Lalu, bagaimana dengan perkara yang dimakruhkan? Tentu saja, ada lebih banyak perkara yang dimakruhkan yang akan ditinggalkan oleh orang yang bertaqwa.

 

4) Menjaga Iman adalah dengan menjauhi syubhat

 

Dari Nu’man bin basyir berkata,Saya mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda, ‘Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal musyabbihat (syubhat / samar, tidak jelas halal-haramnya), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia telah mensucikan kehormatan dan agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat, maka ia seperti penggembala di sekitar tanah larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya…

[Mutaffaq ‘alaihi, Hadist ke 6 di dalam hadist arbain an-nawawiyah]

 

Di dalam kitab syarah-nya (Al Imam An-Nawawi rahimahullah) mengungkapkan:

Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam:

Barangsiapa yang menjaga dari perkara-perkara yang syubhat, maka ia mensucikan agamanya dan kehormatannya”

maksudnya adalah mencari kebersihan agama dan menjauhkan diri dari syubhat. Adapun bersihnya kehormatan jika ia tidak meninggalkan syubhat maka orang-orang bodoh pasti menyerangnya dengan fitnah dan menuduhnya melakukan perbuatan yang haram, maka hal ini bisa menjadi penyebab mereka jatuh kedalam dosa.

 

 Sekali lagi, bila kita merenungi nasehat yang dalam pada hadist ini, tentang perkara “menjaga diri dari barang syubhat”, kemudian apabila kita membandingkannya dengan perkara “menjaga diri dari barang haram”, maka perkara “menjaga diri dari barang haram” adalah lebih utama lagi. Karena, zat syubhat itu belum jelas haramnya, sedangkan zat yang (memang) haram adalah haram, sehingga lebih utama lagi bagi kita untuk meninggalkan barang yang jelas-jelas haram. Seyogyanya, sikap itulah yang kita ambil terhadap Vaksin yang haram.

 

5) Tentang Konspirasi Kejahatan di bidang kedokteran, dikemukakan di majalah Al Wa’ie tahun 2008.

Dengan judul:

a. Asing Menguasai Industri Farmasi

b. Munarman, SH: Ada Grand Design Asing

c. Menkes RI : Pragmatisme dan Sekularisme Melanda Bangsa Ini

Penulis yakin, pembaca dapat merenungi isi dari artikel di AL Wa’ie ini untuk memahami skenario global Barat terhadap Umat Islam.

 

 Demikian pandangan penulis tentang Vaksin dari barang yang diharamkan. Semoga Allah Subhana wa Ta’ala Memaafkan kelengahan dan kebodohan Penulis, semoga Allah Subhana wa Ta’ala memberkahi ustadz-ustadz yang telah menerangi kita dengan Ilmu, aamiien. Allaahu a’lam bi-ash-showwab.

 

Subhanallah, wa-Alhamdulillah,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s