Membangun Islamic New Civilization melalui Dunia Cyber

Standard

Oleh : Riyan Zahaf

Alhamdulillah, Segala Puji bagi Allah Subhana wa Ta’ala dan Shalawat atas Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa salam, dan semoga keberkahan atas keluarga, ahlul bait, shahabat dan Tabi’in, serta pengikutnya hingga akhir zaman.

 

 Dunia internet dan Online telah menciptakan perkembangan baru bagi manusia di dalam berfikir, bertindak, berinteraksi dan barsosialisasi. Media ini telah menciptakan ekosistem baru yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan yang baik atau buruk. Hal ini, semestinya dapat dimanfaatkan oleh kaum muslim untuk menciptakan arus besar opini Islami untuk menghadang arus opini kebathilan, sekaligus untuk menciptakan peradaban (Civilization) yang Islami di dalam dunia Cyber. Hal-hal yang penting untuk mewujudkan peradaban tersebut, insyaAllah akan dibahas di dalam tulisan kali ini.

 

1) Peradaban (Hadharah)

Ialah Sekumpulan ide (mafahim) tentang kehidupan[1].

Peradaban bisa berupa peradaban spiritual ilahiyah (diniyah ilahiyyah) atau peradaban buatan manusia (wadl’iyyah basyariyyah). Peradaban spiritual ilahiyah lahir dari sebuah aqidah (dasar ideologi), seperti peradaban Islam yang lahir dari Aqidah Islamiyah. Sedangkan peradaban buatan manusia bisa lahir dari sebuah aqidah, seperti peradaban kapitalisme Barat, yang merupakan sekumpulan konsep tentang kehidupan yang muncul dari aqidah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan).

 

Selain itu, seseorang atau sekelompok manusia bisa jadi memeluk suatu agama sekaligus mengikuti aqidah tertentu, karena agama tersebut tidak memiliki konsep yang menyeluruh tentang kehidupan, seperti agama Nasrani atau Budha. Orang-orang tersebut menganut konsep-konsep kehidupan yang membentuk peradaban mereka, sekalipun konsep-konsep tersebut tidak berhubungan dengan agama mereka karena tidak lahir dari agama mereka. Dengan demikian, peradaban mereka bukan merupakan peradaban ilahiyah, sekalipun pada faktanya mereka memeluk suatu agama[2].

 

Inti: untuk membangun peradaban adalah dengan menyebarkan dan menerapkan ide (mafahim)

 

2) Peradaban yang Unik

Syara’ telah membedakan penyebutan Islam dengan Kafir, Iman dengan Kafir, ta’at dan maksiat[2]. Kaum muslimin banyak yang menyatakan bahwa kaum Nasrani dan kaum Yahudi adalah orang-orang Muslim, dan ada juga yang mengatakan bahwa penganut ketiga agama itu adalah umat yang beriman (mukmin) sekalipun ayat-ayat:

 

Orang-orang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, (yaitu) seorang rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (al-Quran). (TQS. al-Bayyinah [98]: 1-2),

 

Imam Ibnu Katsir rahimahullah ta’ala menjelaskan[3]:

Ayat tersebut (al Bayyinah 1~5)untuk orang ahlul kitab, yahudi dan Nasrani, dan orang-orang musyrik penyembah berhala maupun api, baik orang arab maupun orang ajam (non-arab). Mujahid berkata, “mereka tidak akan meninggalkan

﴿مُنفَكِّينَ﴾

Berarti mereka tidak akan meninggalkan agama mereka hingga kebenaran telah nyata bagi mereka. Qatadah juga menyatakan hal yang sama.

﴿حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ﴾

(hingga datang kepada mereka penjelasan (bayyinah), yang berarti Al Qur’an.

 

Dengan demikian, maka sesungguhnya mereka tergolong orang-orang yang kafir dan bukan termasuk orang-orang Muslim. Tidak diperbolehkan menyebut mereka sebagai muslim. Secara lughawi, Islam bermakna penyerahan diri (inqiyad), sedangkan menurut terminologi syariah, Islam bermakna diin yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa salam Kita diperbolehkan menyebut Islam dalam makna lughawi kepada nabi-nabi terdahulu beserta orang-orang yang mengimani dan mengikutinya, sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw. serta sebelum mereka menyimpangkan kitab-kitabnya. Namun kita tidak diperbolehkan menyebut mereka dengan sebutan itu setelah diutusnya Rasulullah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa salam. Jadi siapa pun yang tidak beriman kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam dan risalahnya adalah kafir, dan tidak diperbolehkan menyebut mereka sebagai muslim atau mukmin[2].

 

Inti: Kriteria peradaban Islami yang akan dibangun adalah berbeda secara total dengan peradaban orang-orang kafir dan ide jahiliyyah.

 

3) Peradaban Khayru Ummat

 

﴿كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

” Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah..”[QS:3.110]

 

Imam Ibnu katsir menjelaskan[3]:

Karena itu, siapapun diantara ummat ini yang memenuhi persyaratan ini, akan mendapat bagian kehormatan sebagai khayru ummah. Qatadah berkata, “Kami diberitahu bahwa Umar bin khatab membaca ayat ini saat Haji yang dia lakukan, ketika dia melihat orang-orang berlari. Beliau berkata, ‘Siapapun yang menyukai menjadi ummat yang diberkati (dimuliakan) ini, harus memenuhi persyaratan yang Allah tetapkan melalui ayat ini.Ibnu Jarir mencatat hal ini. Mereka yang berasal ummat yang tidak memenuhi persyaratan ini hanya akan menjadi orang ahlul kitab yang Allah kritik, sebagaimana dia menyampaikan:

﴿كَانُواْ لاَ يَتَنَـهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ﴾

“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat..[QS:5.79]

 

Inti: Peradaban Islami dapat dipenuhi oleh orang2 yang komitmen dalam keimanan dan amar ma’ruf nahi munkar

 

4) Sarana, contoh dan rambu-rambu

Sarana dakwah di dunia Online untuk menyebarkan opini umum tentang Islam sudah sangat banyak, mulai dari mailist, blog, Facebook, Twitter, dan Website Islami. Secara lebih detil, kita bisa memanfaatkan sarana dengan:

a. Terlibat dalam Taklim atau kajian Online
b. Melakukan download kitab-kitab Islami
c. Memposting tulisan Islami di mailist, di Blog atau Notes FaceBook
d. Mengupdate status di FB atau Twitter dengan nasehat dan dakwah
e. Menjauhi membuka situs atau link yang mengandung content Haram, seperti Pornografi dan opini Liberal.
f. Mengingatkan kepada Penguasa atau kepada yang memiliki kemampuan untuk menutup atau mencabut peluang akses ke situs yang mengandung content Haram tersebut, dengan catatan menghindari melakukan aksi hacking kepada situs2 tersebut.
g. Menolong atau melindungi situs-situs Islami dari serangan hacker
h. Dan lain-lain..

 

Untuk melakukan upaya dakwah cyber ini, hendaklah kita memperhatikan rambu-rambu tertentu sehingga upaya kita lakukan tetap berada di dalam koridor Islam dan berbuah pahala dari Allah Subhana wa Ta’ala. Rambu-rambu tersebut adalah:

 

a. Menjadikan kegiatan Islami utama kita adalah secara Off-line atau nyata, bukan Online

Islam memberi porsi yang lebih besar kepada urusan Offline. Ada banyak dalil, contohnya:

 

﴿وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلاً أَصْحَـبَ القَرْيَةِ إِذْ جَآءَهَا الْمُرْسَلُونَ – إِذْ أَرْسَلْنَآ إِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُواْ إِنَّآ إِلَيْكُمْ مُّرْسَلُونَ

Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka; (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu”. [QS:36.113~14]

 

“Inna Ilaikum mursalun” (sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu), dijelaskan di dalam tafsir Imam Ibnu Katsir rahimahullah sebagai berikut[3]:

Kalimat ini berarti, utusan dari Allah Subhana wa Ta’ala dan yang Memerintahkan kamu untuk beribadah kepada-Nya tanpa mempersekutukan-Nya. Hal ini adalah pandangan Abu al-Aliyah. Qatadah bin Di’mah menyatakan bahwa mereka adalah utusan dari Nabi Isa Alaihis Salam yang dikirim kepada penduduk Antioch.

 

 Dengan demikian, dakwah dilakukan dengan kontak yang intensif dan membawa maksud yang jelas, secara langsung ke objek yang akan di da’wahi, bukan melalui media internet (Online)

 

Dalil lainnya, adalah:

ومن سلك طریقا یلتمس فيه علما سهل الله له طریقا إلى الجنة،

“Barangsiapa yang melalui suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan mempermudahkan baginya suatu jalan menuju ke syurga.[HR. Bukhari]

 

Di dalam syarah hadist arbain an-nawawiy dikemukakan penjelasan[4]:

Di dalam hadist tersebut terdapat anjuran menuntut ilmu. Dikisahkan bahwa Allah Subhana wa Ta’ala Mewahyukan kepada nabi Daud Alaihis salam: “Ambillah tongkat besi, sepasang sandal besi, dan tuntutlah Ilmu hingga sepasang sandal besi tadi koyak dan tongkatnya hancur!”

Disini juga ada petunjuk untuk melayani para Ulama, mengikuti mereka, bepergian bersama mereka dan mengambil ilmu dari mereka.

 

Hal ini berarti menghadiri majelis, dan Halaqoh para Ulama adalah lebih utama daripada sekedar mendengar kajian di Internet, dan mendengar kajian di internet adalah lebih utama dari diam saja.

 

b. Menjauhi perdebatan kusir dan interaksi yang terlalu sering dengan lain jenis

 Seringkali, penulis menemukan bahwa perdebatan hanya menghasilkan solusi yang tidak jelas, dan cenderung saling menjatuhkan. Hal ini dapat menjadi perkara yang sia-sia. Lebih baik, kita menjauhi majelis yang seperti ini, meminta perlindungan kepada Allah Subhana wa Ta’ala, agar terhindar darinya.

 

بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم

“Cukuplah seseorang dikatakan jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim) .

 

Begitupula, saat berinteraksi dengan lawan jenis, maka kita berkwajiban menjaga hati, diri dan kehormatan. Hal ini dilakukan dengan membatasi interaksi diantara ikhwan dan akhwat.

 

 

Referensi:

1. Nizham al-Islam, Taqiyuddin An Nabhani.

2. Hatmiyah Shira’al Hadharah, Hizbut-Tahrir.

3. Terjemah Tafsir Ibnu Katsir, Penerpit Darus-Salam

4. Syarah Arba’in An-Nawawiyah, Al Imam An-Nawawi

 

Allaahu a’lam bi ash-showwab

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Al Faqir

Riyan Zahaf

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s