“Memahami Emosi Anak”

Standard

 

Oleh : Shinta Rini

(*) disampaikan dalam Kajian Muslimah Antar Negara (Mutiara), sabtu 20 Agustus 2011

Dalam suatu majelis Rasulullah saw mengingatkan para sahabat-sahabatnya, “Hormatilah anak-anakmu dan didiklah mereka. Allah SWT memberi rahmat kepada seseorang yang membantu anaknya sehingga sang anak dapat berbakti kepadanya.” Salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana cara membantu anakku sehingga ia dapat berbakti kepadaku?” Nabi Menjawab, “Menerima usahanya walaupun kecil, memaafkan kekeliruannya, tidak membebaninya dengan beban yang berat, dan tidak pula memakinya dengan makian yang melukai hatinya.” (HR Abu Daud) 

 Setiap orang tua pasti sangat mengharapkan memiliki anak-anak yang berperilaku baik, patuh kepada orang tua, dan pandai bersosialisasi. Harapan-harapan tersebut tentu akan mudah dicapai jika memang kita sebagai orang tua mampu membimbing anak untuk mewujudkannya. Lingkungan keluarga memiliki  pengaruh dan peran besar dalam pembentukan karakter anak. Lingkungan keluarga yang saling menyayangi, saling menghormati dan saling menghargai satu sama lain akan menciptakan kondisi yang memudahkan anak untuk berperilaku baik yang diharapkan oleh kedua orang tuanya. Saya akan sharing informasi dan pengalaman dengan teman-teman mutiara bagaimana caranya agar kita bisa mewujudkannya.

Kemampuan anak untuk bersosialisasi dan berperilaku baik sesuai dengan harapan orang tua dan lingkungan tidak terlepas dengan kemampuan anak untuk bisa mengkomunikasikan perasaannya (emosi). Mengapa emosi? Ya, ternyata emosi memiliki peran yang penting terhadap perkembangan anak, khususnya perkembangan sosial anak.

 Emosi merupakan bentuk komunikasi anak dengan orang lain. Melalui ekspresi emosi yang ditampilkan anak, maka seorang anak dapat memperlihatkan kebutuhannya, keinginannya, harapannya, dan perasaannya kepada orang lain, khususnya kepada orang tuanya. Anak yang memiliki ketegangan emosi, akan mempengaruhi keterampilan motorik anak, misalnya : ketika marah, anak menjadi susah menulis . Selain itu ketegangan emosi akan mempengaruhi kosentrasi dan daya ingatnya, misalnya : anak yang lagi kesal akan sulit untuk menghapalkan doa-doa pendek, sebaliknya anak yang sedang gembira akan mudah menghapalkan surat-surat pendek yang kita ajarkan.

Tingkahlaku emosi dipengaruhi oleh penilaian lingkungan sosial mengenai dirinya dan penilaian diri anak terhadap dirinya sendiri. Masih banyak orang tua yang mengkaitkan perasaan tidak menyenangkan (marah, menangis, iri) dengan watak anak yang buruk. Si adik yang iri dengan kakaknya, dianggap memiliki watak ’pencemburu’, sedangkan kakaknya yang berusaha mempertahankan barang yang dimilikinya akan dikatakan sebagai kakak yang tidak mau mengalah dengan adiknya (egois).

Selain itu orang tua kerap kali menyebut anaknya ’nakal’ karena sering merusak barang dan menyusahkan orang tuanya. Anak yang terus-menerus dikatakan nakal, akan semakin membuat anak memandang bahwa dirinya memang nakal (konsep diri). Ketika anak menilai dirinya sebagai ’anak nakal’, maka anak akan cenderung bertindak ’nakal’ karena anak menganggap bahwa dia melakukannya karena memang dia anak ’nakal’.

Segala emosi yang menyenangkan (senang, bangga, gembira) atau tidak menyenangkan (sedih, marah, iri, keewa, takut) akan mempengaruhi anak ketika melakukan interaksinya dengan lingkungan sosial. Seorang anak yang memiliki pemahaman mengenai ”apa yang sedang dia rasakan” akan memudahkan anak untuk mengenali perasaannya, mengatur perasaannya, menenangkan perasaannya, mengekspresikan perasaannya dengan tepat dan menyelesaikan sendiri masalahnya.

Pengulangan reaksi emosi anak yang ’berkembang’ ini akan menjadi kebiasaan dan menetap menjadi karakternya. Namun, kemampuan pengelolaan emosi setiap anak ini berbeda –beda, tergantung dengan usia, pola asuh orang tua, dan kondisi psikologis anak saat stimulasi emosi itu terjadi. Oleh karenanya, pengelolaan emosi anak harus terus dilatih.

Emosi biasanya dikaitkan dengan perasaan marah. Padahal bukan hanya itu, emosi merupakan perasaan seseorang yang ditujukan kepada orang lain atau terhadap sesuatu. Emosi pun dapat ditunjukkan ketika anak merasa senang pada sesuatu, anak marah kepada seseorang, anak terkejut karena sesuatu, ataupun anak takut terhadap sesuatu. Emosi anak pun mirip dengan orang dewasa, namun yang membedakan adalah cara berpikir mereka yang sederhana. Selain itu, anak juga belum mengerti perbedaan antara ‘mengalami’ perasaan dan mengekspresikannya  dengan tepat supaya bisa bertingkah laku mengendalikan emosinya.

Anak akan belajar mengekspresikan perasaannya, dari respon dan tanggapan yang diberikan orang tuanya. Seringkali orang tua sangat cepat ‘bereaksi’ terhadap ekspresi emosi anak dengan lansung memberikan nasehat, mengomeli bahkan tak sering malah memarahinya. Misalnya saat mengetahui anaknya bertengkar dengan adiknya, orang tua langsung buru-buru melerai dan menasehati anaknya. Anak yang mengeluh bahwa ia tidak suka sarapannya, biasanya langsung dinasehati agar segera menghabiskan makannya tanpa banyak mengeluh. Anak yang marah karena tiba-tiba  ibunya mematikan TV yang asyik dia tonton, langsung ibu balas memarahi anak karena terlalu lama menonton. Atau anak yang menangis karena berpisah dengan temannya, segera orang tua menyuruh anaknya berhenti menangis dan menasehati anak agar tidak bersedih lagi.

 Adakalanya tanggapan orang tua saat anak mengalami emosi, adalah kurang bisa menerima emosi tidak menyenangkan yang ditampilkan anak, misalnya : “sudah jangan nangis, anak sholeh itu gak cengeng lho ”, “ah masa gitu aja kamu nggak berani sih”, “sudah nggak usah dipikirkan, masa hilang mainan aja kamu nangis”, “kakak ngalah dong sama ade”, “kamu ini nakal banget, berani marah-marah sama ayah ya”, dll.

Seorang anak yang mengalami emosi yang tidak menyenangkan, akan memunculkan perasaan yang tidak nyaman di dalam dirinya. Perasaan ini akan mempengaruhi perilaku yang ditampilkan anak. Biasanya tampilan perilaku anak yang tampak dimata orang tua adalah perilaku yang dianggap ‘tidak baik’ oleh orang tua (misalnya : anak menangis, marah-marah, membentak, merusak barang). Respon orang tua yang menasehati anak atau memarahi anak hanya akan membuat anak semakin merasa tidak nyaman, malas berbicara dengan orang tua dan menghindari orang tua, atau makin menjadi-jadi emosinya.

Anak akan merasa ‘baik’ saat orang tua mau menerima emosinya, menghargai kondisinya dan memberikan respon yang tepat. Anak hanya ingin perasaannya ‘di akui’.Ketika kita dapat mengakui perasaannya, maka anak akan belajar mempercayai perasaannya, termasuk menjadi pandai mengatur emosi mereka dan menyelesaikan masalahnya. Pada saat kita berusaha untuk menerima emosinya mungkin membutuhkan beberapa menit untuk bisa membuat anak belajar ‘menenangkan’ perasaannya sendiri. Apabila anak sudah merasa ‘tenang’, anak akan lebih mudah untuk berfikir dengan jernih mengenai apa yang dirasakan, mengapa dia bisa mengalami perasaan itu, apa yang terjadi dengannya, dan bagaimana caranya agar dia bisa menyelesaikan masalahnya.

Kunci sukses untuk bisa melatih anak-anak supaya memiliki kemampuan mengkomunikasikan perasaannya (emosi) dengan tepat dan bijak adalah kita belajar berempati mendengarkan anak (Empathic Listening). Empati itu tidak sama dengan simpati. Simpati berarti “ feeling for someone” sedangkan empati adalah “feeling as someone”.

Di dalam empati, terdapat dua komponen penting yaitu : (1) affective empathy : kemampuan untuk mengidentifikasikan dan melabelkan perasaan anak. Disini kita bisa berupaya seolah-olah kita berada di posisi anak kita. Dengan merasakan apa yang dirasakan anak, maka kita akan lebih mudah untuk memahami perasaannya dan menghargai kondisinya.  (2) cognitive empathy : kemampuan untuk mengasumsikan sesuatu dari sudut pandang / perspektif anak. Dengan berempati, kita lebih mudah menerima pendapat anak dan usaha yang dilakukannya untuk menyelesaikan masalahnya.

Mendengarkan anak dengan empati (Empathic Listening), berarti kita menerima emosi anak dan memberikan respon yang tepat terhadap apa yang dirasakan anak. Menerima emosi anak, berarti kita menerima emosi apapun yang dirasakan anak saat itu dan memberi dia kesempatan untuk mengenali perasaannya sendiri.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua agar menjadi empathic listener terhadap anak-anaknya, yaitu : 1) menggunakan panca indra kita  untuk mengidentifikasi dan mengamati petunjuk dan isyarat fisik dari emosi anak (wajahnya, tangannya, suaranya, desahan napasnya) ; 2) menggunakan imajinasi kita untuk melihat situasi tersebut dari sudut pandang anak (membayangkan gimana ya rasanya kalau aku berada di posisi dia) ; 3) menggunakan kata-kata untuk merumuskan kembali dengan cara yang menenangkan dan tidak mengecam (merefleksikan kembali apa yang dirasakan anak dengan ungkapan yang tepat) ; 4)  membantu anak memberi nama emosi yang mereka rasakan tersebut, serta 5) menggunakan hati untuk merasakan apa yang sedang dirasakan oleh anak.

 

Contoh ibu yang tidak mendengarkan anak dengan empati :

Anak   : ”pensil merahku diambil orang, ma” (suara pelan, wajah menekuk kebawah)

Ibu      : ”Ah, bukannya kamu hilangkan?” (ibu nggak merasakan kalau anak lagi kesal)

Anak   : ”Nggak kok, waktu aku ke toilet masih ada di atas meja” (suara meninggi)

Ibu      : ” Lagian kamu, sih naruhnya sembarangan” (ibu langsung menilai anak ceroboh)

Anak   : diam saja.. (wajahnya cemberut, nafasnya berat)

Ibu      : ”Barang-barangmu diambil orang melulu. Sudah berapa kali, coba? Mama sering bilang,’coba simpan barang-barangmu di laci meja. Kamu sih nggak pernah perhatikan!” (ibu mulai menasehati anak dan sedikit mengomeli anak)

Anak   : ”Ah, mama rese! ” (wajahnya memerah, alis naik ke atas, nada suara tinggi)

Ibu      : ” Lho kok kamu malah marah sich !” (ibu terpancing untuk memarahi anak)

Contoh ibu yang mendengarkan anak dengan empati :

Anak   : ”pensil merahku diambil orang, ma” à perasaan anak pasti lagi kesel

Ibu      : ”oh kamu lagi kesal ya..” (sambil menatap mata anak)

Anak   : ”Padahal sebelum ke toilet, aku letakkan pensilnya di atas meja. Eh ada yang ngambil dech” (memperhatikan wajah dan bahasa tubuh anak yang lagi kesel)

Ibu      : ” hmmm kecewa banget ya kalo barang kita diambil orang..”

Anak   : ”sudah tiga kali pensilku diambil orang”

Ibu      : ”waduh..”

Anak   : ”aku tahu, mulai sekarang pensilku mau kusimpan di dalam laci meja”

Ibu      : ”nah, gitu dong kak” (sambil tersenyum)

Rasulullah berkata, “Siapa yang memiliki anak, hendaklah ia bermain bersamanya dan menjadi sepertinya. Siapa yang mengembirakan hati anaknya, maka ia bagaikan memerdekakan hamba sahaya. Siapa yang bergurau (bercanda) untuk menyenangkan hati anaknya, maka ia bagaikan menangis karena takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla” (HR Abu Daud dan At Tirmidzi)

Diskusi dan Tanya Jawab:

1. Bagaimana caranya mengatasi sifat takut ‘Joker’ pada seorang anak?

Jawab:

Usia anak-anak kerapkali memang mengalami rasa takut, dan perasaan takut terhadap sesuatu. Langkah awal adalah kita harus bisa menerima rasa takut anak. Setelah itu sebaiknya anak di ajak ngobrol dan ditanya, apa yang membuat ia takut terhadap ‘Joker’ (musuh Batman).Ketakutan anak akan badut Joker, kemungkinan karena wajahnya yang menakutkan (tokoh kejahatan) dan riasan wajah yang berlebihan. Dengan bercerita kepada orang tua, maka anak akan bisa mengelola rasa takutnya tanpa membuat anak fobia badut (Coulrophobia) hingga dewasa. Kita juga bisa share tentang rasa takut yang pernah kita alami, sehingga si anak merasa dihargai dan diakui ketika dia memiliki rasa takut. Seiring dengan pengalaman ibu dengan pengalaman takutnya dan bagaimana mengatasi rasa takut itu, maka si anak akan belajar dari pengalaman ibunya. Yang terpenting, kita memiliki cara yang tepat menghargai rasa takut pada anak, dan mengarahkan si anak untuk mengatasi rasa takutnya.

2. Beda empati (feeling as someone) dengan simpati(“feeling for someone) dari sisi contoh mbak?….nampak serupa tapi tak sama….

terus beda affective emphati dengan cognitive emphati, contoh realnya apa mbak?…bayangan saya, affective lebih mengarah ke sikap dan cognitive lebih ke pemahaman konsep.

Jawab:

Simpati: ketika kita menyukai seseorang , suka dengan kesolehannya misalnya atau kebaikannya dia,maka kita bersimpati terhadap orang tersebut. Saat kita menyukai kecerdasan dan kreatifitas anak kita, kita bersimpati dengannya.

Empati: kita merasakan apa yang dia rasakan, misalnya seorang anak senang karena mendapatkan pujian dari gurunya, kita ikut merasakan hal yang sama seperti apa yang anak rasakan. Saat anak sedih karena berpisah dengan teman yang disayanginya, kita bisa merasakan ‘rasa kehilangan’ yang dirasakan anak kita.

Ketika kita berempati dengan anak, ada dua proses yang terjadi,yaitu proses affective empathy dan cognitive empathy. cognitive empathy, kita bisa melihat perasaan dan kondisi anak melalui persepsi yang dipikirkan anak saat itu

sedangkan affective empathy kita bisa merasakan perasaan anak dan menerima apa yang dirasakan anak, seolah2 kita berada diposisi anak.

3. Mba saya menumbuhkan empati pada hubungan kakak adik sering qta jg luput… misalnya saat adiknya mencoret gambar kakaknya, mengambil makanan kakaknya, sering kemudian untuk menghindari, tidak ribut kita bilang ke kakaknya… “ga apa2 ya, mengalah ya”..

Jawab:

Si adik biasanya belum tahu konsep kepemilikan barang (jika menginginkan barang kakak, harus meminta izin terlebih dahulu) dan perlu ditanamkan mengenai konsep kepemilikan barang adik dan barang kakak. Sehingga penting untuk mengajarkan anak untuk meminta izin jika ingin menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. Kita juga perlu memberikan teladan kepada anak, jika ingin meminjam pulpen adik,maka juga ibu harus meminta izin kepada adik terlebih dahulu,

Meminta si kakak terus mengalah pada adik merupakan tindakan yang kurang tepat. Perasaan si kakak juga harus kita hargai, tindakan tepat sebaiknya kita mengarahkan si kakak bagaimana konsep berbagi, tanpa menyalahi perasaan kepemilikannya.

4. Apa keuntungnnya anak yang pinter memahami perasaannya? tumbuh jadi PD kah atau apa mbak?

Jawab:

Seorang anak yang bisa mengendalikan dan mengenali serta mengekspresikan emosi dengan tepat, akan berdampak pada kemampuannya di segala bidang, terutama dalam hal berteman. Dia akan disukai oleh teman2 dilingkungannya, akan mudah dalam bergaul juga akan mudah memberikan respon yang baik terhadap perasaan teman2nya, dan mengurangi konflik terhadap teman2nya,juga akan lebih fokus terhadap proses belajarnya. Dia juga akan mampu menenangkan dirinya sendiri, tanpa dibantu oleh orang lain.

5. Ada sebuah fakta, dimana seorang anak ketika kecil terlihat mampu memanage emosinya dengan baik, namun ketika menjelang remaja, semuanya tiba-tiba berubah, kelakuannyapun mengecewakan kedua orang tuanya. Nah, bagaimana menyikapi hal ini?

Jawab:

Melalui pendekatan psikologi, disarankan agar kedua orang tua si anak lebih ‘merangkul’ dan melakukan berbagai pendekatan, mulai dari menganalisa gejala-gejala yang terjadi, hingga mencari penyebab terjadinya perubahan yang terjadi secara drastis di anak. Ini memang memerlukan penanganan dan diskusi yang panjang, dan secara individual akan antara orang tua dan orang-orang terdekat anak, bahkan pihak-pihak yang mengerti psikologi si anak, akan bersama mencari jalan keluar dan mencari solsusi yang terbaik.

“Hanya masalahnya,kasus-kasus seperti ini tidak hanya dialami oleh satu atau beberapa keluarga, namun juga banyak keluarga. Kondisi dimana, ketika orang tua mengalami kekhawatiran, ketika anak hidup dalam lingkungan yang berbeda dengan pola asuh dan pola didik orang tua. Dengan kata lain, terhadap kondisi ini, diperlukan solusi tuntas yang mampu menyelesaikan permasalahan anak, tidak hanya dari sisi pendekatan psikologi pada akhirnya. Sesungguhnya, ada 3 pilar, yang setidaknya akan mampu mengatasi kegelisahan orang tua ketika dihadapkan pada hal ini, yang pertama orang tua hendaknya sejak dini menanamkan ketaqwaan individu terhadap anak, hingga akhirnya anak akan mampu ‘mengontrol’ dirinya. Ketaqwaan yang dimaksud disini adalah, bagaimana anak memiliki perasaan takut terhadap Tuhannya, kapanpun dan dimanapun. Disini diperlukan pembinaan aqidah dan tsaqofah Islam sejak dini, yang akan membentuk kepribadian si anak, menjadi kepribadian Islami, yang nantinya akan menjadi fondasi awal bagi anak ketika melangkah kefase hidup berikutnya. Selanjutnya adalah lingkungan yang mendukung perkembangan anak, lingkungan yang dimaksud disini tentunya bukan lingkungan yang rusak dan secara perlahan mengikis kepribadian anak, namun yang diharapkan sejatinya adalah lingkungan yang mendukung kepribadian anak, lingkungan yang khas, dimana masyarakatnya memiliki perasaan, pemikiran dan aturan yang sama, sehingga anak akan memiliki kontroling yang kuat, meski jauh dari kedua orang tuanya. Pilar yang ketiga adalah adanya dukungan dari negara, yang menerapkan hukum-hukum positif(baca:hukum-hukum yang berasal dari Allah sang pencipta), yang akan tegas mengatur perkara-perkara kriminal seperti pencurian, pembunuhan, narkoba dan berbagai perkara lain yang mengancam generasi muda(remaja)”.

5 responses »

  1. assalammualaikum mbak rita.anak sy berumur 6,5 laki2,,,saat ini dai klw dipanggil jarang untuk menyahut,dia suka menonto tv dan memainkan kan game di hp……….tp sisi lain dia bisa menghafal, mengingat dengan cepat. saat ini pula untuk berbicaranya masih kurang jelas….bagaimana sy harus menanganinya?terimakasih mba

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s